Novel Pertama di Nusantara
Serba-Serbi , TERBARU 21:02
0
Shares

Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra. Karya serupa tentu tak asing bagi para penggemar cerita-cerita fiksi. Di Indonesia, belakangan banyak anak bangsa yang mampu membuat karya semacam itu dengan apik. Tapi tahu nggak, apa novel pertama yang pernah beredar di bumi Nusantara?

Claudine Salmon dalam bukunya, Sastra Indonesia Awal, Kontribusi Orang Tionghoa (2010) menjawab pertanyaan tersebut. Dia menulis, “Lie Kim Hok menulis novel Indonesia yang pertama.” Siapa sih Lie Kim Hok itu dan apa novel pertama yang lahir dari tangannya?

Dia adalah salah seorang penulis keturunan Tionghoa. Keluarganya merupakan bagian dari komunitas masyarakat pecinan Bogor. Lelaki kelahiran Selasa, 1 November 1853 itu mendapatkan pendidikan setera bangsa Eropa. Karena dia bisa masuk ke sekolah-sekolah misionaris.

Lantaran mengenyam pendidikan modern, dia tumbuh menjadi penulis yang dapat melahirkan karya-karya mengagumkan. Dia menerbitkan Sair Tjerita Siti Akbari dan buku tata bahasa Malajoe Batawi—sebagai karya pertamanya—pada 1884. Pada tahun berikutnya, 1885, dia menulis Orang Prampoewa.

Baru pada 1886, dia berhasil merampungkan novel perdananya, Tjhit Liap Seng yang terdiri dari 8 jilid. Karya ini yang kelak oleh Salmon disebut sebagai novel pertama di Nusantara.

Pada sampulnya tertulis,“Thjit Liap Seng (Bintang Toedjoeh). Tjerita di Negri Tjina pada djeman karadjaan Taj Tjheng Tiauw, Maha Radja Hamhong. Terkarang oleh jang mengaloewarken, Lie Kim Hok, 1886”.

Roman ini mengisahkan nasib seorang gadis kecil yang terlantar dan diberi nama Thjit Liap Seng Nio atau Nona Bintang Tujuh. Nama tersebut kemudian oleh penulisnya diangkat menjadi judul buku itu. Dengan mengangkat cerita tersebut, Lie memberikan perhatian khusus kepada kaum lemah.

Namun berdasarkan pengamatan Salmon, dalam menulis novel itu Lie menyadur dua roman besar sekaligus, yakni Klaasje Zevenster (1886) karya Jacob van Lennep dan Les Tribulations d’un Chinois en Chine (1879) karya Jules Verne. Dia kembali menyusun kedua cerita itu secara bebas dan latar tempat yang dihadirkan adalah Tiongkok.

Setelah menulis itu, novel-novel selanjutnya—ibarat air—terus mengalir deras. Di antaranya adalah Dji Touw Bie (1887) 4 jilid, Nio Thian Lay (1887) 4 jilid, Lok Bouw Tan (1887) 5 jilid, Ho Kioe Tan (1887) 1 jilid, dan Pembalasan Dendam Hati (1905) 3 jilid.

Selain novel, dia juga menulis karya-karya non-fiksi. Seperti: Kitab Edja (1884), Malajoe Batawi (1885), Aturan Sewa-Menjewa (1886), Pek Hauw Thouw (1886), Hikajat Khonghoetjoe (1897), dan Dactyloscopie (1907). Di samping itu, dia juga aktif menulis di berbagai media dan menerjemahkan banyak buku.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs