Sedihnya Ultah ke-65 Bung Karno
TERBARU , Tokoh 08:20
0
Shares

SejarahRI.com – 6 Juni 1901, inilah tarikh milad Bung Karno. Di tiap tanggal itu, dia selalu merayakan ulang tahunnya (ultah). Setidaknya, ketika dia sudah menjadi “orang”; mapan sebagai individu.

Setelah dua puluh tahun memimpin Indonesia, dia ingin merayakan ultahnya yang ke-60 di luar negeri. Tempat yang dia pilih adalah Rusia.

Alasannya menarik. “Saya merasa kerasan di sini,” katanya sambil menyelipkan pantun lokal, “Asam di gunung, ikan di laut, toh di belangan bertemu jua, (rekam Peckurov yang diceritakan ulang oleh Tomi Lebang, Sahabat Lama, Era Baru , 2010)”.

Keinginan tersebut dia sampaikan ketika berkunjung ke sana, 5 Juni 1961, tepat sehari pra-perayaan. Acara tersebut diselenggarakan dengan meriah.

Secara resmi, Pemerintah Indonesia menggelarnya di halaman kompleks kantor KBRI, Novokuznetskaya Ulitsa Nomor 12, Moskow. Adam Malik, Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet itu yang bertindak sebagai tuan rumah.

Panggung hiburan dipersiapkan. Berbagai musisi Rusia tampil. Salah satunya, Koslowsky. Mereka menghibur para hadirin dengan pertunjukan apik.

Kala menyaksikannya, Bung Karno amat girang. Sampai-sampai dia berdiri, lalu maju ke pentas. Setelah menari cha-cha, dia mengajak Alya, istri Igor Kashmadze menari lenso.

Dengan lincah Bung Karno unjuk kebolehan. Akibat ulahnya, hadirin ‘pun ikut berdiri. Secara berjamaah, mereka berdansa ria.

Berikutnya, giliran Pemerintah Uni Soviet yang mengadakan acara serupa. Perayaan ultah Bung Karno kembali digelar di Kremlin, sebuah kota yang kerap dianggap sebagai jantung Negeri Komunis itu.

Pada momen yang berlangsung di Balai Granovitaya Palata itu, berbagai tokoh penting dari kedua belah pihak turut hadir. Dari Uni Soviet, ada 10 pentinggi. Sementara dari Indonesia, ada Subandrio, A.H. Nasution, Suprayogi, dll.

Demi eratnya tali silaturrahmi antara kedua negara tersebut, Khruschev memberi Bung Karno hadiah. Yakni, sebuah patung gadis yang sedang memegang dayung karya Manizer, pemahat kawakan dunia.

Karya seni ini dikirim ke Indonesia melalui kapal laut. Terkait hadiah tersebut, Adam Malik turut berkomentar.
Sebaiknya di hari yang keramat buat Presiden Soekarno, yang dihadiahkan bukan cuma patung macam itu, tapi patung sungguhan,” kata Dubes itu. Maksudnya, gadis beneran. Karena Bung Karno dikenal pengagum perempuan.

Di hari ultahnya yang ke-60 itu, Bung Karno sangat bahagia. Dia bukan hanya merasa dihargai sebagai individu, tetapi relasi politik yang dibangunnya juga berhasil.

Namun kemeriahan seperti ini tak terulang kembali pada ultah-ultah berikutnya paska tragedi G30S 1965. Seiring dengan melemahnya taring kekuasaannya, dia ‘pun harus rela bila ultahnya tak lagi terselenggara secara penuh suka cita.

Beberapa bulan sebelum tragedi itu meletus, dia masih sempat merayakan ultahnya yang ke-64. Acara itu dia rayakan di Bali. Tepatnya, di Istana Tampaksiring, 1 Juni 1965.

Tapi, perayaan itu tak berjalan dengan khidmat. Sebab, dia sedang menghadapi isu besar yang tengah bergulir dan kian memanas. Yakni, kabar tentang adanya Dewan Jenderal yang hendak mengguling posisinya.

Untuk memastikam validitas informasi tersebut, di hari ultahnya itu, dia memanggil Brigjen Sjafiudin. Kepada petinggi AD Bali itu, dia mengeluarkan instruksi supaya mengevaluasi loyalitas para jenderal (Ulf Sunhaussen, The Road to Power, Indonesian Military Politics 1945-1967).

Kisah ini membuktikan bahwa di hari yang seharusnya bersuka cita itu, dia bukannya sibuk menikmati hiburan seperti yang berlangsung di Moskow beberapa tahun sebelumnya. Tapi dia dilelahkan oleh persoalan konflik politik.

Baru pada ultahnya yang ke-65, 1 Juni 1966, dia benar-benar menderita. “Kado” yang dia terima bukan lagi patung gadis. Justru sebaliknya, kepahitan-kepahitan yang mendalam.

Pada hari itu, demostrasi besar-besaran terjadi di Surabaya. Aksi massa tersebut dimotori oleh Kolonel Bambamg Supeno, Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian Jenderal Soetjipto Joedodihajdjo, dan tokoh-tokoh pembela Bung Karno.

Protes ini berlangsung sebagai kontra opini terhadap wacana Supersemar yang dibenarkan oleh Jenderal Nasution. Para pendukung Soekarno tak ingin tuannya lengser. Namun, upaya mereka gagal dan Bung Karno berakhir kalah (Taufik Abdullah, dkk. Malam Bencana 1965, 2013).

Kekalahan ini berdampak serius. Rezim berganti, wajah pemerintah, dan alur politik Indonesia berubah. Bahkan, kesehatan Bung Karno yang sejak awal memang sudah melemah ‘pun menjadi tumbal.

Kian hari, dia penyakitan. Kondisi tubuhnya tak lagi stabil. Kambuh lagi dan terus kambuh lagi. Banyak orang menduga, kematian Bung Karno kelak, disebabkan oleh ini: kekuasaan dan tubuhnya yang terus melemah.

Namun tiga pelukis Istananya memperkirakan, Bung Karno wafat karena dirundung ‘kesedihan lukisan’. Bayangkan, selama lebih dari 40 bulan Bung Karno dipisahkan dengan koleksi seninya.” (baca: Kisah Istimewa Bung Karno, 2010).

Bung Karno memang dikenal pengagum karya seni. Banyak karya-karya lukis dan patung yang dia koleksi. Lukisan-lukisan dan Patung-patung Koleksi Presiden Sukarno, itulah judul buku monumental berisi koleksi Bung Karno yang disusun oleh para seniman kepercayaannya.

Edisi pertama, diterbitkan dalam dua jilid oleh Dullah pada 1956. Berikutnya, 1961, ditambah dua jilid lagi. Baru pada 1964 disempurnakan menjadi lima jilid oleh Lee Manfong.

Edisi selanjutnya, jilid VI sampai X digarap oleh Lim Wasim. Rencananya karya tersebut akan diluncurkan pada 6 Juni 1966, tepat pada ultah Bung Karno yang ke-65 sebagai kado istimewa.

Namun lantaran huru hara politik, rencana itu batal. Lengkap sudah penderitaan Bung Karno di hari ultahnya yang ke-65.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs