Perpustakaan Pertama di Indonesia
Tempat , TERBARU 18:22
0
Shares

Perpusatakaan adalah “tempat, gedung, ruang yang disedikan untuk pemeriharaan dan penggunaan koleksi buku dan sebagainya.” Atau, “keloksi buku, majalah, dan bahkan kepustakaan lain yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dibicarakan.” Setidaknya demikian definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Setiap kali ke kampus, sekolah, atau bahkan tempat ibadah selalu saja ditemui apa yang disebut “perpusatakaan”. Bahkan, sekarang juga ada kafe yang sekaligus menyediakan fasilitas semacam itu. Jadinya, orang tak hanya menikati menu kuliner, kongkow, jumpa kangen, kopdar, dll tapi juga sembari membaca buku.

Intinya perpustakaan sudah di mana-mana. Bahkan ada yang keliling dan disebutlah ia sebagai “perpustakaan keliling”. Namun pertanyaannya adalah “sejak kapan perpusatakaan ada di Indonesia?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu bukan hal mudah. Namun setidaknya, ada empat pendapat yang bisa membantu untuk menjernihkan persoalan. Sebagaimana diterangkan dalam buku Periodisasi Perpustakaan Indonesia (1994) karya Basuki Sulistyo, pertama ada pendapat yang menyatakan bahwa keberadaan perpustakaan di Indonesia ditandai dengan awal dikenalnya huruf dan tulisan.

Bila pendapat ini diamini, itu artinya perpustakaan di Indonesia sudah ada sejak abad ke-5 M. Karena berdasarakan hasil riset arkeologi, di Kalimantan ditemukan beberapa prasasti tua yang terpahat di atas Yupa, yakni tiang batu yang berada di Kerajaan Kutai. Usia prasasti tersebut sekitar dua ribu tahun lebih.

Namun pendapat tersebut sangat diragukan. Karena dikenalnya huruf dan tulisan tak berarti secara otomatis menunjukkan adanya perpustakaan. Apalagi bila definisi “perpustakaan” merujuk kepada pengertian KBBI di atas, yakni sebagai “ruang”. Sampai sekarang, belum ada penelitian yang sanggup membuktikan bahwa memang ada ruang khusus menyimpan karya pustaka di zaman Kerajaan Kutai.

Pendapat kedua menyatakan bahwa perpusatakaan sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, yakni sekitar tahun 692. Kesimpulan ini didasarkan pada fakta sejarah kebesaran kerajaan tersebut. Dalil logika yang ditawarkan adalah “karena karajaan tersebut besar, maka sangat dimungkinkan ia memiliki fasilitas perpusatakaan.” Data yang ditunjukkan adalah adanya catatan I-tsing, pengembara asal Cina yang menyatakan bahwa pada abad tersebut, lebih dari 1.000 biksu tinggal di ibu kota Sriwajaya. Yang mana, para biksu ini diasumsikan pasti membawa buku-buku ajar Buddha.

Namun menurut Sulistyo, pendapat ini juga diragukan karena kesimpulannya hanya didasarkan pada logika dan tidak didukung oleh data empiris yang tervalidasi. Sebab, tak berarti banyaknya buku yang diasumsikan itu—seperti buku-buku Buddhis dalam hal ini—menunjukkan adanya perpusatakaan. Bila logikanya dibalik, bisa saja walaupun banyak buku tetapi “ruang”nya tak ada, apalagi buku itu ternyata tak ada karena hanya asumsi. Akhirnya, argumentasi inipun tak bisa dipertanggungjawabkan.

Pendapat selanjutnya, yang ketiga adalah ditemukannya naskah-naskah kuno yang ditulis oleh para pujangga maupun Mpu. Seperti di antaranya adalah naskah Sang Hyang Kamahayanikan. Tulisan ini memuat ajaran agama Buddha Mahayana. Karya ini dianggap sebagai naskah pertama yang ditulis oleh pujangga Keraton Mataram pada abad ke-6 M.

