Nyi Ageng Serang: Pendekar Perang, Nenek Ki Hajar Dewantara
TERBARU , Tokoh 22:01
0
Shares

Hampir bagi tiap orang Indonesia, mendengar nama Ki Hajar Dewantara bukan hal baru. Karena nama itu sering ditemukan di buku-buku sejarah. Atau kadang disiarkan lewat televisi. Bahkan setelah kehadiran media sosial, nama itu menjadi kian akrab. Namun tak enggak, pemilik Ki Hajar Dewantara tak akan pernah ada tanpa perempuan yang satu ini: Nyi Ageng Serang. Sebab, dia adalah neneknya.

Kisah perjuangan Nyi Ageng Serang ini tak kalah menarik dibanding cucunya. Sebagaimana diceritakan dalam Jejak-jejak Pahlawan: dari Sultan Agung hingga Hamengku Buwono IX (1992) karya J.B. Sudarmanto, dia adalah perempuan Jawa ningrat yang dikenal sebagai pendekar perang. Di zamannya, susah membayangkan bagaimana seorang perempuan bertempur melawan musuh, mengingat Jawa saat itu masih sangat tradisional. Nampaknya, tradisionalisme Jawa—dengan segala etiket dan tradisinya yang berlaku—tak menghalanginya untuk turun ke medan perang.

Dia berbeda dengan kebanyakan wanita lain. Dia tak “terpingit”, tetapi malah justru sering mengikuti latihan-latihan perang. Berbagai strategi dia pelajari bersama para para prajurit pria. Tak heran bila di kemudian dia tumbuh menjadi perempuan pendekar yang tak takut kepada musuh tiap kali terjun ke medan peperangan.

Nama aslinya adalah Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi. Dia lahir di Desa Serang (lokasinya kurang lebih 40 km dari sebelah utara Solo) dari keluarga ningrat. Silsilahnya masih nyambung hingga Sunan Kalijaga. Ayahnya, Pangeran Natapraja adalah Bupati Serang, Jawa Tengah yang kelak diangkat menjadi seorang Panglima Perang oleh Sultan Hamengku Buwono I.

Setelah Perjanjian Gianti, 1755, Belanda malah menyerang daerah kekuasan Natapraja. Akibatnya, perang ‘pun tak terelakkan. Pada pertempuran itu, Nyi Ageng ikut terlibat sebagai perempuan pendekar yang gagah berani memegang tonggak dan mengunuskannya ke arah musuh. Dia memang dikenal sangat berani.

Setelah Pengeran Natapraja meninggal, dia yang menggantikan posisinya. Dia menjadi penguasa Serang dan menanggung keselamatan rakyatnya. Saat dia memimpin, Belanda selalu menjadi pengacau. Akibat ulah Belanda, banyak rakyatnya mengalami kelaparan dan kesengsaraan. Karena tak tega melihat kondisi rakyatnya yang menderita, dia turun sendiri ke lapangan untuk membagi-bagikan makanan. Bahkan, dia juga menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk mengusir pasukan Belanda yang menjadi pengacau itu.

Makanya, tatkala Perang Diponegoro meletus pada tahun 1825 sampai 1830, Nyi Ageng Serang menggabungkan diri ke dalam barisan Pangeran Diponegoro untuk membela bangsanya bersama para pasukannya yang loyal. Saat pertempuran meletus, usianya sudah tua dan fisiknya ‘pun melemah. Dia sudah berumur sekitar 73 tahun.

Dari itu, tak memungkinkan bagi dia untuk bergerak aktif seperti saat masih muda. “Sehingga terpaksa dibawa dengan tandu,” sebagaimana tulis Julinar Said dan Triana Wulandari dalam Ensiklopedi Pahlawan Nasional (1995). Dia memimpin pertempuran dari atas tandu itu. Strateginya yang dibutuhkan. “Dalam berperang Nyi Ageng Serang menggunakan teknik ‘daun lumbu’ atau daun keladi hijau. Pasukannya berkerudung daun lumbu, sehingga dari kejauhan tampak seperti tanaman keladi, namun bila musuh mendekat diserang habis-habisan.” Dan pasukannya diberi nama Laskar Gula Kelapa.

Dalam pertempuran ini, suaminya Kusuma Wijaya gugur. Setelah tiga tahun bertempur, dia tak kuat lagi. Bukan kalah, tapi usia yang tak mengizinkannya. Dia kemudian menyerahkan pimpinan kepada Raden Mas Pak-Pak. Pada tahun 1828, dia menghembuskan napas terakhirnya di usia ke 76. Jasadnya dimakamkan di Desa Beku, Kulon Progo, Yogyakarta. Dia kemudian diangkat menjadi pahlawan melalui SK Presiden Republik Indonesia No. 094/TK/Tahun 1974 pada tanggal 13 Desember 1974.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id