Van Mook, Hoax, dan Agresi Militer Belanda di Indonesia
Peristiwa , TERBARU 22:18
0
Shares

Awal Agustus 1945, dua kota penting di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki luluh lantah akibat gempuran bom atom Amerika Serikat. Serangan yang menewaskan sedikitinya 129.000 penduduk itu melemahkan kekuatan Jepang pada Perang Dunia II, dan berakhir kalah. Berbagai negara jajahannya ‘pun dilepas untuk merdeka. Salah satunya adalah Indonesia.

17 Agustus 1945, Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia dengan membacakan naskah Proklamasi. Tak lama, datang tentara Belanda. Kedatangan mereka untuk merebut kembali kemerdekaan.

Berbagai peperangan ‘pun terjadi. Salah satu di antaranya yang paling heroik adalah peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Pertanyaannya adalah kenapa Belanda ingin kembali merebut kemerdekaan Indonesia? Ada apa dengan Belanda?

Ternyata, salah satu penyebabnya pentingnya adalah miscommuncation. Waktu Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya, dari pihak Belanda ada seorang tentara bernama Van Mook. Dia dipercaya sebagai Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda. Tugasnya adalah melaporkan segala hal terkait situasi dan kondisi Indonesia.

Sebagai orang yang dipercaya mengantongi informasi A-1, dia malah memberikan informasi keliru,“hoax.” Akibatnya ‘pun sangat fatal, baik bagi pihak Belanda maupun Indonesia sendiri. Ada empat bentuk hoax yang diproduksi Van Mook. Hoax itu ‘lah yang kemudian mengakibatkan pihak Belanda dan tentara sekutu lainnya terlibat pertempuran dahsyat dengan tentara Indonesia.

Pertama, Van Mook melaporkan kepada pemerintahan Belanda bahwa 17 Agustus 1945 bukan merupakan hari kemerdekaan RI, melainkan hanya sebagai pembentukan panitia kemerdekaan. Adapun kemerdekaan yang sebenarnya versi dia baru diproklamirkan pada 19 Agustus 1945.

Kedua, kemerdekaan Indonesia menurut laporan Van Mook bukan sebagai hasil jerih payah perjuangan bangsanya melainkan sebagai hadiah dari Jepang. Dia sama sekali mengabaikan perjuangan-perjuangan para pahlawan revolusi dengan menganggapnya hanya sebagai tangan kanan Jepang, akibat keterlibatan mereka ke dalam tentara PETA , Heiho (pembantu tentara Jepang), dan Keibodan (pembantu polisi Jepang). Padahal, kedekatan mereka dengan Jepang selama itu hanya merupakan strategi militer dan politik untuk mempersiapkan kemerdekaan di kemudian hari.

Ketiga, Van Mook semakin meyakinkan pemerintah Belanda dengan menyatakan bahwa Sang Proklamator Indonesia adalah Marsekal Terauchi, Panglima Tentara Jepang. Van Mook tak mengakui bahwa Sang Proklamator kemerdekaan RI waktu itu adalah Sukarno. Sukarno bagi dia hanya sebagai orang yang mendapatkan keberuntungan karena diberikan jabatan sebagai Presiden RI oleh Jepang.

Padahal, informasi semacam ini merupakan informasi yang palsu. Karena jauh-jauh hari Sukarno dan kawan-kawan perjuangannya sudah mempersiapkan kemerdekaan. Memang awalnya atas arahan pihak Jepang. Tetapi kemudian mereka—para Bapak Revolusi—menginisiasi sendiri terwujudnya kemerdekaan. Naskah Proklamasi ‘pun ditulis sendiri oleh Bung Karno sewaktu ada di Rengasdengklok.

Selain itu, Terauchi sendiri pernah menulis surat terkait info yang salah itu. Panglima Tentara Jepang itu menyatakan dalam suratnya bahwa proklamasi kemerdekaan RI itu yang benar adalah 17 Agustus 1945, Sukarno adalah sang proklamatornya, dan Indonesia merdeka bukan karena hadiah dari Jepang melainkan karena hasil perjuangan para pahlawannya.

Keempat, Van Mook menuduh kemerdekaan RI sama sekali tak mempertimbangkan azas demokrasi. Tuduhan letnan Belanda ini tentu tak berasalan. Karena kemerdekaan Indonesia justru sangat memperhatikan kemanusiaan dan demokrasi. Hal itu dapat dilihat pada konstitusinya.

Keempat informasi palsu tersebut oleh Van Mook disampaikan kepada pihak pemerintah Belanda. Berbagai surat dia layangkan.

Pada tanggal 20 dan 26 Agustus 1945, dua kali dia mengirim surat kepada Menteri Seberang Lautan Logemann. Pada 3 September 1945 kepada Panglima Sekutu di Asia Tenggara Mountbatten.

Dan, pada 5 September 1945, dia kembali mengirim surat kepada Menteri Seberang Lautan Logemann. Isi suratnya sebagai berikut, “kepada Mountbatten saya telah meminta agar mengeluarkan perintah, bahwa jangan sampai dikeluarkan pengakuan terhadap apa yang disebut RI dan pemerintahannya…”

Beberapa hari kemudian, Panglima Sekutu di Asia Tenggara Mountbatten mengirim surat kepada Kastaf Tentara Inggris yang berada di London. Sayang, tanggalnya tak terlacak. Surat itu berbunyi, “Van Mook minta kepada saya agar mengeluarkan petunjuk umum bahwa RI dengan pemerintahannya agar tidak diakui…”

Akibat informasi palsu yang disebarkan oleh Van Mook, pihak Indonesia, Belanda, dan Sekutu pun mengalami kerugian. Kerugian bagi Indonesia adalah kemerdekaannya terganggu. Sedangkan bagi pihak Belanda dan Sekutu membuang-buang biaya hanya untuk perang yang sama sekali tidak menguntungkan dan diluar agenda mereka.

Sebab, awalnya Belanda ingin kembali ke Indonesia setelah kepergian Jepang, tujuannya bukan untuk perang. Melainkan, untuk menyelamatkan tentara Belanda yang ditahan Jepang, gedung-gedung peninggalan Belanda, dan berbagai urusan politik lainnya. Yang seharusnya, dapat diselesaikan di meja perundingan, namun karena informasi yang diberikan itu memaksa pihak Belanda dan Sekutu bertindak agresif, akhirnya pertempuran dengan tentara Indonesia pun tak dapat dihindari. (Drs. Basuki Suwarno, Hubungan Indonesia-Belanda Periode 1945-1950, Pan Percetakan Upakara, Jakarta, 1999)




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id