Museum Bahari: Sejarah Kejayaan Nenek Moyangku, Seorang Pelaut
Tempat 12:31
0
Shares

Membangun peradaban adalah seperti memanah: kemajuannya sangat bergantung pada tarikan busurnya. Semakin kita memahami sejarah, maka semakin besar peluang kita mencetak masa depan yang bersejarah pula. Maka, jika bangsa ini sedang ingin mengambalikan kejayaan nenek moyang kita di laut (visi kemaritiman), tak bisa tidak harus dimulai dari pengetahuan dan kesadaran akan sejarah ketangguhan nenek moyang kita di laut dahulu. Dan, sejarah itu salah satunya ada di Jakarta, di Museum Bahari yang hari ini (Selasa, 16 Januari 2019) terbakar itu.

Museum Bahari adalah museum yang menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Museum ini terletak di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa dan berada di bawah pengawasan Dinas Kebudayaan Permuseuman Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Sebelum tahun 1500, kawasan Sunda Kelapa di muara Sungai Ciliwung merupakan pelabuhan Kerajaan Pajajaran. Tempat itu berkembang dengan dibangunnya pos perdagangan sebagai buah perjanjian antara warga lokal dengan orang Portugis, tahun 1522.

Pada tahun 1526-1527, Sunda Kelapa ditaklukkan oleh Fatahillah yang dibantu tentara-tentara Islam dari Cirebon dan Demak. Di sana pun didirikan Kota Jayakarta.Penguasa Kota Jayakarta saat itu tidak menerima kehadiran orang Portugis hingga tahun 1596 datanglah kapal-kapal Belanda pertama kali di Sunda Kelapa.

Pada abad ke-17, tepatnya tahun 1610-1611, Belanda diberi izin membangun sebuah gudang serta sebuah benteng di sisi timur muara Sungai Ciliwung. Kemudian, Belanda berhasil menaklukkan Jayakarta dan mendirikan Batavia di sana. Kawasan Sunda Kelapa didirikan benteng dan menjadi kantor pusat VOC di Asia tahun 1619.

Sepuluh tahun kemudian, tahun 1629, Batavia dikepung Sultan Agung Mataram. Pimpinan VOC saat itu, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen (JP Coen), meninggal setelah mengidap penyakit kolera.

Sepeninggal JP Coen, daerah sisi barat Sungai Ciliwung dikembangkan dan dikelilingi oleh tembok kota dan kubu-kubu. Kubu yang masih ada sampai saat ini adalah kubu Kulemborg dan Zeeburg.

Pada tahun 1652, barulah bagian tertua dari bangunan gedung rempah dibangun, yang sekarang dikenal dengan nama Museum Bahari. Pada masa pendudukan Belanda, bangunan ini dulunya gudang yang berfungsi untuk menyimpan, memilih, dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-rempah yang merupakan komoditi utama VOC yang sangat laris di pasaran Eropa.

Bangunan museum ini memiliki dua sisi. Sisi barat dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat (dibangun secara bertahap mulai tahun 1652-177). Adapun sisi timur disebut Oostzijdsche Pakhuzen atau Gudang Timur. Gudang barat terdiri dari empat unit bangunan, dan tiga unit di antaranya yang sekarang digunakan sebagai Museum Bahari.

Adapun pada masa pendudukan Jepang, gedung-gedung ini dipakai sebagai tempat menyimpan barang logistik tentara Jepang. Dan setelah Indonesia merdeka, bangunan ini dipakai oleh PLN dan PTT untuk gudang. Selanjutnya, pada tahun 1976, bangunan cagar budaya ini dipugar kembali, dan kemudian pada 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari.

PA040025_resize-1024x768Koleksi-koleksi yang disimpan terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya, dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Selain itu, ada pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Juga peralatan yang digunakan oleh pelaut pada masa lalu seperti alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar, dan meriam.

Museum Bahari juga menampilkan koleksi biota laut, data-data jenis, dan sebaran ikan di perairan Indonesia, serta aneka perlengkapan, cerita, dan lagu tradisional masyarakat nelayan Nusantara. Museum ini juga menampilkan matra TNI AL, koleksi kartografi, maket Pulau Onrust, tokoh-tokoh maritim Nusantara, serta perjalanan kapal KPM Batavia-Amsterdam.

Presiden Jokowi telah berkomitmen menjadikan kejayaan kita di laut sebagai salah satu visi kepemimpinannya. Maka, sudah tentu beliau melalui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus memastikan Museum Bahari yang terbakar itu dibangun kembali secara lebih memukau untuk menjadi salah satu titik pengetahuan dan kesadaran kita akan kejayaan nenek moyang kita di laut dulu. Dengan begitu, akan lahir generasi-generasa baru dengan rasa bangga dan cita-cita kemaritiman.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs