Dawam Rahardjo: Cendekiawan Muslim Multitalenta
TERBARU , Tokoh 03:42
0
Shares

SejarahRI.com – Namanya, Mohammad Dawan Rahardjo. Rekan-rekan dekatnya biasa memanggilnya, “Mas Dawam”. Dia adalah cendekiawan Muslim multitalenta yang tak hanya ahli di satu bidang.

Banyak potensi bakat yang berhasil dia aktualisasikan. Berbagai disiplin yang dia kuasai, di antaranya adalah pertama studi ekonomi, kedua, sastra, dan ketiga, keagamaan.

Jarang menemukan orang seperti itu. “… salah satu dari sedikit ‘Sang Intelektual’ terkemuka di Indonesia,” tulis Ahmad Syafii Maarif dalam artikelnya, Bung Dawam: Sang Intelektual (8 Maret 2007).

Yang menarik darinya, setiap mengaktualisasikan bakat selalu tepat mengambil momentum. Dia melakukan itu semua tak hanya sekadar untuk “unjuk kebolehan” layaknya cendekiawan yang hanya mengejar popularitas.

Tapi, dia mengolah bakatnya justru untuk mengatasi persoalan-persoalan bangsa. Sebagai seorang intelektual, dia “komitmen pada hati nurani,” tegas kawannya, Djohan Effendi, Intelektual Muslim yang Selalu Gelisah: Kesaksian Seorang Sahabat (10 April 2007).

Sebagai Ekonom

Ketertarikannya terhadap studi ekonomi tak terlepas dari pengaruh “iklim usaha keluarga” sejak dia masih usia dini. Mas Dawam dibesarkan dalam sebuah keluarga pengusaha kreatif.

Lelaki kelahiran 20 April 1942 (kampung Baluwarti, Solo) itu punya ayah bernama Juwaeni. Setelah menikah dengan Mutmainnah, nama Juwaeni diganti menjadi Mohammad Zuhdi Rahardjo.

Zuhdi, ayah Dawam ini, ternyata adalah seorang pelopor usaha pengikal benang di Desa Tempursari. Berkat idenya, orang-orang di kampung tersebut kelak mengembangkan usaha itu.

Setelah sukses di bidang itu, Zuhdi mengembangkan  usaha lain, yakni bisnis batik. Ketertarikannya terhadap dunia bisnis ternyata menular ke diri anaknya, Dawam. Namun Dawam lebih memilih menjadi pengamat daripada sebagai praktisi seperti ayahnya.

Dia mulai belajar studi ekonomi secara serius di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Pada tahun 1969 dia berhasil diwisuda dan mendapatkan gelar di bidang itu.

Sebagai akademisi yang bergelut di bidang ekonomi, Dawam terus berusaha mengejar mimpinya. Lantaran usaha kerasnya, berbagai prestasi dapat dia raih.

Tak lama setelah lulus kuliah, dia bekerja sebagai Staf di Departemen Kredit Bank of America, Jakarta. Di perusahaan ini, dia hanya bekerja selama dua tahun.

Setelah keluar, dia memilih bergabung dengan Lembaga Penelitian dan Pembangunan Ekonomi-Sosial (LP3ES). Pelan-pelan, karirnya dalam dunia riset di bidang ekonomi terus melambung.

Pada tahun 1983, dia meluncurkan buku perdananya, Esai-esai Ekonomi Politik (1983). Dia menerbitkan karya tersebut bertepatan dengan era pembangunan yang sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh Orba.

Beberapa tahun berikutnya, dia kembali meluncurkan karya baru, Deklarasi Mekah: Esai-esai Ekonomi Islam (1987). Dan pada akhir Orba, dia menelurkan dua buku penting, Etika Bisnis dan Manajemen (1990) dan Habibienomics: Telaah Pembangunan Ekonomi (1995).

Sebagai Sastrawan

Selain sebagai seorang ekonom, Mas Dawam juga mahir dalam dunia sastra. “Dia bisa bekerja dengan statistik yang rumit, namun pada saat yang sama bisa berkarya sastra yang subtil,” kenang Daniel Dhakidae, Dawam Rahardjo: Kutub Lain Dunia Cendekiawan Kita.

Salah satu karya cerpennya yang menarik adalah Anjing yang Masuk Surga. Dia menulis karya ini dalam rangka merespon kondisi sosial keberagamaan mutakhir di Indonesia. Tulisannya ini diterbitkan Kompas Minggu, 19 Juni 2005.

Selain memproduksi cerpen, dia juga aktif menulis puisi. “Beberapa puisinya beserta foto dimuat di ruang sastra Harian Abadi,” catat Tim Redaksi Demi Toleransi, Demi Pluralisme (2012). Dia gemar menggubah sajak sejak masih remaja.

Puisi-puisinya yang didokumentasikan Harian Abadi itu kelak dia “tunjukkan kepada kepada Tuty Alawiyah, ketika telah bekerja di Jakarta, setelah diperkenalkan oleh Usep Fathuddin. Penyair remaja lainnya yang masih diingatnya waktu itu diantaranya adalah Kustiowismo, Aslamah Jasin, Sogijono, Abdul Nur Adnan, Lastri Fardani, Ken Suheni, Darmanto Jatman, Elanda Rosi Ds., Husin Landicing, Jussac MR, dan masih banyak lagi lainnya yang sebagian hanya dikenal melalui koran. Sebagian dari mereka masuk Lekra dan mungkin terbunuh atau ‘menghilang’.

