Teori Kesadaran Peran: Al-Quran Perspektif Hikmah, Bukan Hitam-Putih Sejarah!
Serba-Serbi , TERBARU 17:18
0
Shares

Oleh: Mochamad Nur Arifin (Penulis Buku Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran)

Eksistensi siapapun yang saat ini bersentuhan dengan hawa politik Indonesia, pastilah bangkit dan ingin muncul, menunjukkan gagasan-gagasan argumentatifnya. Argumen yang saling berdiri di sudut masing-masing dan ketika berada di tengah, bukannya membaur tetapi adu jotos di dalam ring. Kesadaranku terhentak ketika seorang anak 15 tahun yang berprofesi sebagai dalang ditanya, siapakah tokoh wayang yang paling dibenci dan paling disukai. Dia menjawab bahwa tak ada hitam dan putih di dalam dunia wayang. Sengkuni yang saat ini sering ditunjuk-hidungkan kepada orang-orang “pembuat-onar” ‘pun punya jasa. Jika tak ada Sengkuni, tak ada cerita Mahabrata yang dahsyat, dan tidak muncul pahlawan bernama Pandawa.

Di dalam forum apapun, kita selalu akan terbakar jika diputar kembali ingatan kita. Dibakar kembali ingatan kita dengan cerita gilang-gemilangnya tokoh-tokoh sejarah masa lalu. Masa lalu seakan menyimpan kenangan dan romantisme heroik perjuangan tokoh, agama, dan bangsa-bangsa. Dan kita bebas mengutipnya untuk kepentingan dan konteks kita terkini. “Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu lebih besar kekuatannya dari mereka?” (QS. Fathir (35): 44)(1. Dari beberapa ayat yang menjelaskan tentang pentingnya mengambil ibrah atau pelajaran dari sejarah masa lalu, ayat ini saya nukil sebagai awal hipotesa pembahasan kita. Mengapa? Karena pada ayat sebelumnya, hukum roda sejarah yang pasti terulang di-taukid-kan, disebutkan bahwa, ”Tiada yang mereka nantikan melainkan ‘sunnah’ Allah yang berlaku pula pada orang-orang terdahulu, maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi ‘sunnah’ Allah” (QS. Fathir (35): 43)(2.

Sampai sejauh ini semuanya tampak hitam dan putih, bahwa hukum ketetapan sejarah pasti berlaku sesuai janji Tuhan. Apalagi Tuhan jelas menggambarkan bahwa umat terdahulu lebih besar kekuatannya (asyadda minhum quwwatan), dengan hikmah bahwa sekuat apapun kamu tidak akan dapat merubah hukumnya ketetapan sejarah. Jika saya mengatakan jangan sekali-kali merupakan sejarah(3, maka sampai di paragraf ini akan ada yang mengatakan saya dengan dalil sejarah bahwa saya pro kelompok tertentu. Dan menggunakan ayat-ayat Tuhan untuk membela kelompok saya, begitu juga sebaliknya. Semua terjadi karena kita saling menatap di sudut masing-masing.

Kelompok-kelompok yang saling menatap ini semua mengatakan punya niat “untuk tatanan masyarakat yang lebih baik”, bagaimana bisa dua kelompok yang ingin tatanan masyarakat lebih baik saling berhadapan dan “membusukkan” satu sama lain. Maka, pentingnya mengambil pelajaran dari sejarah agar semua teori sosial yang baik itu tidak menjadi ahistoris, agar tidak seperti yang diibaratkan oleh Peter Burke sebagai Dialog Si Tuli(4. Apa buktinya kita ini sudah mulai ahistoris? Kita ini katanya menjunjung persatuan dengan spirit Sumpah Pemuda, katanya kita ini benci devide et impera, tapi tidak sadar dalam berproses kita ini lebih mengkultuskan golongan dibanding persatuan.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Tan Malaka, saya katakan Teori Kesadaran Kelas(5 tidak relevan lagi dalam konteks Indonesia saat ini. Meskipun saya juga mengusulkan teori yang lebih pas yaitu Teori Kesadaran Peran, juga melalui sintesa dari massa aksi. Mengapa demikian? Tengoklah sejarahnya revolusi, selalu ada kontra antara borjuis intelektual versus feodalis, imperialis kapital versus proletar. Yang secara tidak sadar, kesadaran akan kasta-kasta itu sengaja pula diciptakan oleh sistem kolonialisme. Lihat bagaimana dan kenapa harus ada pecinan, kampung Arab, harus ada pembagian santri dan abangan. Ini semua untuk lebih mudah mengidentifikasi, dan untuk lebih mudah mendiversifikasi. Karena, perbedaan-perbedaan ini akhirnya suatu saat kita akan mudah disulut. Apakah logis menyulut sesuatu yang tidak berbeda?

