Sahur “Istimewa” Jelang Proklamasi
Peristiwa , TERBARU 18:48
0
Shares

SejarahRI.com – Sebelum matahari terbit pagi itu, 17 Agustus 1945, mereka masih berkumpul di rumah Laksamana Tadashi Muda Maeda. Sebab, perumusan naskah agung itu belum tuntas. Di ruang samping, Bung Karno, Hatta dan Soebardjo duduk melingkari meja bersama para petinggi Jepang, tuan rumah, Tomegoro Yoshizumi, Shigetada Nishijima, dan S. Miyoshi, utusan dari Angkatan Darat.

Mereka sedang merumuskan masa depan bangsa Indonesia. Karena pada momen inilah apa yang disebut dengan “Teks Proklamasi” itu digarap. Banyak yang lupa, penggarapan naskah itu berlangsung di bulan Ramadhan. Dalam ajaran Islam, pada bulan ini umat muslim wajib berpuasa. Dan, para tokoh dalam negeri yang termasuk sebagai perancang itu beragama Islam.

Dari itu tak heran, menurut B.M. Diah dalam Angkatan ’45 (11983) setelah tugas selesai, tuan rumah beserta tiga tentara Jepang lainnya berdiri meninggalkan Bung Karno, Hatta, dan Soebardjo. Mereka mempersilakan ketiga orang ini menyantap sahur. Kesaksian ini juga diakui oleh Bung Hatta sendiri. Dalam Sekitar Proklamasi (1981), dia menulis, “Waktu itu bulan puasa. Sebelum pulang saya masih dapat makan sahur di rumah Admiral Mayeda.”

Pelayan yang menyediakan hidangan sahur itu adalah seorang perempuan bermata sipit yang punya nama Satsuki Mishima. Dia adalah Sekretaris Laksamana Maeda dan “satu-satunya wanita Jepang yang ada di rumah Laksamana Maeda ketika itu,” tulis Muhammad Ridhwan Indra dan Sphian Marthabaya dalam Peristiwa-Peristiwa di Sekitar Proklamasi 17-8-1945 (1987).

Cerita ini juga diperkuat oleh data yang diperoleh dari hasil wawancara Basyral Hamidy Harahap dengan Shigetada Nishijima yang dirilis Kompas, 16 Agustus 2001 dan kembali dimuat dalam Jejak Intel Jepang (2014) karya Wenri Wanhar.

Basyral bertanya kepada Nishijima, “Apakah ada saksi lain yang dapat membenarkan keterangan Pak Nishijima itu? “Ada, Nyonya Satsuki Mishima, alamat 1-28-16, Bukomotomachi, Amagasaki-shi, telepon (… sensor, Red). Dialah yang menyediakan makan sahur bagi Bung Karno dan Bung Hatta,” jawab Nishijima.

Namun soal menu yang disajikan terdapat dua keterangan yang beda. Cerita yang populer dari berbagai sumber mengabarkan bahwa menunya saat itu adalah nasi goreng, telur, dan ikan sarden sebagaimana ditulis oleh Dorothea Rini Yunarti dalam BPUPKI, PPKI, Proklamasi Kemerdekaan RI (2003).

Namun menurut Hatta, lain. “Karena nasi tidak ada, yang saya makan ialah roti, telur, dan ikan sardines. Tetapi cukup mengenyangkan. Setelah pamitan dan mengucapkan terima kasih banyak-banyak kepada tuan rumah…” tulisnya dalam Sekitar Proklamasi (1981). Terlepas mana yang benar, yang jelas sahur pagi itu adalah sahur istimewa dalam sejarah Indonesia. Karena sahur itu dilaksanan oleh para pendiri bangsa menjelang pembacaan Naskah Proklamasi.

Setelah selesai menyantap sahur, mereka keluar menuju serambi ruang utama. Di sana, sudah banyak kerumunan pemuda yang berkumpul dari tadi menunggu hasil rapat di dalam. Di antaranya adalah Seokarni dan Chaeroel Saleh, dua aktivis Menteng. Menjelang subuh, Sukarno membuka perundingan bersama para pemuda itu. Dia ‘pun membacakan teks yang baru saja ditulis. Mendapati bunyi naskah itu, anggota PPKI sepakat. Namun tidak dengan Soekarni dan Chaeroel Saleh. Mereka protes mewakili suara kaum pemuda.

Isinya tidak memiliki semangat revolusioner dan terlalu lemah,” kata Soekarni. Pernyataannya ini didukung oleh para pemuda lain. Akhirnya, perdebatan ‘pun tak dapat dihindari. Singkat cerita, Bung Karno meminta kesediaan para hadirin untuk memberikan tanda tangan. Usulan itu tak disetujui oleh para utusan kaum pemuda. Mereka tak ingin tanda tangan bersama anggota PPKI yang disinyalir sebagai “produk” Jepang.

Tidak baik kita semua menandatanganinya, cukuplah Sukrno-Hatta saja atas nama semua rakyat,” kata Soekarni (Wenri, 2014). Setelah semuanya sekapat, dipanggillah Sayuti Melik untuk mengetik. Namun mesin ketiknya ternyata tak ada. Lagi-lagi mereka butuh bantuan perempuan Jepang itu, Mishima. Dia yang mencarikan mesin ketik ke kantor militer Jepang. Tanpa jasa perempuan ini, mungkin Teks Proklamasi tak dapat diketik sebelum dibacakan.

Setelah rampung dan rapi, pembahasan berikutnya dibuka, yakni di mana teks tersebut akan dibacakan. Soekarni mengusulkan supaya pembacaan dilaksanakan di lapangan terbuka. Tujuannya, sehingga masyarakat banyak yang dapat hadir. Dia menawarkan Lapangan Ikada. Namun usulan ini ditolak oleh Bung Karno. “Tidak, lebih baik dilakukan di kediaman saya, Pegangsangan Timur. Pekarangan depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita memancing insiden?” jawab Bung Karno sebagaimana dicatat oleh Sergius Sutanto, dalam Hatta: Aku Datang karena Sejarah (2013).

Mungkin selain alasan keamaan dan ketertiban, Bung Karno memilih kediamannya sendiri sebagai tempat pelaksanaan karena dia saat itu sedang sakit. Sebagaimana diceritakan oleh S. Kusbiono dalam Bung Karno: Bapak Proklamasi Republik Indonesia (2003), badan Soekarno sudah melemah sejak rapat semalam berlangsung. Dia terkena serangan malaria untuk kesekian kalinya (Sil, baca: Ketika Malaria Serang Bung Karno).

Dari perdebatan tadi, keputusan Bung Karno yang menang. Sekitar pukul 03.00 dini hari, Bung Hatta mendatangi para wartawan yang berdiri di depan pintu. “Saudara-saudara sudah bekerja keras, tetapi kuharap tidak keberatan untuk memperbanyak teks proklamasi,” tutur Hatta dengan lembut kepada mereka (Sutanto, 2013). Tepat pukul 10.00, naskah itu dibacakan dan Indonesia merdeka.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs