Ramadhan: Dirgahayu Indonesiaku!
Peristiwa , TERBARU 07:55
0
Shares

SejarahRI.com – Jumat dini hari, 17 Agustus 1945 Bung Karno, Hatta, dan Soebardjo sedang menyantap sahur di rumah Laksamada Tadashi Muda Maeda. Menu sahur yang dihidangkan adalah roti, nasi goreng, telur, dan ikan sarden (Rini Yunarti, BPUPKI, PPKI, Proklamasi Kemerdekaan RI, 2003).

Namun Hatta tak makan nasi goreng. “Yang saya makan ialah roti, telur, dan ikan sardines,kenang Hatta dalam Sekitar Proklamasi (1981). Makanan itu dimasak oleh seorang perempuan Jepang.

Satsuki Mishima, namanya. Dia adalah Sekretaris Laksamana Maeda dan “satu-satunya wanita Jepang yang ada di rumah Laksamana Maeda ketika itu,” papar Muhammad Ridhwan Indra dan Sphian Marthabaya dalam Peristiwa-Peristiwa di Sekitar Proklamasi 17-8-1945 (1987).

Di sana, Soekarno dan dua kawannya itu baru saja menyelesaikan tugas agung, yakni perampungan naskah Proklamasi. Rencananya teks tersebut akan dibacakan pada pukul 10.00 nanti. Benar, tepat di jam segitu, Bung Karno menunaikan janjinya kepada bangsa Indonesia.

Di depan mikrofon yang dipinjam dari Gunawan, owner Radio Satriya, Bung Karno berdiri dan memproklamirkan kemerdekaan negerinya sebagai nation-state (Sudiro, Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945, 1978). Saat membacakan teks itu, mukanya sedikit pucat. Karena sejak semalam, dia sudah terserang malaria (S. Kusbiono, Bung Karno: Bapak Proklamasi Republik Indonesia, 2003).

Namun meski sedang sakit, ternyata dia tetap berpuasa. Ibadah ini tak mungkin ditinggalkan karena dia muslim. Sebab, setiap umat muslim wajib berpuasa ketika bulan Ramadhan tiba. Dan, hari itu bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 H.

Namun tarikh hijriyah ini jarang diingat dan tak pernah dirayakan sebagai Hari Ulang Tahun Indonesia. Yang sering dirayakan selama ini hanya versi Masehi-nya, yakni 17 Agustus. Padahal, pemilihan tanggal tersebut tak serampangan dan bukan kebetulan.

Sebelumnya, Bung Karno memang sudah merencanakan secara matang, kapan tanggal yang tepat untuk memproklamirkan kemerdekaan bangsanya. Bahkan, terkait ini, dia meminta pendapat seorang ulama.

Ulama yang dia percayai dapat memberikan jawaban memuaskan adalah K.H. Abdoel Moekti. Kyai yang menjadi pimpinan Perserikatan Muhammadiyah Madiun itu menyarankan supaya teks Proklamasi dibacakan pada Jumat Legi, 9 Ramadhan 1364 yang bertepatan dengan 17 Agustus 1945.

Karena, “Apabila tidak diproklamasikan pada tanggal tersebut sebab hari yang demikian bahagia itu hanya akan ditemui 300 tahun yang akan datang,” tulis Fajriudin Muttaqin, (dkk) dalam Sejarah Pergerakan Nasional (2015). Oleh Muttaqin, pernyataan ini langsung dikutip dari Kyai Moekti sendiri saat jadi narasumber Seminar Sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia, 1976 di gedung PII, Menteng, Jakarta.

Jadi, kalau menggunakan Kalender Arab (Hijriyah), pada Ramadlan kali ini (1439 H) Indonesia sedang merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-73. Oleh karena itu, kami ucapkan: Dirgahayu Indonesiaku!




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id