“Rambo” Berbaret Merah dari Indonesia
Serba-Serbi , Tokoh 16:10
0
Shares

7 Desember 1975, sebuah pertempuran akbar meletus di Timor Timur. Peperangan ini merupakan invasi militer Indonesia. TNI dengan segenap kekuatannya hendak menggulingkan kekuasaan Fretilin. Peristiwa ini yang dikenal sebagai “Operasi Seroja”.

Di antara sekian banyak unit, TNI juga melibatkan satuan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha)—yang kelak berubah nama menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Siapa yang tak mengenal keberanian dan ketangguhan para prajurit dari satuan ini? Semua orang tahu bahkan dunia. Satuan ini merupakan salah satu militer yang paling ditekuti di dunia.

Dengan baret merahnya yang khas, setiap kali di pertempuran mereka selalu melangkah pasti tanpa ragu. Kematian bagi mereka bukan ancaman. “Lebih baik pulang nama daripada gagal di medan tugas,” demikian semboyan mereka yang sangat terkenal.

Dan, kalimat itu selalu mereka ucapkan tiap kali mau turun ke medan laga. Sebagai kalimat ikrar dan harapan, mereka membuktikannya.

Dalam bukunya, Wartawan Perang dari Irian Barat hingga Timor Timur, MS Kamah pernah menuturkan peristiwa itu. Di tengah sengitnya peperangan, dia berkumpul bersama para prajurit “komando” (Kopassus, maksudnya).

Menurut kesaksiannya, para prajurit komando yang ikut bertempur kala itu rata-rata berumur di bawah 25 tahun. Dengan gesit, mereka menghadapi musuh seperti gerakan siluman. Tampak di wajah mereka sama sekali tak ada ketakutan meski harus mengahadapi siraman peluru. Bahkan, mereka menganggap perang sebagai pesta pora.

Ketagguhan menghadapi musuh semacam ini pernah dibuktikan oleh seorang prajurit bernama Pratu Suparlan. Majalan Baret Merah (April 2014) sempat menceritakan ulang kisah keberaniannya dalam pertempuran.

Pada 9 Januari 1983, satu unit tentara gabungan Nanggala mendatangi kembali markas tentara Fretilin. Mereka berpatroli di KV34-34/Komplek Liasidi, Timor Timur. Dalam misi itu, salah satu unit yang terlibat adalah Kopasandha.

Namun kekuatan modal pasukan ini tak seimbang dengan pasukan Fretilin. Selain memiliki senjata lebih lengkap, jumlah pasukan Fretilin lebih banyak. Memang, wilayah Liasidi merupakan basis kekuatan tentara Fretilin.

Akibatnya, mau tak mau prajurit Kopasandha terdesak. Mereka harus berhadapan dengan 300 pasukan musuh yang tiba-tiba menghadang. Aksi saling serang ‘pun tak dapat dihindari.

Satu per satu anggotanya gugur. Mereka terus dipukul mundur sampai menemukan celah bukit. Melalui jalur ini, mereka dapat meloloskan diri karena memang diperintahkan untuk mundur oleh Letnan Poniman Dasuki selaku Komandan Tim. Namun pasukan Fretilin terus menyerbu dengan ganas dan tanpa ampun.

Di tengah situasi terdesak semacam ini, para tentara terbaik dari Indonesia itu cemas. Hampir tak punya pilihan lagi kecuali menyerahkan diri kepada musuh. Namun mereka tak sepengecut itu. Mereka terus melawan sambil menghindari serbuan meski persediaan amunisi menipis dan jumlah anggota terus berkurang.

Saat betul-betul terhimpit, Pratu Suparlan meminta izin kepada komandannya untuk melakukan aksi “gilanya”. Prajurit dari satuan “Baret Merah” itu tiba-tiba membuang senapannya. Dia mengambil senapan kawannya yang gugur.

Dengan senapan mesin di tangannya, dia beraksi layaknya dalam Lone Survivor, tulis Merdeka.com (16 Oktober 2014). Dia maju sendirian sambil terus menembaki musuh tanpa rasa takut sedikipun. Aksi dia betul-betul seperti Rambo, sebuah film Amerika Serikat karya Sylvester Sallone.

Tanpa mempedulikan peluru yang menempus tubuhnya, dia terus menembaki musuh secara membabi buta. Dia tak peduli simbah darah dibajunya. Yang dia peduli hanya satu, musuh mundur dan kawan-kawannya selamat! Jiwa korsanya benar-benar “mengkristal” hari itu. Dia rela menjadi tumbal demi keselamatan teman-temannya.

Ketika dia semakin mendekati arah musuh, tiba-tiba amunisi senapannya habis. Tapi dia tak mundur. Dengan geram, dia ambil pisau komando dari pingganya. Dengan mengandalkan senjata terakhir itu, dia pertaruhkan nyawanya demi bangsa.

Dia angkat secepat mungkin pisau itu lalu menghunuskannya ke arah musuh. Dia mengejar siapapun yang bisa dikejar. Dia mencabik-cabik siapapun yang bisa dicabik. Mata dia sudah gelap.

Tapi karena hanya mengandalkan pisau, dia tentu tak akan mampu melawan gempuran peluru yang tak terhitung. Akhirnya, karena kehabisan darah dia terjatuh.

Saat tersunggkur lunglai, pasukan musuh semakin mendakat. Mereka hendak menempakkan peluru ke kepala Suparlan.

Setelah tantara Fretilin semakin mendekat, dengan sisa tenaganya dia melompat ke arah kerumunan musuh. “Allahu akbar” dia berteriak keras sambil menggenggam dua granat yang siap melekat.

Akibatnya, banyak tentara musuh yang tewas karena tindakannya itu dan kawan-kawan lainnya bisa selamat.

Ketika bantuan datang, tubuh Suparlan ditemukan sudah tak utuh lagi. Namun meski bisa menyelamatkan diri, berkat dia, 83 personel tentara Fretilin mati.

Karena keberaniannya, akhirnya dia mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa. Dia juga mendapatkan Bintang Sakti dari pemerintah berdasarakan Keppres No 20/TK/TH. 1987. Dan, namanya kelak diabadikan sebagai nama Lapangan Udara Perintis di Batujajar, Jawa Barat.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id