Sejarah 3 “Gereja Ayam” di Indonesia
Tempat , TERBARU 21:25
0
Shares

SejarahRI.com – Sejak film Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2 besutan sutradara alumni Fakultas Film Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Riri Riza tayang di bioskop pada April 2016, istilah “Gereja Ayam” menjadi populer di kalangan Nashrani maupun para pemburu destinasi wisata tua. Karena salah satu adegan dalam film itu mengambil lokasi syuting di sebuah bangunan kuno yang berada di Bukit Rhema Borobudur, Magelang. Gedung itu adalah tempat ibadah umat Kristen yang dikenal luas sebagai “Gereja Ayam”.

Rumah doa tersebut dirikan oleh Daniel Alamsjah pada tahun 1992. Menurut anaknya yang ketujuh, Willam Wenas, inspirasi awal pembangunan gereja itu berasal dari mimpi. Pada 1988, Daniel bertugas di Jakarta sebagai salah satu karyawan sebuah perusahaan swasta. Satu hari, dia bermipi. Dalam mimpi itu, dia diminta untuk membangun sebuah gereja di perbukitan yang masih jarang dijamah orang. Mimpi itu hanya terjadi sekali, namun datang berkali-kali.

Singkat cerita, dia ‘pun akhirnya memutuskan untuk pergi berlibur ke Magelang. Di sana, dia mengunjungi daerah sekitar Borobudur. “Sutau ketika papa berpapasan dengan pemuda setempat bernama Jito yang juga penyandang disabilitas. Dia tidak bisa berbicara atau tuna wicara,” kata William kepada Detik.com (09 Oktober 2017). Daniel mengobrol dengan Jito yang hendak memungut kayu di sebuah bukit yang berada di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Ketiga Jito pergi, Daniel ikut.

Sesampainya di atas bukit itu, Daniel merasa nyaman. Sampai-sampai dia bermalam di sana. Semalaman dia berdoa. Tiba-tiba di tengah khusuknya hamba Kristiani ini bermunajat kepada Allah, lagi-lagi datang sebuah “suara inspirasi”. Bahwa, di situlah tempat yang tepat untuk menunaikan hajat mimpinya membangun gereja itu. Sejak itu, bukit tersebut dia beri nama Bukit Rhema, yang berarti “Firman yang hidup”.

Beberapa tahun berikutnya, 1992 dia benar-benar merealisasikan harapan itu. Dia membangun gedung gereja di atas Bukit Rhema dengan desain berbentuk burung merpati. Namun entah kenapa kemudian ia disebut sebagai “gereja ayam”. Mungkin karena bila dilihat spintas, memang terlihat seperti ayam.

Pada 1996, karena efek krisis moneter, pembangunan ini sempat tertunda. Selain sebagai tempat berdoa, ia juga dijadikan sebagai panti rehabilitasi bagi mereka yang membutuhkan bantuan itu. Tahun 2000 ditutup lantaran mendapat penolakan warga. Dan, dibuka kembali pada tahun 2014 sebagai destinasi wisata religi. Dua tahun berikunya, masuk dalam film AADC.

Selain ini, masih ada dua “Gereja Ayam” lain yang ada di Indonesia. Yakni, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Pniel yang berada di Pasarbaru, Jakarta Pusat. Rumah ibadah ini merupakan peninggalan Belanda yang dibangun sejak 1850. Namun karena gedungnya terlalu kecil, pada sekitar 1913/1915, dua arsitek Ed Cuypers dan Hulswit mendesain ulang.

gerejaayam1

Gedung ini disebut Gereja Ayam karena di atapnya terdapat sebuah petunjuk arah angin berbentuk ayam. Penyebutan ini sudah berlaku jauh sebelum kemerdekaan. Sejak Jakarta masih bernama Batavia, gereja ini sudah disebut, “Haantjes Kerk”. Artinya, “gereja ayam jantan”. Menurut Andar Ismail (Pdt) dalam Selamat Paskah: 33 Renungan tentang Paskah (1982), penamaan ini memiliki makna teologis. Dia menulis:

Karena ayam adalah lambang permulaan sebuah hari. Setiap pagi, sebelum manusia dan hewan lain bangun, ayamlah yang bangun terlebih dahulu lalu berkokok membangunkan semua makhluk. Ayam adalah lambang bangunnya kehidupan ciptaan. Ayam adalah lambang kesiagaan.

Itulah sebabnya, sejak abad-abad pertengahan, gereja memakai ayam sebagai lambang kebangkitan hidup Yesus Kristus. Ayam menjadi lambang munculnya hidup yang baru karena kebangkita Tuhan. Ayam di puncak menara gereja seolah-olah setiap hari Minggu berkokok, ‘Hari ini pun hari Paskah!”

Lalu yang terakhir adalah Gereja Ayam yang berada di Tanjungpinang. Rumah ibadah umat Kristiani ini merupakan bagian dari GPIB “Bethel”. Keberadaannya sudah lama dan bahkan lebih tua dari republik ini. Ia dibangun sejak tahun 1830-an dan diberi nama “De Nederlandse Hervomde Kerk te Tanjungpinang”.

Tempat ibadah ini merupakan gereja tertua yang berada di Kepulauan Riau. Dulu, “gereja ini khusus digunakan bagi orang-orang Belanda dan serdadu Ambon,” tulis Marleily Rahim Asmuni, dkk dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Riau (1983). Disebut gereja ayam karena sama seperti GPIB Pniel di Jakarta, sama-sama punya menara berbentuk ayam.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs