Willy Amrull: Adik Buya Hamka yang Jadi Pendeta
TERBARU , Tokoh 18:38
0
Shares

SejarahRI.com – Lelaki itu bernama Haji Abdul Karim Amrullah (1879-1945) dengan julukan “Haji Rasul”. Selain sebagai pemuka agama di Minangkabau, dia adalah salah satu pendiri Al-Munir (baca: majalah), yakni “jurnal Islam modernis yang pertama di Indonesia (terjemahan, Red),” tulis M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia Since C. 1200 (2001). Kiprahnya sebagai ulama tak diragukan. Pada 15 Januari 1919, dia mendirikan Sumatera Thawalib, sekolah Islam modern pertama di Indonesia atau “surau yang diubah menjadi madrasah berjenjang,” seperti yang dicatat Jajat Burhanudin dalam Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Politik Muslim dalam Sejarah Indonesia (2012).

Ketika istri pertamanya, Raihana meninggal di Mekkah, dia menikahi Safiyah yang tak lain adalah adik Raihana itu sendiri. Setelah hubungan itu berjalan cukup lama, pada 17 Februari 1908, mereka dikaruniai seorang putra. Anak sulung itu kelak tumbuh dewasa menjadi pribadi yang tak kalah ‘alim dibanding ayahnya. Yakni, Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981), penulis Tafsir Quran Al-Azhar itu. Orang-orang menyebutnya, “Hamka”.

Ketika berusia 19 tahun, Hamka punya adik baru, Abdul Wadud Karim Amrullah (kerap disingkat, Awka) yang tak seibu. Karena selain memperistri Safiyah, Haji Rasul juga menikahi Siti Hindun. Dari rahim perempuan inilah, saudara tiri Hamka itu dilahirkan. Ternyata beda ibu beda cerita. Kalau Hamka ketika dewasa menjadi ulama, Awka justru memilih jalan lain. Dia menjadi pendeta Kristen.

Awal Sebagai “Gembala”

Mulanya, dia sama seperti Hamka, tumbuh sebagai pribadi muslim yang taat dan patuh terhadap ajaran agama. Bahkan, ketika ayahnya, Haji Rasul hendak menghembuskan napas terakhir pada 2 Juni 1945, dialah orang yang menuntunnya untuk mambacakan syahadat. “Saya mengucapkan kalimat syahadat sebagai kata penghabisan dari saya untuk melepasnya,” kenang Awka dalam otobiografinya, Dari Subuh Hingga Malam: Perjalanan Seorang Putra Minang Mencari Jalan Kebenaran (2011).

Demikian pula tatkala ayahnya sedang sakit di masa senja, dia sering membantunya untuk melaksanakan ibadah salat. Mulai dari urusan wudhu hingga menghadap kiblat. Dia mengenang masa itu dalam otobiografinya, Sumatran Warrior (2016). Dia menulis, “Suatu ketika Ayah baru saja selesai berwudhu, saya kemudian membantunya menghadapkan badannya ke arah Qiblat.”

Kurang lebih empat tahun setelah ayahnya meninggal, Februari 1949 dia pergi merantau ke Rotterdam menggunakan kapal MS Willem Ruys yang berangkat dari pelabuhan Tanjung Priok. Di kapal tersebut, dia bekerja sebagai tukang binatu. Namun ketika sampai di Belanda, ternyata dia masih terus melanjutkan perjalanan. Agenda berikutnya, dia berpetualang ke berbagai penjuru negeri. Di antaranya adalah Amerika Selatan, Afrika, dan Amerika Serikat.

Di negara terakhir itulah dia memutuskan untuk menetap, tepatnya di daerah San Francisco, California. Setelah dua tahun tinggal di sana, dia mendapat kejutan berkenang. Pada 1952, Hamka, kakak tirinya yang sudah sekian lama tak jumpa itu, mengunjunginya. Tujuan kedatangan Hamka ke sana, selain untuk melepas rindu juga hendak mencarikan pekerjaan yang mapan bagi Awka. Berkat bantuan kakaknya, dia bisa bekerja pada lembaga Indonesia Supply Mission yang berada di New York dan kemudian di kantor Konsulat RI di San Francisco.

Hamka bercerita dalam Empat Bulan di Amerika (1953) kalau Awka di kalangan teman-temannya sudah akrab disapa Willy. Dia menulis, “Di Amerika, dipakainya nama ala Barat, Willy Amrull.” Di negeri rantau itu, Willy jatuh hati kepada salah seorang perempuan cantik, Sawitri yang tak lain adalah putri Duta Besar RI untuk Amerika, Ali Sastroamijoyo. Namun cintanya kandas lantaran Sastroamijoyo tak mersetui. Pada 1957, dia menikahi janda empat anak asli Amerika. Tapi lagi-lagi dia harus menerima kenyataan pahit. Pernikahannya dengan perempuan itu hanya bertahan selama 5 tahun.

Dia baru menikah lagi pada tahun 1970 dengan gadis blasteran Indonesia-Amerika, Vera Ellen George. Karena ingin menjadi istri Awka, perempuan itu ‘pun mau tak mau harus bersedia masuk Islam. Maklum, karena Awka adiknya Hamka, tokoh Islam yang suaranya sangat dipertimbangkan di kalangan muslim Indonesia. Di tahun yang sama (1970), pada bulan Desember Hamka menolak undangan Presiden Soeharto untuk menemui Paus Paulus VI yang lagi berkunjung ke Indonesia. Alasannya karena gereja gencar melakukan misionarisasi. “Bagaimana saya bisa bersilaturahmi sedangkan umat Islam dengan berbagai cara, bujukan dan rayuan, uang, beras, dimurtadkan oleh perintahnya?” kata Hamka sebagaimana ditulis ulang oleh Irfan Hamka dalam Ayah… Kisah Buya Hamka (2013).

Selain karena sebagai adik Hamka, Awka memang muslim yang taat. Sejak 1962 dia aktif dalam berbagai agenda religi yang dilaksanakan oleh Islamic Center di Los Angeles. Dan, pada tahun itu pula dia mendirikan Ikatan Masyarakat Indonesia (IM) di California. Namun siapa sangka, pernikahan dengan Vera kelak membawanya untuk mengubah haluan “arah kiblat”. Dari sinilah awal cerita dia menyelami agama Kristen.

Memang awalnya, Vera ikut agama Awka. Pada 1977, mereka pindah ke Bali. Di Pulau Dewata inilah mereka mulai meninggalkan Islam dan memeluk agama Kristen. Pada 1981, mereka pindah ke Jakarta dan tiga tahun berikutnya Awka resmi dibaptis oleh Pendeta Gerard Pinkston di Kebayoran Baru. Setelah dibaptis, di tahun itu pula, 1983, mereka pindah lagi ke Amerika Serikat. Di sana, dia diangkat sebagai pendeta di Gereja Pekabaran Injil Indonesia (GPII) di California. Sejak itulah dia sah menjadi “gembala”, istilah teologis dalam agama Kristen untuk para pengabar Injil.

Sebagai seorang gembala, dia tentu harus menyebarkan kabar kekristenan ke berbagai belahan dunia. Pada 1966, dia mendapat tugas untuk menyampaikan pesan Yesus kepada masyarakat Minangkabau. Namun misinya di sana berakhir sedih. Karena dia disangkutpautkan dengan “kasus Wawah”, gadis 17 tahun bernama Khairiah Enniswah (yang akrab disapa, Wawah) yang viral karena dianggap telah diculik untuk dikristenkan. Untuk menghindari ketegangan itu, Awka menghilang. Dia kabur ke Amerika untuk menyelamatkan diri. Sejak itu dia tak pernah pulang ke Indonesia dan meninggal di California, 25 Maret 2012.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs