Tan Malaka dan Surat Wasiat Bung Karno di Malam Lebaran
TERBARU , Tokoh 20:49
0
Shares

SejarahRI.com – 9 September 1945, umat Muslim di Indonesia lagi berada di penghujung Ramadhan. Setelah matahari sempurna tenggelam, lantunan takbir di setiap pesantren, surau, dan masjid-masjid terdengar.

Malam itu, bisa dipastikan mereka sangat sibuk mempersiapkan segala hal untuk esok harinya. Sebab, Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1364 jatuh pada hari itu.

Namun tidak dengan Bung Karno. Di malam lebaran itu, dia belum sempat melarutkan diri dalam euforia hari raya. Sebab, dia masih sibuk mengurus negerinya yang baru saja merdeka. Malam itu, dia tak di Pegangsaan Timur (nama jalan rumah pribadinya). Namun sedang berada di rumah dokter pribadinya, dr. Soeharto.

Apa gerangan kunjungan ke sana? Rupanya dia hendak menyambut seorang tamu istimewa. “Sehari sebelumnya Soekarno minta dokter pribadinya agar menyediakan satu ruangan untuk menerima seorang tamu yang tidak disebutkan namanya,” tulis Harry A. Poeze, Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia (2008).

Setelah tamu itu datang, Bung Karno langsung mengajaknya masuk ke ruangan yang telah disediakan. Ruang tersebut sengaja digelapkan.

Dan, pertemuan itu ‘pun berlangsung secara rahasia. Sebab, Bung Karno tak mau ada mata-mata Jepang yang mengetahui pertemuan tersebut.

Siapa sih tamu istimewa itu? Ternyata, dia adalah Tan Malaka. Namun kepada dr. Soeharto, dia mengaku sebagai Abdul Razak dari Kalimantan.

Dia sengaja merahasikan nama aslinya. Hanya Bung Karno yang diperbolehkan mengetahui identitas dirinya.

Dalam kesempatan itu, Bung Karno mengeluarkan pernyataan penting. “Kalau saja tiada berdaja lagi, maka kelak pimpinan revolusi akan saja serahkan kepada saudara,” kata Bung Karno kepada Tan.

Loyalitas Bung Karno kepada Tan memang diakui. Dia menganggap Tan sebagai guru. Lantaran sejak masih muda, Bung Karno sering membaca karya-karya Tan.

Setelah itu, pertemuan kedua berlangsung di rumah pemimpin Barisan Pelopor, Moewardi di Jalan Mampang, Jakarta. Pertemuan ini ‘pun berlangsung rahasia dan lagi-lagi Bung Karno mengulangi pernyataan di awal.

Namun, Tan tak terlalu memberi respon. Dia hanya bilang, “Usul memimpin revolusi tadi saya anggap sebagai satu kehormatan saja dan sebagai tanda kepercayaan dan penghargaan Bung Karno kepada saya belaka.”

Kemudian pertemuan itu dia bocorkan kepada Soebardjo. Mendapat berita ini, Soebardjo langsung meminta Bung Karno menulis pernyataannya sebagai testamen politik resmi.

Bung Karno melakukan itu semua karena berita yang berkembang, pemerintahan Indonesia yang baru merdeka akan kembali direbut Belanda. Dari itu, bila nanti dirinya gagal sebagai presiden, Bung Karno ingin Tan yang menggantikan posisi ini.

Pada 30 September tahun yang sama, Bung Karno membuat testamen politik resmi yang dijanjikan itu. Setelah selesai dibuat, Bung Karno dan Soebardjo menemui Hatta untuk minta persetujuan.

Tapi Hatta tak setuju bila hanya Tan sebagai penggantinya. Karena bisa menimbulkan konflik internal bangsa. Dari itu, dia menawarkan empat tokoh senior dari berbagai aliran. Di antaranya, Tan Malaka (aliran kiri), Sjahrir (kiri tengah), Wongsonegoro (kanan-feodal), dan Soekiman (Islam).

Untuk merealisasikan usulan tersebut, pada 1 Oktober 1945, pertemuan kembali di gelar di rumah Soebardjo. Tapi Sjahrir, Soekiman, dan Wongsonegoro berhalangan hadir.

Lantaran sudah dihubungi, Soekiman diganti oleh Iwa Kusumasumantri. Pemilihan Iwa didasarkan pada alasan karena dianggap dekat dengan Soekiman di Masyumi.

Mereka yang menandatangi naskah tersebut adalah Soekarno dan Hatta. Orang yang mengetiknya adalah Soebardjo. Testamen ‘pun akhirnya dibuat tanpa keterlibatan Sjahrir dan Wongsonegoro.

Namun meski demikian, Bung Karno dan Hatta ingin supaya kedua orang itu juga mengetahui testamen tersebut. Maka disuruhlah Soebardjo untuk mengantarkan surat wasiat itu kepada Sjahrir dan Wongsonegoro.

Tapi belakangan diketahui Soebardjo tak melaksanakan tugas. Dia tak mengantarkan tetamen itu kepada mereka. Sehingga mereka tak mendapat naskah asli tetamen itu.

Di samping menandatangi surat itu, Hatta juga menyuruh Tan untuk keliling Jawa supaya dapat dikenal oleh publik luas. Sebab, bagaimana mungkin orang yang sedang dicanangkan sebagai pengganti Bung Karno tak populer.

Mendapat saran dari Hatta, Tan langsung menyetujui. Dia pergi keliling Jawa. Tapi di tengah perjalanan, Tan menemukan testamen palsu sudah beredar.

Dalam naskah tiruan itu dinyatakan bahwa hanya Tan ‘lah satu-satunya orang yang akan menggantikan Bung Karno. Dia sendiri tak paham siapa pembuat dan pengedarnya. Yang jelas, itu merupakan propaganda politik “gelap”.

Beberapa tahun kemudian, 21 Februari 1949 Tan ditembak pasukan Letda Sukotjo. Dia akhirnya meninggal. Dan setelah itu, testamen tersebut tak lagi jadi perbincangan.

Bahkan, Bung Karno ‘pun pada tahun 1964 merobek dan membakar testamen itu. Proses pemusnahan itu disaksikan oleh beberapa kalangan. Di antaranya, Aidit, SK Trimurti, dan Syamsu Harya Udaya, elit Partai Murba yang sempat menjaga doment naskah penting itu.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id