Saya mengagumi hipotesis D.N. Aidit ketika mengatakan “tidak ada revolusi Indonesia, tanpa adanya revolusi tani”. Saya merasakan sendiri bagaimana kita ini dipaksa daulat pangan tetapi petaninya tidak berdaulat dengan indikator nilai tukar petani yang masih rendah, dan kepemilikan tanah yang semakin lama semakin kecil. Belum lagi diperparah dengan alih fungsi dan akses sarana prasarana usaha tani. Tetapi apakah juga layak Aidit memberi judul pada laporannya itu dengan kalimat “Kaum Tani Mengganjang Setan-setan Desa”(6. Disadari atau tidak, inilah akibat mengagung-agungkan kesadaran kelas, membuat setiap hari jiwa kita diliputi semangat menuntut, menuntut, menuntut, dan terus menuntut.

Sekarang tanyakan kepada hati kita masing-masing yang mengaku umat beragama. Lebih khusus kepada saudaraku yang beragama Islam. Di dalam iman kita, siapakah manusia-manusia terbaik? Nabi dan rasul! Apakah mereka menjadi manusia terbaik karena “merasa” paling benar di antara yang lain? Tidak! Banyak kisah sejarah yang bisa kita pelajari bahwa ditinggikan derajat nabi dan rasul bukan karena mereka tidak pernah bersalah, tetapi karena mereka selalu merasa bersalah dan rendah di hadapan Tuhannya (QS. Al-A’raaf (7): 23)(7. Mereka bukan pandai menuntut orang lain, melainkan menuntut diri mereka sendiri. Berbeda dengan kita yang selalu mengejar predikat terbaik dan terbenar.

Jika Adam seperti kita yang merasa paling benar, apakah bisa dibenarkan mendekati satu larangan dibanding banyaknya karunia di surga yang telah Tuhan sediakan untuk Adam? Lalu apakah kita merasa hina dengan Adam? Tidak! Lalu apakah kita akan mengatakan bodoh Nabi Nuh yang berdakwah 950 tahun dengan pengikut yang tidak seberapa? Apakah kita merasa para timses politik era saat ini lebih hebat dalam meraih simpati dan dakwah politik? Tidak!

Lalu apakah akan kita katakan bodoh seorang Nabi Luth dikarenakan tidak bisa mendidik istrinya agar menjadi istri yang solehah? Tidak! Lalu apakah kita juga akan mengatakan bahwa Nabi Yunus itu orang yang tidak bersabar ketika meninggalkan umatnya yang membangkang dengan marah-marah? Tidak! Lalu apakah kita akan membenci Nabi Musa yang mengatakan dirinya paling pandai kepada umatnya, sebelum diutus dirinya menemui Khidir as? Apakah juga kita akan mengatakan Nabi Musa itu kurang bersyukur ketika memaksa ingin melihat wajah Tuhannya padahal sudah diberi peringatan bahwa sekalipun tidak akan mampu? Tidak!(8

Saya sepakat dengan Buya Hamka ketika mengutip Socrates(9 bahwa, ”manusia adalah alam semesta yang kecil, sedangkan alam semesta adalah manusia yang besar”. Sadar atau tidak di dalam tubuh kita terjadi kematian dan kehidupan sebelum kita manusia itu mati. Ada sel jahat yang mati karena sel baik, ada bakteri jahat yang dibunuh bakteri baik. Perbaruan sel setiap waktu, revitalisasi organ setiap waktu karena adanya asupan yang baik, dan begitu sebaliknya. Jika yang buruk-buruk yang banyak berkuasa dalam badan kita, maka sel-sel kita rusak dan mati. Kiamat besarnya adalah dengan matinya tubuh ini pada akhirnya. Begitu pula dengan alam semesta ini, manusia itu ibarat sel-sel di dalam tubuhnya alam semesta, makin banyak kebaikan dan tidak berbuat kerusakan, makin baiklah alam semesta itu. Disinilah seperti yang dikatakan Buya Hamka kita sudah sampai pada maqam seorang filsuf atau menurut beliau sebagai penggemar hikmah.

Maka, mengambil pelajaran dan membaca sejarah adalah mengambil hikmah. Kepada seorang bajingan ‘pun kita dapat mengambil hikmah, seperti hadis fenomenal yang viral akhir-akhir ini, ‘pun hanya seorang pelacur bisa masuk surga karena satu keikhlasan amalnya. Hikmah apakah Indonesia saat ini? Bagiku…

Aku akan katakan berhenti menuntut, menuntut, dan menuntut. Aku akan katakan saat ini waktunya berperan, berperan, dan berperan. Revolusi bukan lagi seperti kata Bung Karno mendjebol dan membangun. Mohon maaf Bung, engkau mengatakan itu benar karena memang tanaman yang tumbuh di atas Indonesia ini adalah tanaman kolonialisme, warisan penjajah. Tetapi sejak engkau tanamkan bersama Bung Hatta benih kemerdekaan itu, maka jangan sampai bibit ketuhanannya, kemanusiannya, persatuannya, kebangsaannya, serta keadilan-sosialnya ikut dijebol, Bung. Maka, waktunya mengisi kemerdekaan ini dengan memupuk tanaman kemerdekaan itu agar tumbuh subur dan membuahi seluruh warganya. Meneduhkan setiap warganya, dan oksigennya menyegarkan tatanan dunia. Maka revolusiku adalah berperan dan membangun.

Perankan lakonmu sesuai keahlian karyamu di sudutmu, dan sadar serta yakinilah jika di Indonesia saat ini masih ada keburukan, maka di situlah kesempatan kita untuk menjadi pahlawan.

Referensi:

  1. Al-Mahalli, Imam Jalaludin dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi. (2014). Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul: Jilid 3. (terj. Bahrun Abubakar, L. C.) (Bandung: Sinar Baru Algensindo), hal. 1876.
  2. Al-Mahalli, Imam Jalaludin dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi. (2014). Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul: Jilid 3. (terj. Bahrun Abubakar, L. C.) (Bandung: Sinar Baru Algensindo), hal. 1876.
  3. Arifin, Mochamad Nur. (2017). Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran. (Jakarta: Penerbit Mizan), hal. 46.
  4. Burke, Peter. (2015). Sejarah dan Teori Sosial: Edisi Kedua. (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia), hal. 2.
  5. Malaka, Tan. (1962). Menuju Republik Indonesia. (Jakarta: Yayasan “Massa”).
  6. Aidit, D.N.. (1964). Kaum Tani Mengganjang Setan-setan Desa. (Jakarta: Yayasan “Pembaruan”)
  7. Al-Mahalli, Imam Jalaludin dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi. (2014). Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul: Jilid 3. (terj. Bahrun Abubakar, L. C.) (Bandung: Sinar Baru Algensindo), hal. 628.
  8. Katsir, Ibnu. (2009). Kisah Para Nabi: Terjemahan Kitab Qashashul Anbiya. (Riyadh: Kantor Dakwah Al-Sulay).
  9. Hamka. (2015). Falsafah Hidup. (Jakarta: Republika).



:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id