Tarjuman Al-Mustafid: Tafsir Quran Pertama di Nusantara
Serba-Serbi , TERBARU 22:22
0
Shares

Pada abad ke-17, Nusantara punya seorang ulama hebat. Namanya, Abdur Ra’uf bin Ali Al Jawi Al Fansuri As Singkili atau yang lebih dikenal dengan Abdur Ra’uf Singkel (1620-1693). Ulama jebolan Timur Tengah ini ahli di berbagai bidang disiplin pengetahuan Islam, seperti fikih dan tasawuf. Bahkan, dia adalah “Penulis tafsir berbahasa Melayu yang pertama di Nusantara ini,” kata Azyumardi Azra di TV Inspirasi.co.

Tafsir Quran karyanya itu diberi judul, Tarjuman Al-Mustafid. Menurut Ali Hasjmy dalam 59 Tahun Aceh Merdeka di bawah Pemerintahan Para Ratu (1977), karya tersebut ditulis oleh Singkili pada era Pemerintahan Sultanah Safiatuddin (1641-1675), Ratu perempuan Aceh yang merupakan putri tertua Sultan Iskandar Muda.

Isinya, bagi Snouck Hurgronje, merupakan terjemahan dari sebuah kitab Tafsir Baidhawi karya Al-Qadhi Al-Baidhawi (w. 1286), yang judul aslinya adalah Tafsir Al-Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil. “Kenyataan di atas ditegaskan oleh tulisan yang terdapat di atas kalimat pembuka ‘basmalah’ pada halaman naskah di atas, yaitu… (artinya, Red) ‘inilah tafsir al-baidhawi’. Sementara itu, di sampul naskah kitab edisi tersebut, juga terdapat tulisan sebagai berikut:

(Artinya, Red) ‘Turjuman al-Mustafid fi Tafsir al-Quran al-Majid yang diterjemahkan dengan bahasa Melayu yang diambil setengah ma;nanya daripada Tafsir al-Baidhawi,” tulis A. Ginanjar Sya’ban dalam artikelnya, Turjuman Al-Mustafid, Tafsir Karya Ulama Aceh Terbit di Turki yang dimuat di Nu.or.id (Jumat, 06 Mei 2016).

Namun menurut Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (1994), rujukan utama karya Singkili itu adalah tafsir Jalalain. Alasannya karena ditemukan geneologi keilmuan Singkili sampai kepada Jalaluddin Al-Suyuthi, penulis tafsir itu. Terlepas dari kontroversi ini, yang jelas Tarjuman Al-Mustafid merupakan karya luar biasa di masanya.

Buku ini pernah dicetak dan diterbitkan di Istanbul Turki pada tahun 1884 oleh Mathba’ah Al-‘Utsmaniyyah. Di Mekkah diterbitkan oleh Al-Amiriyyah. Selain itu, ia juga pernah diterbitkan oleh Sulaiman Al-Maraghi di Kairo, Mesir. Bahkan, berkali-kali pernah diterbitkan di Singapura, di Penang Malaysia, dan Bombay India. Kitab ini kali terakhir terbit pada 1984 di Jakarta.

Setelah lahirnya karya ini, produktivitas tafsir di kalangan ulama Nusantara mengalami kevakuman. Hampir tiga abad lamanya, tak ada tafsir baru yang dimunculkan. Baru pada abad ke-19, berbagai pernerjemahan dimulai. Namun masih belum sempurnah hanya hanya berbentuk naskah parafrase Quran berbahasa Makassar tanpa teks Arabnya.

Sejak tafsir Makassar tersebut, muncul sejumlah karya tafsir sederhana berbahasa Jawa. Salah satu contohnya, Kitab Alquran: Tetedhakanipun ing Tembung Arab Kajawekaken setebal 462 halanan yang ditulis dengan huruf pegon dicetak oleh Lange&Co Batavia pada 1858. Pegon, yakni bahasa Melayu atau bahasa Indonesia yang ditulis dengan aksara Arab,” tulis Agung Sasongko pada Tafsir Pertama Alquran di Nusantara (Republika.co.id, 21 Februari 2018).

Kemudian setelah itu, tampil seorang ulama asal Banten, Syeikh Nawawi Al-Bantani pada paruh kedua abad ke-19. Dia menulis Tafsir Marah Labid atau yang sering dikenal dengan Tafsir Munir. Pada tahun-tahun berikutnya, mufassir terus bermunculan hingga sekarang.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id