Sejarah Palang Merah Indonesia (PMI)
Serba-Serbi , TERBARU 19:01
0
Shares

SejarahRI.com – Palang Merah Indonesia (PMI) adalah organisasi perhimpunan nasional yang bergerak di bidang sosial-kemanusiaan (social-humanism). Jauh sebelum kemerdekaan, organisasi semacam ini sudah didirikan. “Sejarah gerakan palang merah di Indonesia bermula di masa kolonial ketika pada tanggal 21 Oktober 1873 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indië (NERKAI),” tulis Haris Munandar dalam Mengenal Palang Merah Indonesia (PMI) dan Badan Sar Nasional (BaSarNas): Dua Garda Terdepan Menghadapi Bencana (2016).

Namun, organisasi ini terlalu memihak. Dalam menjalankan peran sosialnya tak sepenuhnya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan secara universal (universal humanism). NERKAI masih terjebak “lingkaran rasisme”. Organisasi ini lebih mementingkan warga Belanda dan Eropa ketimbang warga asli (atau dalam bahasa mereka, “pribumi”). Keberpihakan ini mengundang kecemburuan para tokoh pejuang nasionalisme.

Pada 1932, dr. RCL Senduk dan dr. Bahder Djohan membuat program tandingan yang bergerak di bidang serupa. Kegiatan tersebut yang kelak menjadi “embiro” Palang Merah Indonesia (PMI). Delapan tahun berikutnya, 1940 proposalnya diajukan ke Konferensi NERKAI. Namun hasilnya nihil. Usulan tersebut ditolak. Rencana pembentukannya mengalami kebuntuan hingga Perang Dunia II meletus.

Di akhir pertempuran akbar itu, Jepang berhasil memasuki wilayah Nusantara dengan menundukkan benteng pertahanan Hindia-Belanda. Sejak kedatangan tentara dari Negeri Sakura itu, banyak para tokoh pejuang bangsa berspekulasi bahwa “angin segar kemerdekaan” akan segera datang. Keyakinan semacam itu ‘pun dipegang oleh para aktivis yang memimpikan berdirinya PMI di tanah kelahirannya. Dari itu, proposal kembali diajukan. Namun hasilnya, lagi-lagi berujung kekecewaan. Sebab, Jepang menolak mentah-mentah.

Keinginan itu baru terwujud setelah kekuatan Jepang melemah sebab dua kota pentingnya, Hiroshima dan Nagasaki, hangus oleh bom atom Amerika Serikat, 6 sampai 9 Agustus 1945. Lantaran peristiwa itu, beberapa hari berikutnya di bulan yang sama, pada tanggal 17, Indonesia berhasil memproklamirkan kemerdekaannya. Sebulan setelah kemerdekaan, yakni “Pada pertengahan September 1945 didirikanlah organisasi Palang Merah Indonesia (PMI) yang langsung dipimpin oleh Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta,” tulis Mardanas Safwan dalam Prof. Dr. Bahder Djohan: Karya dan Pengabdiannya (1985).

Menurut Amelia Fauzia dalam Faith and the State: A History Islamic Philanthropy in Indonesia (2013), pelantikan itu dilaksanakan tepat sebulan paska-kemerdekaan. Dia menulis, “Soekarno, presiden Indonesia yang pertama, meresmikan dan membuka Palang Merah Indonesia hanya sebulan setelah kemerdekaan, pada 17 September 1945 (terjemahan, Red).” Dua minggu sebelumnya, 3 September, Bung Karno mengeluarkan instruksi kepada Menteri Kesehatan RI dalam Kabinet I, Dr. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk organisasi yang telah digarap sejak lama itu.

Dua hari setelah mendapat perintah tersebut, Buntaran langsung membentuk jajaran kepanitiaan yang dikenal dengan “Panitia Lima”. Di antaranya adalah dr. R. Mochtar sebagai ketua, dr. Bahder Djohan sebagai sekretaris, sedangkan dr. Djoehana Wiradikarta, dr. Marzuki, dan dr. Sitanala sebagai anggota. Pada hari pengesahan, Bung Hatta sendiri yang melantik.

Pada awal 1946, organisasi ini sudah berhasil merekrut 60 perempuan yang siap dididik untuk menjadi pembantu jururawat. Mereka diasramakan di gedung Chr. HBS Salemba. Para peserta didik yang lulus, nanti dikirim ke berbagai daerah untuk membantu pertempuran di bidang pengotaban dan kesehatan. Kala itu, PMI sudah punya 40 cabang. Dan, pada masing cabang-cabang tersebut terdapat dua pos P3K.

Dalam masa perang revolusi, peran PMI memang sangat besar. Organisasi ini terlibat dalam berbagai agenda penyelamatan, mulai dari pertolongan pertama bagi korban perang hingga urusan pengungsian. Berkat kiprahnya yang nyata, pada 1948, Rumah Sakit Umum Palang Merah bekas NERKAI di Bogor disumbangkan kepada PMI Cabang setempat dan diberi nama Rumah Sakit Kedunghalang. Sejak 1951 sampai sekarang, RS ini menjadi Rumah Sakit Umum PMI.

Satu tahun sebelumnya, 15 Juni 1950 organisasi ini diakui secara internasional. Pengakuan tersebut diberikan oleh International Committee of the Red Cross (ICRC). Empat bulan setelah itu, 16 Oktober, Pemerintah Indonesia sendiri mengeluarkan Keppres Nomor 24 Tahun 1950. Pada hari yang sama, PMI diterima sebagai anggota ke-68 Liga Perhimpunan-perhimpunan Palang Merah.

Dua tahun berikutnya, 15 Januari 1952, sebuah insiden yang disebut “Peristiwa Aru” meletus. Yakni, tindakan brutal tentara Belanda yang nekat menenggelamkan Kapal Perang RI Macan Tultul. Mereka menyandra 55 awak. Mendapati kejadian tersebut, PMI bertindak atas permintaan Menteri/KSAL. Organisasi itu menghubungi ICRC dan melaporkan berita ini supaya disampaikan kepada PBB. Lantaran kerjasama yang baik antara tiga institusi tersebut, Belanda mau tak mau bersedia melepas para tawanan.

Di akhir 1961, PMI kembali menunjukkan eksistensinya ketika Bung Karno mengumunkan pembebasan Irian Barat, tepat pada 19 Desember. Organisasi ini mengajak seluruh cabang untuk berperan aktif. Data menunjukkan, ada 259 yang ditunjuk sebagai perawat dan 770 sebagai cadangan dari 11 cabang yang diseleksi.

Pada Hari Ulang Tahunnya (HUT) yang ke-25, 17 September 1970, pengurus besar PMI memberikan anugerah medali kepada para perintis, seperti Bung Hatta, Bahder Djohan, dan para pengurus cabang. Lima tahun setelah itu, organisasi ini kembali melibatkan diri dalam peristiwa besar, yakni konflik Timor Timur, 1975. Selain itu, PMI juga pernah membantu kemanusiaan di luar negeri, seperti para pengungsi Vietnam di Pulau Galang; kunjungan warga RRC ke Indonesia dalam rangka mencari sanak keluarganya, 1987; dipercaya memimpin pengiriman bantuan persembahan rakyat Indonesia untuk korban Perang Teluk I (yang pecah pada 1991) ke Yordania; dll.

Kantor pusat pertama orgnanisasi ini berada di Jl. Abdul Muis Jakarta Pusat. Namun beberapa kali pindah hingga akhirnya menetap di Jl. Gatot Subroto Kavling 96 pada era Orde Baru. Gedung baru ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1985. “Karena itu marilah kita jadikan kegiatan kepalang-merahan ini sebagai gerakan masyarakat,” kata Pak Harto saat memberikan sambutan sebagaimana terekam dalam buku Presiden RI Ke II Jenderal Besar H.M. Soeharto dalam Berita: 1985-1986 (2008).




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs