Restoran Indonesia Pertama di Prancis
Tempat , TERBARU 21:32
0
Shares

Sejak 1982, tak jauh dari Universitas Sorbonne—sebuah kampus para filsuf yang terkenal di Prancis—berdiri sebuah rumah makan sederhana berlabel “Restaurant Indonesia.” Di rumah makan ini ‘lah nantinya Danielle Gouze (istri presiden Prancis ke-21, François Maurice Adrien Marie Mitterrand) beberapa kali mencicipi makanan khas Indonesia.

Restoran ini merupakan rumah makan pertama di Kota Paris yang menyajikan masakan-masakan kuliner khas Indonesia. Ingin tahu siapa pendirinya?

Dia adalah seorang korban politik paska prahara G30S ’65. Yakni Sobron Aidit, adik kandung DN. Aidit, pemimpin senior Partai Komunis Indonesia.

Kisah Sobron membuka usaha restorannya itu bermula dari sejak kedatangannya di Prancis. Kedatangan dia di negara yang terkenal dengan menara Eiffel itu sejak tahun 1981.

Sebelumnya, dia berada di Tiongkok dari tahun 1963-1981. Di sana dia mengajar Sastra dan Bahasa Indonesia di salah satu kampus yang berada di Beijing. Selain itu, dia juga bekerja di Radio Peking setelah berakhirnya Revolusi Kebudayaan (1966-1976) yang terjadi di negara Tirai Bambu itu. Setelah kontrak dengan Radio Peking berakhir, dia ingin keluar dari Tiongkok.

Sebenarnya, dia ingin pulang ke tanah airnya. Tapi itu tak bisa dia lakukan. Karena Indonesia sedang berada di bawah kekuasaan Orde Baru, pemerintahan yang sangat anti terhadap PKI. Sementara, Sobron adalah adik kandung komandan PKI, DN. Aidit. Sehingga kalau dia memaksakan diri untuk pulang, keselamatan dirinya dapat terancam.

Mau tak mau akhirnya dia harus memilih tempat lain. Dan, dia memilih Prancis sebagai “tempat pulang.” Di Prancis dia bertemu dengan Umar Said dan beberapa teman lainnya. Di antaranya adalah Kusni Sulang, Samiaji, Budiman Sudarsono, Ibarruri (anaknya Aidit yang waktu itu juga merupakan korban politik anti-PKI di Indonesia).

Setelah berbulan-bulan, Sobron mengadakan pertemuan dengan Umar dan teman-temannya. Dia bercerita tentang rumitnya pencari pekerjaan dan malu kalau terus-terusan mengantri hanya untuk menerima uang bantuan.

Dia mengajak teman-temannya berbisnis. Perbicangan pun ngalur-ngidul ke sana kemari, tapi masih tetap terkait soal bisnis. Pernah berencana ingin berbisnis rempah, toko, dan lain-lain.

Tiba-tiba di tengah perbincangan yang hangat itu, ada yang berkata, “mengapa tidak membuka sebuah restoran yang khusus menyajikan masakan Indonesia saja?” Mendengar pernyataan itu, Sobron dan beberapa temannya yang lain termasuk Umar sepakat. Dari perbincangan itu ‘lah kemudian, gagasan membukan restoran makan Indonesia itu diseriusi.

Hal pertama yang mereka cari adalah lokasi. Mereka mencari resto yang akan disewakan atau dijual untuk dapat dijadikan sebagai tempat usaha rumah makannya. Mereka ‘pun berbagi tugas untuk mengelilingi kota Paris. Selain berkeliling, Umar sangat rajin. Dia juga mencari info-info resto yang akan disewakan di koran-koran.

Rupanya mencari lokasi tak mudah. Mereka berkali-kali menemui kegagalan. Sekalinya mendapatkan lokasi yang tepat dan menguntungkan secara hitung-hitungan ekonomi, malah berdekatan dengan tempat pelacuran Pigale. Banyak perempuan-perempuan nakal berkeliaran dan perjudian secara besar-besaran berlangsung. Karena takut mencemarkan nama Indonesia, akhirnya mereka tak memilih tempat itu. Mereka kembali mencari.

Setelah cukup lama melakukan pencarian, akhirnya mereka menemukan juga lokasi yang tepat dan sesuai dengan harapan mereka. Lokasi itu berada di antara Taman Luxembourg, sebuah taman terbesar di Paris; Gedung Teater Nasional Odeon; dan kampus Sorbonne. Tempat yang mereka incar itu awalnya adalah Resto Madras, tapi sudah tutup.

Tempat itu, bagi mereka, memang sangat ideal dan prospek ke depanya bagus. Tapi, setelah mendapatkan lokasi yang sesuai harapan, mereka malah bingung.

Kini, giliran mereka bingun mencari dana dari mana untuk membeli Madras itu. Berbagai usaha ‘pun akhirnya mereka lakukan, mulai dari pinjaman sampai melobi orang-orang Prancis yang dikenal.

Karena kasihan sama mereka, ada seorang asli Prancis memberikan sumbangan sebesar 7.500 franc. Dan, ada juga orang Belanda yang merupakan Ketua Umum sebauh organisasi mahasiswa memberi 30.000 franc. Setelah dana sudah terkumpul, perencaan ‘pun dibuat semakin matang.

Pada suatu hari mereka berkumpul di rumah Umar, di Rue de Vaugirard 12 yang tak jauh dari Madras. Mereka mempersiapkan rencana pembelian dan membuat struktur kepengerusan. Mereka mengangkat Pascale Lutz sebagai Direktur Umum. Adapun Sobron, Umar, Budiman, dan Kusni menjadi wakilnya.

Dari sejak itu, berdiri lah Restaurant Indonesia, rumah makan kuliner khas Indonesia pertama di Paris. Restoran yang sampai membuat Danielle Gouze ingin mencicipi makanan khas Indonesia. (Sobron Aidit dan Budi Kurniawan, Melawan dengan Restoran: Kisah Sobron Aidit dan Kaum Pelarian G30S PKI di Perancis, 2007)




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id