Sebelum Kemerdekaan, Jakarta Sudah Banjir
Tempat , TERBARU 19:01
0
Shares

Tiap kali musim hujan, selalu ada headline di berbagai surat kabar yang intinya ingin menyapaikan informasi, “Jakarta banjir”. Dari saking krusialnya, “banjir” sempat menjadi isu sentral di ibu kota.

Sebenarnya, fenomena ini bukan masalah baru. Itu sudah terjadi sebelum kemerdekaan. Sejak Jakarta masih bernama “Batavia”.

1 Januari 1892, Batavia diguyur hujan. Ketinggian air mencapai 286 milimeter. Dampaknya, lingkungan Weltevreden dan beberapa daerah pinggiran seperti Pasar Minggu tergenang banjir.

“…deket Pasar Minggoe raills kreta api dari Buitenzorg kabarnja lagi sedikit aken karendem aer. Sampe ini kabaran tertoelis aer di berbagai bagi kampoeng masi belon djoga maoe soeroet…” demikian koran Siang Po, 2 Januari 1892 mengabarkan situasi.

Setahun kemudian, banjir bukan hanya merusak infrastruktur. Tapi juga turut mempengaruhi roda perekonomian. Daerah bumiputra seperti Kemayoran, Bendungan, Nyonya Wetan, dan Kampung Kepu terendam air.

Bukan hanya itu. Kapal-kapal para nelayan yang berada di Pelabuhan Marunda ‘pun terbalik. Ikan-ikan hasil tangkapan mereka ludes ditelan banjir.

Bahkan di lain tempat, air yang datang ke Pasar Ikan mencapai ketinggian setengah meter. Akibat dari itu, wabah kolera menyebar hingga menyebabkan banyak penduduk meninggal.

Banjir semacam itu terus terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Pada tanggal 19 Februari 1909, Batavia benar-benar hampir seperti tenggelam. Problem banjir tak dapat diatasi lagi. Dalam rangka mengkritik kerja pemerintah, De Locomotief menerbitkan berita dengan judul, “Batavia Onder Water”.

Karena banjir terus terjadi meski berbagai upaya pencegahan dilakukan, 1918 muncul inisiasi filantropisme di masyarakat. Mereka adalah orang-orang dermawan yang rela membantu korban.

Pada bulan Januari di tahun itu, penduduk Batavia menghadapi musibah berat. Di samping harus mendapati harga beras naik dari 8,50 gulden menjadi 12 gulden per pikul, rumah mereka ditelan air.

Mereka yang menjadi korban adalah para penduduk yang tinggal di daerah Weltevreden, Kampung Tanah Tinggi, Kampung Lima, Kemayoran Belakang, daerah sepanjang jalan Noordwijk, Rijswijk, Pasar Baru, Tanah Lapang Singa, Schoolweg, Gang Pecenongan, dan beberapa tempat lain.

Sebab itu, mereka mau tak mau harus mencari bantuan. Sebagian besar mereka mengungsi ke Gereja Willemsskerk. Tempat itu dianggap aman sebab memiliki ketinggian fondasi kurang lebih tiga meter.

Fenomena banjir semacam ini terus berulangkali terjadi hingga Batavia berubah nama menjadi Jakarta. Dari tahun ke tahun, dari era ke era, seperti tak mengenal siapa penguasanya, banjir masih saja betah “menghantui” penduduk Jakarta. (Restu Gunawan, Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa, 2010).




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id