Supersemar dan Keroncong Bung Karno
Serba-Serbi , TERBARU 16:22
0
Shares

Sejak Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) lahir, Bung Karno bukan hanya kehilangan “taring politiknya”. Tapi juga cerita hidupnya berubah. Kendali negara diambil alih Suharto. Bung Karno tak lagi sibuk seperti semula.

Dia hanya diam di Istana Bogor bersama istrinya, Ny. Hartini. Teman-temannya yang dulu dekat ‘pun menjauh. Bahkan, ada yang ikutan mengutuknya. Bung Karno kesepian.

Karena tak ingin larut sedih, dia menghibur diri. Dia berencana menggelar pertunjukan seni. Pengawal peribadinya yang masih setia, Bambang Widjanarko dipanggil. Bung Karno menyuruh dia untuk merealisasikan rencananya.

Ajudan itu berangkat memanggil seniman-seniman keroncong yang ada di Bogor dan Jakarta. Bambang meminta mereka supaya bersedia mengisi acara pentas musik pada Malam Minggu (tanggalnya tak tercatat). Para seniman itu menyanggupi.

Setelah hari “H” tiba, pentas keroncong digelar. Para seniman berdatangan. Pagelaran itu dimpimpin oleh seorang seniman bernama Achmad. Bung Karno terlihat riang. Wajahnya yang “kuncup pucat” tak lagi terlihat. Dia memang orang yang sangat menyukai musik keroncong.

Lagu-lagu yang diputar di antaranya adalah Sapu Lidi, Muritsku, Bunga Mawar, dan lain-lain. Maklum, Sukarno memang lebih menyukai keroncong asli daripada lagu-lagu langgam yang “dikroncongkan”.

Malam semakin larut. Alunan musik keroncong di istana melengkapi suasana Bogor yang hening dan dingin. Bung Karno benar-benar menikmati pertunjukan. Sampai-sampai dia meminta Achmad, ketua pagelaran itu supaya memainkan musik keroncong tahun 30-an.

Bung Karno bernostalgia. Lewat keroncong, dia ingin kembali ke masa-masa revolusi. Permintaan Bung Karno ‘pun dituruti. Ahmach, Bung Karno dan para kru panggung berusaha keras menggali lagu-lagu lawas era 30-an.

Setelah ketemu, lagu-lagu itu disesuaikan dengan alat musik yang ada, lalu dimainkan. Di antaranya adalah Tangis Sukanto, Nanas Bogor, Jangan Duka, dan Anak Pangeran. Berkat “Malam Keroncong,” lagu-lagu tersebut kembali populer.

Karena tertarik terhadap pementasan itu, Bung Karno meminta supaya Malam Keroncong diadakan setiap dua minggu sekali di Istana Bogor. Pentas itu tak digelar lagi ketika Bung Karno harus meninggalkan istana.

Itu lah sisi lain dari kisah Bung Karno di “Kala Senja,” istilah yang diberikan Bambang Widjanarko dalam bukunya, Sewindu Dekat Bung Karno (1988).

Dari Oktober 1965 sampai April 1967, dapat saya ibaratkan sebagai kala senja bagi perjalanan hidup Bung Karno. Andaikan hari, waktu telah menjelang pukul 16.00 sore. Terik panas memang amat terasa, namun sebentar lagi sang surya akan terus menurun yang akhirnya nanti akan tenggelam masuk peraduan,” tulis Bambang.

Ternyata, meski berada di ambang kekalahan, Bung Karno masih sempat menghibur diri. Itu yang selalu menarik darinya. Selalu ada sisi lain yang “unik.”




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs