Rahasia di Balik Coretan Naskah Proklamasi
Serba-Serbi , TERBARU 20:41
0
Shares

SejarahRI.com – Hampir semua orang Indonesia pernah membaca teks “mentah” Naskah Proklamasi yang berhasil ditulis pada 17 Agustus 1945, di rumah Laksamana Maeda, Jumat dini hari oleh Bung Karno. Dalam naskah itu tertera, “Wakil2 Bangsa Indonesia” dan tanpa tanda tangan.

Kalau diperhatikan, dalam teks tersebut terdapat kata-kata yang dicoret. Namun jarang yang mempersoalkan, kenapa bisa demikian dan ada apa di balik penghapusan diksi-diksi itu?

Dalam buku ajar SMP/Mts kelas VII, Pendidikan Kewarganegaraan: Kecakapan Berbangsa dan Bernegara yang diterbitkan oleh Pribumi Mekar (2007), disebutkan bahwa “Coretan-coretan yang terdapat dalam konsep menunjukkan banyaknya pertimbangan sebelum tercapai kata sepakat mengenai kepastian isi dan susunan redaksinya.” Namun dalam buku tersebut, pembaca—khusus kalangan siswa—tak diberitahu pertimbangan apa sebenarnya yang “diperdebatkan” oleh para perancang.

Untuk mengetahui jawaban tersebut, penting membaca kesaksian yang diberikan oleh Shigetada Nishijima. Dia adalah salah satu tentara Jepang yang terlibat dalam proses perumusan naskah itu (sil, baca: Dua Tentara Jepang yang “Ngefans” ke Tan Malaka).

Dalam buku, Shogen Indonesia Dokuritsu Kakumei dia mengungkap misteri di balik coretan Teks Proklamasi itu, sebagaimana ditulis ulang oleh Wenri Wanhar dalam Jejak Intel Jepang (2014).

Menurut Nishijima, pencoretan itu erat kaitannya dengan pertimbangan para tokoh Indonesia terhadap kekuasaan Jepang. Karena bila diksi itu tak dicoret dapat membangkitkan amarah Jepang dan kemerdekaan tentu menjadi semakin rumit.

 “Jika Indonesia hendak merebut kekuasaan dari tentara Jeoang dengan paksa, maka dua kubu itu akan berkonfrontasi. Meski sudah menyerah kalah pada Sekutu, saat itu tentara Jepang di Indonesia masih utuh,” tulisnya.

Supaya kemerdekaan dapat berjalan lancar, diambillah jalan tengah dengan mencoret diksi itu. Ada dua diksi yang dihapus, yakni “penyerahan” dan “dioesahakan”. Kedua diksi itu diganti dengan “pemindahan” dan “diselenggarakan”.

Ungkapan ‘pemindahan’ kekuasaan, menurut Nishijima, dirancang sebagai terjemahan bebas dari kata-kata gyoseiken no iten yang artinya pemindahan pengawasan administratif. Pemakaian diksi ini lebih aman ketimbang kata ‘penyerahan’ kedaulatan yang dalam bahasa Jepang, shuken no joto,” tulis Wenri.

Kemudian setelah itu, kata “dioesahakan” diganti dengan diksi “diselenggarakan”. “Sebab salah-salah memelih diksi,” tambah Wenri, “Angkatan Darat Jepang bisa bersikap sangat aktif berpihak pada Sekutu yang akan segera tiba di Indonesia.

Namun meski dua kata itu dicoret berdasarkan saran pihak Jepang, Bung Karno masih bisa mengelabuhinya. Karena pertama, frasa “pemindahan kekoeasaan” bukan berarti hanya pemindahan pengawasan administratif melainkan juga mencakup pemindahan kekuasaan politik.

Kedua, yakni ungkapan “dengan tjara seksama”. Ungkapan ini dapat “mengelabuhi Jenderal Nishimura,” tulis Wenri. Adapun makna “dalam tempo jang sesingkat-singkatnja” adalah sebelum tentara Sekutu mendarat dan tiba di Indonesia.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id