Supersemar dan Kejanggalan Versi Soekardjo
Peristiwa , TERBARU 13:25
0
Shares

30 Agustus 1998, Media Indonesia memuat kisah baru tentang “Supersemar” yang dianggap misterius selama ini. Laporan itu berjudul, “Pistol Untuk Supersemar,” sebagai kesaksian dari seorang Letda (Inf) Soekardjo Wilardjito, salah satu anggota Resimen Cakrabirawa pengawal Sukarno.

Berdasarkan penuturan yang dia sampaikan, ada empat poin utama. Pertama, tentara yang datang ke Istana Bogor 11 Maret 1966 berjumlah 4 orang. Mereka adalah Mayjen TNI Basuki Rachmat, Mayjen TNI Amir Machmud, Brigjen TNI M. Yusuf, dan Mayjen TNI Maraden Panggabean. Yang baru dari versi ini dibandingkan dengan versi-versi sebelumnya adalah adanya tambahan Maraden Panggabean.

Kedua, kedatangan mereka memaksa Sukarno untuk menandatangai Supersemar. Dua orang di antara mereka, Basuki dan Panggabean menodongkan pistol. Satu orang menyodorkan Supersemar yang telah dirancang. Dan, satunya lagi hanya menyaksikan.

Ketiga, naskah Supersemar sudah dipersiapkan dan dibungkus dalam map berwarna merah. Sukarno tinggal menandatanginya saja. Keempat, waktu kejadian itu berlangsung pada pukul 01.00.

Di antara empat poin itu, ada satu poin yang paling kontroversial. Apakah betul Sukarno ditodong pistol saat menandatangani Supersemar? Banyak yang membantahnya. Tak sedikit orang yang meragukan bahwa peristiwa penodongan pistol pernah terjadi sebagaimana kisah yang dituturkan Soekardjo.

Sebenarnya orang itu (maksudnya, Soekardjo) hanya berfantasi saja...” Tutur sejarawan Ongokham dalam Simpati, 13 September 1998. Letjen (Purn) Bambang Triantoro ‘pun berkata begini, “kalau analisa saya begini. Bagaimana bisa seorang letnan meskipun dia pengawal Presiden berada bersama-sama dengan empat orang petinggi seperti Bung Karno dan tiga jenderal itu?” Sebab, pangkat Soekardjo waktu itu hanya letnan.

Kejanggalan lain pula yang ditemukan adalah Istana Bogor bukan perumahan biasa. Dalam istana tersebut memiliki banyak penjaga yang waktu itu dikenal dengan Resimen Cakrabirawa, pasukan pengawal resmi presiden.

Adapun susunan penugasan Resimen Cakrabirawa waktu itu seperti ini. Ring 1 ada Detasemen Kawal Pribadi (DKP). Seluruh anggotanya diambil dari Corps Brigade Mobil (Brimob) Polri. Ring 2, Detasemen Pengamanan Chusus (DPC). Satuan ini diisi oleh Corps Polisi Militer (CPM) AD.

Di Ring 3, ada Kawal Kehormatan (KK). Anggotanya dari tiap-tiap angkatan satu Batalyon: Yon I dari AD; Yon II dari AL; Yon III dari Udara (Kopasgat); dan Yon IV dari Kepolisian Brimob. Yang dinas di Istana Bogor adalah Yon III dan Yon IV (Kontroversi Supersemar, 2006).

Ketatnya penjagaan yang dilakukan oleh para anggota Cakrabirawa membuat kesaksian Soekardjo semakin diragukan. Karena tak mungkin empat tentara itu langsung menerobos penjagaan dengan membawa senjata untuk menemui Sukarno.

Tapi walaupun sudah diterima akal, kesaksian Soekardjo diperkuat oleh dua orang lain yang sama-sama mantan Cakrabirawa. Mereka adalah Rian Ismail pada Harian Bernas, 1 September 1998 dan Kaswadi dalam Media Indonesia, 6 September 1998.

Mereka sama seperti Soekardjo menyaksikan adanya pasukan RPKAD dan KOSTRAD yang masuk ke Istana pada pukul 01.00 11 Maret 1966. Yakni, setelah empat orang tentara itu selesai meminta Sukarno menandatangi Supersemar.

Ketika selesai tanda tangan, Sukarno langsung pergi naik helikopter ke Jakarta. Nah, saat itu pasukan RPKAD masuk lalu menangkapi berbagai anggota Cakrabirawa. Salah satunya adalah Soekardjo.

Namun sampai sekarang versi mana yang paling benar, masih menjadi perdebatan. Yang jelas Supersemar sudah berlalu, dan ia penting untuk dijadikan sebagai bahan renungan Indonesia ke depan.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id