Siapa “Minke” Asli dalam Novel Pram?
Serba-Serbi , TERBARU 15:37
0
Shares

SejarahRI.com  Kalau membaca karya-karya Pram, Tertalogi Buru (yang terdiri dari: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), pasti menjumpai nama “Minke”. Itu adalah nama karakter yang diangkat.

Namun, meski nama tersebut fiktif, ternyata Pram mengambil inspirasinya dari seorang tokoh yang benar-benar nyata. “Pram mengangkat sepak terjang tokoh kelahiran Blora, Jawa Tengah, yang digelari Bapak Pers Nasional, yaitu Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (1880-1918)” tulis Merdeka.com.

Dalam karya yang dia tulis selama masa pengasingan di Pulau Buru (1969-1979) itu, Pram mengangkat cerita Tirto dengan memberi nama Minke. Tirto ini sebenarnya adalah seorang lelaki yang berasal dari kalangan bangsawan. Namun Pram menggambarkan dalam karakter Minke sebagai pria tangguh yang berjuang dari bawah dalam usaha mengangkat harkat martabat bangsanya.

Tirto

Dia adalah tokoh pers nasional. Kiprahnya dalam dunia jurnalisme sangat berpengaruh. Menurut Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak (1997) Tirto adalah bumiputra pertama berhasil melakukan propaganda melalui media massa.

Ada tiga media besar yang pernah dia dirikan. Yakni, surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Melalui media-media ini, Tirto memperjuangkan bangsanya. Pada tahun 1952, Ki Hajar Dewantara sempat mencatat siapa sebenarnya Tirto dalam buku kenang-kenangannya.

Kira-kira pada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang ia pegang. Yaitu almarhum R.M. Djokomono, kemudian bernama Tirtohadisoerjo, bekas murid STOVIA yang waktu itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian bernama Berita Betawi) lalu memimpin Medan Prijaji dan Soeloeh Pengadilan. Ia boleh disebut pelopor dalam lapangan journalistik,” tulisnya sebagaimana terekam dalam Boedi Oetomo: Awal Bangkitnya Kesadaran Bangsa (2008).

Kelak pada 1973, Tirto dikukuhkan oleh pemerintah sebagai Bapak Pers Nasional. Sebenarnya, selain sebagai Bapak Pers, dia juga merupakan pahlawan nasional. Gelar itu, dia dapatkan pada 2006 melalui Keppres RI no 85/TK/2006 pada tanggal 3 November 2006.

Karena disamping aktif mengurus media, saat masa perjuangan dia tampil sebagai pahlawan yang tanpa kenal menyerah. Sebab, dia tak hanya menjadikan media sebagai wadah menulis saja. Namun, yang namanya media bagi dia harus dijadikan sebagai alat propaganda.

Dan itu terbukti, dia sering mengecam Belanda melalui tulisan-tulisan. Lantaran keberaniannya, dia ‘pun terpaksa harus menjalani hukuman dari pihak Belanda.

Dia ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa. Lalu, dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Selepas bebas, dia kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 17 Agustus 1918.

Sebelum menuliskan biografi asli Tirto, Pram menggambarkan sosok dan menceritakan kisahnya terlebih dahulu dalam Tetraloginya. Tentu, karena itu novel tak semuanya ceritanya diangkat dari fakta.

Namun, Minke yang ada dalam novel tersebut “merupakan sosok Tirto dalam benak Pram. Seorang Tirto yang bercampur antara fakta sejarah dan fantasi Pram,” tutur cicit Tirto, Okky Tirto.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id