Selain itu, masih banyak naskah-naskah lain yang juga ditulis pada zaman yang sama, seperti Brahmandapurana dan Agastyaparwa. Berbagai karya tulis terus bermunculan pada era berikutnya. Puncaknya adalah zaman kejayaan Majapahit. Seperti, buku Negarakertagama karya Mpu Prapanca, Sutasoma-nya Mpu Tantular, dll. Buku-buku tersebut disimpan di Keraton.

Oleh karena itu, argumentasi ini dapat diterima karena data empiris membuktikan bahwa buku-buku tersebut di simpan di suatu “ruangan khusus”, yang mana ini bisa diterjemahkan sebagai “perpustakaan”. Namun lagi-lagi susah untuk mengetahui bagaimana pola penyimpanannya, kerja sistemnya dan apa namanya. Karena, memang data terkait itu tak mudah didapat—untuk tak mengatakan “tak ada”.

Adapun argumen keempat adalah “perpustakaan” dalam pengertian “ruangan khusus untuk menyimpan koleksi karya pustaka dalam berbagai ragam bentuknya” itu baru terjadi di era modern. Yakni tepatnya saat Belanda mulai bertandang ke tanah Nusantara, yang kemudian diberinama “Hindia Belanda”.

Perpustakaan pertama yang didirikan saat itu adalah perpustakaan gereja di Batavia. Sebagaimana laporan dalam buku Sejarah Perpustakaan dan Perkembangannya di Indonesia (1983) karya Muljani A. Nurhadi, perintisan perpustakaan ini dimulai sejak 1624. Namun karena beberapa kendala, ia baru diresmikan pada 27 April 1643.

Selain mengoleksi buku, pepustakaan ini melayani peminjaman kepada publik—khususnya buat para perawat rumah sakit Batavia—hingga menjangkau wilayah Jawa Tengah. Tentu, publik yang dimaksud saat itu adalah publik terbatas, yakni kalangan tertentu yang diizinkan oleh Belanda seperti orang-orang Eropa, misalnya.

Satu abad kemudian, pemerintahan Hindia Belanda baru mendirikan perpustakaan yang lebih besar, yakni Bataviaasche Genootschap van Kunstenen en Wetenschappen (BGKW). Orang yang memprakarsai perpustakaan ini adalah Dewan Hindia Belanda, Mr. J.C.M. Rademaker. Sejak 24 April 1778, fasilitas tersebut beroperasi.

Katalog buku pertama yang dikeluarkan adalah Bibliotecae Artiumcientiaerumquae Batavia Floret Catalogue Systematicus yang disunting oleh P. Bleeker. Katalog ini diterbitkan pada 1846. Dua tahun kemudian, 1848, edisi keduanya keluar. Koleksinya adalah buku-buku etnologi, arkeologi, dan antropologi.

Dari sejak itu, perpustakaan di Hindia Belanda terus berkembang. Keberadaan perpustakaan modern ini—walaupun awalnya dijadikan sebagai “alat hegemoni Belanda”—merupakan sumbangsih luar biasa terhadap peradaban literasi Indonesia ke depan. BGKW setelah kemerdekaan, 1950 diganti nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia.

Baru pada tahun 1962, lembaga ini resmi diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan namanya diganti lagi menjadi Museum Pusat. Berbagai perubahan terus terjadi hingga pada tahun 1989, lembaga ini digabung sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Namun meski Indonesia punya sejarah perpustakaan yang panjang, bangsanya belakangan masih tergolong sebagai “pembaca terburuk di dunia”. Dari itu, penting mengingat kembali nasehat Tan Malaka.

Dua tahun sebelum Indonesia merdeka, 1942 dia sempat berpesan kepada generasi bangsa, “Bagi seseorang yang hidup dalam pikiran yang mesti disebarkan, baik dengan pena maupun dengan mulut, perlulah pustaka yang cukup. Seorang tukang tak akan bisa membikin gedung, kalau alatnya seperti semen, batu tembok dan lain-lain tak ada. Seorang pengarang atau ahli pidato, perlu akan catatan dari buku musuh, kawan ataupun guru.” Demikian dia tulis kalimat ini dalam bukunya, Madilog.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id