Perempuan Itu Bernama Lasmidjah: Saksi Sejarah Tiga Zaman
TERBARU , Tokoh 17:45
0
Shares

Ketika berita kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II tersebar, Sukarni dan beberapa temannya menculik Sukarno dan Hatta. Mereka membawa kedua orang itu ke Rengasdengklok untuk membahas “proklamasi kemerdekaan”.

Sebelum melakukan aksi nekat itu, Sukarni terlebih dahulu mendatangi seorang perempuan. Dia berkata, “Yu, kemerdekaan akan segera diproklamasikan. Tempatnya di rumah Bung Karno, di Pegangsangan. Harap berita ini diteruskan kepada teman-teman.” Ketika beranjak meninggalkannya, Sukarni berkata lagi, “Aku akan menjemput Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.

Perempuan itu adalah Lasmidjah. Dia adalah orang yang pernah dititipi putra-putri Bung Karno oleh Ibu Fatmawati ketika Istana Negara diserang pesawat jet Angkatan Udara Republik Indonesia, 1960.

Dia perempuan hebat, pernah hidup di tiga zaman dan turut berkontribusi di dalamnya. Zaman Revolusi, Orde Lama, dan Orde Baru selesai dia lalui.

Dia lahir di zaman Pemerintahan Hindia-Belanda, 14 April 1916 dari sebuah keluarga yang mapan. Ayahnya adalah seorang dokter, dr. Wardi. Waktu dia lahir di Purworejo, Jawa Tengah, ayahnya sedang betugas di Trenggalek, Jawa Timur. Beberapa bulan kemudian, ibunya baru membawanya ke sana.

Dia tinggal di sebuah rumah dinas kedokteran dekat alun-alun: alun-alun Trenggalek, alun-alun kenangan.

Ketika peringatan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina tiba, alun-alun itu ramai. Upacara, pesta pora, pertunjukan seni, makanan, dan hiburan-hiburan lain berlangsung dari siang sampai malam.

Pagi harinya, di depan pendopo kabupaten diadakan upacara resmi. Lasmidjah selama duduk di bangku HIS selalu berpartisipasi. Dengan riang, dia ikut menyanyikan lagu Wilhelmus van Nessau bersama peserta lain. Dia sama sekali belum tahu kalau Belanda adalah penjajah.

Kesadarannya mulai tumbuh ketika kakaknya yang nomor dua, Paran Alesmartani yang sedang kuliah di Recht Hoge School (RHS) sering mengontaknya. Dari Batavia, dia sering mengirim tulisan-tulisan berspritit nasionalisme.

Belum lagi tambahan semangat dari kakaknya yang nomor empat, Bambang Sugeng, siswa Meer Uitgerbreid Lager Onderwijs (MULO). Dia sering berakting di depan Lasmidjah menirukan gaya bicara Bung Karno dan Dr. Soetomo.

Lantaran “suntikan” ideologi dan semangat dari dua kakaknya itu, ketika sudah berada di bangku MULO Kediri, dia bersama teman-temannya mendirikan Partai Indonesia (Partindo). Tatkala ikut konferensi partai tersebut di Yogyakarta, dia berkenalan dengan Bung Karno dan istrinya, Ibu Inggit untuk pertama kalinya. Karena mereka sama-sama menginap di rumah Mr. Sujudi, teman akrab Bung Karno. Kedekatannya dengan keluarga Bung Karno terus berlanjut hingga usia tuanya.

Nasionalisme Lasmidjah semakin tampak ketika Jepang berhasil mengusir Belanda. Di awal pemerintahan Jepang, dia bekerja di kantor sensor. Karena harus mengedit tulisan-tulisan para tokoh revolusi sebelum dibaca publik, dia merasa pekerjaannya tak sesuai nurani. Dia tak betah. Tak lama, dia pindah kerja ke Keimin Bunka Sidhoso, kantor pusat kebudayaan di Jalan Juanda, Jakarta Pusat.

Di kantor barunya ini ‘lah jiwanya sebagai perempuan pemberani mulai tampak. Dia melakukan suatu gerakan penting bagi lahirnya kemerdekaan RI kemudian hari.

Suatu hari, Sukarni—salah satu teman kantornya yang satu ruangan—mengajaknya untuk melakukan propaganda politik. “Yu Las berani?” Tanya Sukarni. Tanpa basa basi, Lasmidjah menyanggupi.

Dia membuat proposal ke pemerintahan Jepang. Dalam proposal itu diutarakan bahwa dia dan teman-temannya di Keimin ingin menyelenggarakan kursus bahasa Jepang. Proposal ‘pun diterima tanpa kecurigaan. Karena pihak Jepang berpikir Lasmidjah adalah seorang perempuan yang tidak mungkin paham politik, apalagi macam-macam.

Setelah proposal diterima, Lasmidjah meminta kesediaan WJS Poerwadarminta menjadi guru les bahasa Jepang. Poerwadarminta ‘pun bersedia. Ketika dia sedang mengajarkan huruf-huruf katakana dan hiragana dan pihak Jepang sudah tidak mengawasi tiba-tiba Lasmidjah dan teman-temannya memotong acara. Mereka menggantinya dengan ceramah politik.

Orang-orang yang pernah mengisi ceramah politik di acara itu adalah Bung Hatta, Agoes Salim, Mr. Soenarjo, Prof. Soepomo, Abikusno dan Moh. Yamin. Rupanya, kursus bahasa Jepang yang diadakan itu hanya merupakan strategi Lasmidjah untuk mengalihkan perhatian Jepang supaya pergerakan mereka tidak dicurigai. Lewat Keimin ini ‘lah nantinya banyak lahir tokoh-tokoh bangsa yang melek politik, berani melawan Jepang, dan berhasil mengantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan.

Waktu naskah proklamasi kemerdekaan RI dibacakan oleh Bung Karno pada 17 Agustus 1945, dia juga berada di lokasi turut menyaksikan. Dia datang ke sana bersama teman-temannya.

Sehari sebelum proklamasi dibacakan, rumah dia bukan lagi menjadi rumah pribadi tapi “berubah menjadi markas perjuangan,” tutur Lasmidjah sendiri. Karena di sana, para pemuda dan pemudi menyiapkan segala kebutuhan esok hari, mulai dari makanan hingga pertukaran informasi. Di Jalan Sumenep 19, Menteng, Jakarta itu anak buah Sukarni dan kawan-kawan bersiaga selama 24 jam.

Perjuangan perempuan cantik yang mendukung kemerdekaan RI itu tak sampai di sini. Dia masih terus berjuang dengan sisa-sisa semangat yang ada.

Ketika Indonesia sudah dideklarasikan merdeka, pihak Belanda ingin merebut kembali. Kedatangan tentara NICA membuat para TNI dan pemuda bangsa marah. Sehingga, kemudian meletus ‘lah beberapa pertempuran.

Suatu hari di tengah situasi genting, rumah Lasmidjah kembali tak lagi menjadi rumah pribadi. Tapi kali ini bukan hanya sebagai “markas perjuangan” tetapi juga sebagai “gudang senjata.” Di rumah perempuan itu, senjata-senjata pembunuh pernah disimpan. Dia bahkan bukan hanya berani menyimpan senjata tapi juga pernah terlibat menyelundupkannya ke Bekasi dan kemudian dibagikan kepada para gerilyawan yang ada di sana.

Setelah Belanda terusir dan Indonesia menjadi negara yang berdaulat, untuk mengisi kemerdekaannya Lasmidjah dan beberapa temannya mendirikan Bank Koperasi Wanita. Tujuan pembuatan bank itu adalah untuk turut mensejahterahkan rakyat. Yang diangkat sebagai ketuanya adalah Sutinah Said Soerjowinoto dan Lasmidjah menjadi wakilnya. Karena kekurangan dana, kantor yang digunakan adalah lagi-lagi rumah Lasmidjah.

Waktu menjadi penjabat bank, Lasmidjah masih “menjomblo”. Dia baru menikah pada 7 Februari 1954 dengan seorang lelaki bernama Hardi. Dari sejak itu ‘lah nama dia menjadi “Lasmidjah Hardi”.

Kisah pertemuan mereka berdua bermula di London. Hari demi hari mereka lalui bersama kehidupan baru dengan segenap cinta. Sampai ‘lah pada tahun 1965.

Di akhir tahun itu, Lasmidja bekerja sebagai Pembantu Menteri. Suatu hari, 1 Oktober dia mendapati kantornya sepi. “Ada apa Mas, kok masih sepi?” Tanya dia kepada seseorang yang bernama Sumantri. “Lho Yu, Anda tidak tahu? Bung Karno tidak ada di istana. Tadi malam kabarnya terjadi pembunuhan para jenderal.

Mendengar jawaban itu, dia langsung buru-buru pulang. Dia ingat suaminya yang baru saja dipecat dari PNI karena dituduh anti-PKI. Dia bergegas keluar dari kantor dan langsung menuju rumahnya. Dia takut suaminya kenapa-napa.

Ternyata, suaminya selamat. Setelah mendengar berita, yang menjadi salah satu korban adalah teman akrabnya, Letnan Jenderal Achmad Yani.

Sebelum peristiwa yang disebut G30S itu terjadi, dia sempat datang ke rumah Yani. Dalam pertemuan itu, dia bertanya, “Gimana Yan, kok begini?” “Alah, Mbakyu, biarin aja. Kami malah dituduh kelompok Dewan Jenderal,” jawabnya Jenderal Yani dengan tenang. “Kau bisa ngelawan nggak.” Sambung Lasmidjah.
Sudah lah Yu, kita lihat saja. Yu merasa cape ya?” “Siapa yang tak kesal Yan,” lanjut Lasmidja, “situasi politik memang sedang membingungkan. Keadaan di tubuh PNI sendiri sedang kisruh, Mas Hardi dituduh macam-macam, antara lain anti PKI, menentang garis Nasakom dan lain-lain.

Tadi siang teman-teman wanita mampir ke rumah, pulang dari latihan militer. Katanya, latihan semacam itu dilakukan seminggu sekali….” Tanya Lasmidja sekali lagi. Tapi Yani tak menjawab. Dia malah menelangkupkan tangannya di belakang kepalanya. Karena tidak menjawab, Lasmidjah tanya lagi, “Kok seperti mau perang, perang melawan siapa?” “Tenang saja Yu, tak akan ada apa-apa kok. Aku juga sudah bicara dengan Mas Hardi.” Akhirnya, Yani angkat bicara juga.

Mendapati situasi politik yang kian hari kian tak jelas, Lasmidjah—perempuan yang dulu di era revolusi sangat getol dalam setiap pergerakan politik, setelah peristia G30S meletus—memutuskan untuk tak lagi terjun ke dunia politik. Dia kecewa dengan politik Indonesia. Dia memilih untuk berkecimpung dalam bidang sosial kemasyarakatan.

Berbagai penghargaan ‘pun pernah dia terima. Di antaranya adalah Bintang Jasa Nararya; Satyalencana Perintis Kemerdekaan; dan Piagam Penghargaan dan Medali Perjuangan Angkatan ’45. (Sumber: Irna H.N. Hadi Soewito, Sri Riris, dkk, Lasmidjah Hardi, Perjalanan Tiga Zaman, 1997).




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id