Sejarah Unik Desa Kasuran Namun Anti Kasur
Tempat , TERBARU 12:13
0
Shares

Namanya Dusun Kasuran. Terletak di Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namun, tradisi warga desa itu justru sebaliknya dari namanya: dilarang tidur menggunakan kasur.
Sebenarnya di sana ada dua dusun, yakni Kasuran Wetan dan Kasuran Kulon. Dusun ini berdekatan, hanya beda desa. Kasuran Kulon masuk wilayah Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, sedangkan Kasuran Wetan masuk wilayah Desa Margomulyo, Seyegan. Untuk mencapai dua dusun ini dari Kota Jogja, Anda membutuhkan perjalanan normal sekitar satu jam.

Warga dusun ini meyakini secara turun temurun bahwa jika mereka tidur di kasur, terutama kasur dari kapas, maka akan sakit atau bahkan mati. Aturan ini bahkan berlaku bagi pendatang sekali ‘pun. Ini adalah mitos yang diyakini warga di sana, namun memiliki basis pijakan sejarahnya tersendiri.

Seperti ditulis Detik.com, Kepala Dusun Kasuran Wetan, M Noor Shidiq mengisahkan sejarahnya bahwa menurut cerita dari mulut ke mulut, mitos bermula dari pasangan suami-istri Kiai Kasur dan Nyai Kasur. Keduanya adalah pengikut Pangeran Diponegoro. Sebagaimana diketahui Perang Diponegoro terjadi pada tahun 1825-1830.

Konon, Kiai Kasur ingin tetap ikut Diponegoro, sementara Nyai Kasur melarang. Karena perbedaan pendapat, keduanya pisah ranjang. “Mereka kemudian bersumpah dan kata-kata itu keluar bersamaan, untuk tidak tidur di kasur atau tidur enak sebelum cita-cita Pangeran Diponegoro tercapai,” kata M Noor Shidiq.

Sejak sumpah itu, Kiai Kasur dan Nyai Kasur tak pernah tidur di kasur. Mereka hidup terpisah: Kasuran Kulon merupakan tempat tinggal Nyai Kasur dan Kasuran Wetan menjadi tempa tinggal Kiai Kasur. Di samping mitos itu, juga ada mitos bahwa keturunan Warga Kasuran Wetan dan Kasuran Kulon tak ada yang boleh menikah atau besanan.

Mitos itu diyakini hingga kini lantaran memang tersebar kisah warga yang pernah melanggar dan benar-benar mendapat hukuman tersebut. ”Dulu tahun 1972 pernah terjadi peristiwa aneh. Ada seorang warga pendatang yang bertugas di KUA pindah ke sini dan menyewa sebuah rumah. Dia tidur menggunakan kasur. Dan setiap Jumat, di atas kasur miliknya itu dijumpai seekor ular melingkar,” ungkap M. Noor Sidiq.

M. Noor Sidiq menambahkan, seperti dikutip website resmi Pemerintah Kabupaten Sleman, sebenarnya warga Kasuran bisa saja tidur dengan menggunakan kasur. Hanya, harus melalui tradisi ruwatan terlebih dahulu. ”Ruwatan itu harus dilakukan seluruh warga secara kompak dan bersama-sama. Tapi karena masih banyak warga yang ingin mengikuti tradisi tidur tanpa kasur, jadi ruwatan ini tak pernah dilakukan,” tandasnya. (Berbagai Sumber/Gambar: Detik.com)




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id