Bahkan, kebiasaannya tatkala membeli koran atau majalah, hal pertama yang dia lakukan adalah membaca puisi-puisi yang ada di dalamnya. Dia sangat mencintai dunia sastra.

Ketika berada di Yogyakarta, dia pernah dipanggil sebagai sastrawan. Dia bangga atas sebutan itu. Namun, lantaran jarang bergaul dengan seniman, gelar itu kemudian hari tak terlalu menonjol.

Namun meski demikian, itu tak menyurutkan kecintaan Mas Dawam terhadap dunia sastra. Bakatnnya di bidang ini memang dipupuk sejak kecil.

Waktu masih usia dini, dia sering mendapat dongeng-dongeng tentang hikayat atau cerita yang digubah oleh sastrawan-sastrawan hebat. Salah satunya, dia sering “mendengarkan dongeng, terutama dongeng dari tantenya, Ba’diyah, yang suka bertutur tentang Hikayat Amir Hamzah.

Sebagai Ahli Agama

Keahliannya dalam bidang agama, terutama terkait studi keislaman tak dapat diragukan. Keseriusannya di bidang ini sama dengan ketika dia mendalami persoalaan ekonomi.

Bagaimana tidak, pada tahun 1996, dia melahirkan sebuah karya monumental, Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci (1996). Karyanya ini banyak membuat orang semakin terkagum-kagum. Ternyata betul, Dawam memang mengusasi bidang Islam.

Beberapa tahun berikutnya, 1999 dia menulis Islam dan Transformasi Sosial-Ekonomi (1999). Kemudian, pada 2002, lahir Islam dan Transformasi Sosial Budaya. Menyusul, Paradigma al-Qur’an: Metodologi Tafsir dan Kritik Sosial (2005).

Kecakapannya di bidang ini merupakan asahan intelektulisme yang sudah mengakar sejak lama dalam dirinya. Ketika masih kecil, asupan pendidikan Islam yang dia telan memang terbilang cukup.

Dia memulai pendidikan formalnya saja di sebuah sekolah Islam, Madrasah Bustanul Athfal Muhammadiyah (setingkat TK) Kauman. Setelah itu, lanjut ke Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Masjid Besar Solo.

Karena tumbuh sebagai anak yang cerdas, tatkala masuk Sekolah Rakyat (setingkat SD) Logi Wetan, dia langsung naik ke kelas dua. Sore harinya, dia tak main melainkan bersekolah lagi di Madrasah Al-Islam.

Setelah lulus dari SR, dia meneruskan pendidikan ke SMP 1 Solo dan lulus pada tahun 1957. Kemudian dia lanjut ke SMA Manahan dan lulus pada 1961.

Setelah dewasa, dia bergabung dengan organisasi Muhammadiyah. Dia “adalah putra Muhammadiyah yang memegang teguh nilai-nilai seperti yang diajarkan K.H Ahmad Dahlan itu,” tulis Soetrisno Bachir, Dawam: Putra Muhammadiyah yang Merdeka.

Tak hanya itu, dia juga termasuk pelopor bedirinya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Melalui perserikatan ini, dia mengeksplorasi kemampuan dirinya di bidang agama secara lebih mendalam.

Yang menarik dari pemikiran Dawam terkait keislaman adalah dia tak berhenti pada doktrin konvensional. Lebih dari itu, dia sering melakukan terobosan-trobosan baru. Karakteristik utama gagasannya tak jauh berbeda dengan apa yang diusung Cak Nur dan Gus Dur yakni soal toleransi dan pluralisme.

Tidak jarang sumpah-serapah sering dilontarkan kepadanya dan teman-teman se-idenya, tetapi Bung Dawam tetaplah Bung Dawam, yang selalu tegar dan tidak bergeming. Dia seperti tidak acuh saja terhadap kritik yang ditumpahkan pihak lain kepadanya.

Dunia intelektual adalah ranah yang sarat tantangan, dan itulah dunia Bung Dawam. Seseorang yang bernyali kecil janganlah coba-coba berjalan di ranah ini, karena pastilah dia akan keteteren. Jika Anda bernyali kecil, maka jadilah manusia biasa-biasa saja yang tak perlu diganggu oleh ejekan, cemooh, dan hukuman yang sering memojokkan. Semua kritik ini adalah tunangan belaka dari manusia yang bergumul dalam dunia ide, seperti Bung Dawam.

Bagi Bung Dawam, tampaknya hidup tanpa tantangan bukanlah hidup yang sebenarnya.” kenang Syafii Maarif.

Namun sekarang dia sudah tak ada. Sejak Rabu malam, 30 Mei 2018 dia pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Dia menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 21.55 WIB.

Kepergiannya adalah duka yang mendalam. Dan, Indonesia kembali kehilangan putra terbaiknya. Mas Dawam, selamat jalan. Jasad boleh mati, tapi ide akan tetap abadi. Kita yang akan melestarikannya!




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs