Mesin Ketik Ali Ebram: Saksi Sejarah di Balik Misteri Supersemar
Peristiwa , TERBARU 11:54
0
Shares

Pagi itu, Jumat 11 Maret 1966 Bung Karno meninggalkan Istana Bogor. Dia naik helikopter menuju Jakarta hendak menghadiri sidang kabinet 100 menteri di Istana Merdeka. Ali Ebram selaku staf Asisten I Intelijen Resimen Cakrabirawa menyusul melalui jalur darat.

Setiba di Jakarta, Ali bertemu Kemal Idris, Kepala Staf Kostrad. Dia menyapa, “Hai, Jenderal, Anda kok pakaiannya baru sekarang?” Mendapat pertanyaan semacam itu, Kemal tersinggung, “kamu dodol, nek ngomong nyakiti ati”. “Lho pakai baru kok sakit,” Ali menimpali. Terus, Kemal malah bilang begini, “ya, ngerti aku maksudnya.

Sidang baru saja berlangsung 10 menit, sementara di luar, jalanan sesak massa. Mereka adalah ribuan mahasiswa yang sedang melakukan demonstasi. Goal mereka adalah “sidang bubar”.

Dari arah Monas, segerombolan orang mendekat. Mereka membawa senjata api tapi tanpa seragam. Itu ‘lah yang kemudian disebut “pasukan liar”. Jumlah mereka kurang lebih 80 orang/dua kompi.

Orang bertanya-tanya, siapa mereka? Berdasarkan pengakuan Kemal, pasukan itu adalah anak buah Sarwo Edhie. Sarwo sendiri menggerakkan pasukannya atas perintah Kemal. Adapun Kemal disuruh Suharto selaku Menteri Panglima AD. Tujuannya adalah menangkap Subandrio, orang dekat Bung Karno yang diduga terlibat G30S.

Mendapati adanya “pasukan liar,” Brigjen Sabur, komandan Cakrabirawa segera mengirim surat singkat kepada ajudan presiden, Kol Pol Sumirat yang duduk persis di belakang Bung Karno. Nota itu berbunyi, “berhubung adanya pasukan yang bergerak di sekitar istana, Bapak supaya cepat-cepat meninggalkan rapat”.

Setelah membacanya, Bung Karno kaget. Tak lama dia langsung meninggalkan rapat dan meminta Leimena (Waperdam) untuk mengambil alih pimpinan sidang.

Ketika melihat helikopter kepresidenan melambung di udara, sebagai pengawal, Ali Ebram ‘pun bergegas pergi. Dia menyusul bosnya.

Di istana, sidang masih berlangsung. Setelah bubar, Amirmachmud (Pangdam V Jaya), Brigjen Basuki Rachmad (Menteri Veteran) dan Brigjen M Jusuf (Menteri Perindustrian) berkumpul di tangga sebelah kanan bagian barat. Mereka berembuk “sesuatu”.

Selepas pertemuan singkat itu, mereka mendatangi Suharto yang tak ikut sidang karena alasan sakit. Setelah sampai di rumahnya, Jl Agus Salim 98, Suharto menitip surat. Dia meminta supaya mereka memberikannya kepada Bung Karno.

Tak lama setelah Ali sampai di Istana Bogor, datang ‘lah ketiga orang itu. Mereka menemui pos jaga lalu mengutarakan niatnya. Penjaga pos itu datang menemui Ali, “Pak ini ada Jenderal mau masuk.” “Ya sudah, biarkan masuk,” kata Ali.

Mau apa, Pak,” tanya Ali kepada Amirmachmud. “Saya mau ketemu Sabur,” katanya. “Harap lapor posko dulu,” timpal Ali. “Enggak perlu, saya mau ketemu Sabur,” Amir tak mau melapor. “Ya sudah, silakan ketemu, itu rumahnya di belakang,” jawab Ali.

Setelah ketemu Sabur, ketiga orang itu dipersilakan menunggu di paviliun, tempat Ny. Hartini, istri Bung Karno yang ke-4 tinggal. Tak lama, Bung Karno mengajak mereka masuk ke ruang utama. Ali yang awalnya berada di luar ‘pun dipanggil masuk. “Kamu dipanggil Bapak” kata Sabur menyampaikan pesan Bung Karno. Ali akhirnya bergabung dengan mereka.

Ketiga orang itu menyampaikan surat Suharto. Surat itu berisi pernyataan bahwa “Suharto tidak akan bertanggung jawab terhadap keamanan apabila tidak diberi perintah tertulis dari Sukarno.”

Pak, berikan perintah pada Suharto biar aman,” kata Amir dengan nada terkesan memaksa. Awalnya Sukarno enggan. Tapi Amir ngotot. Dia malah berdiri dengan sikap yang kurang pantas dilakukan di hadapan presiden. “Sudah Bapak bikin saja,” kata Amir. Mendapati sikap Amir yang kurang sopan, lantas Ali terpaksa ikut campur, “Hee, yang sopan, dong, Jenderal!”

Ali berkata seperti itu karena sudah tak senang melihat tingkah Amir dari awal. “Waktu melihat tingkah Amir itu, rasanya sudah ingin merogoh pistol saja. Kalau tidak ada Bapak (Sukarno, maksudnya), enggak tahu apa yang terjadi,” tutur Ali ketika diwawancarai oleh DeTAK, 22 dan 27 Februari 1999.

Tak lama setelah menegur Amir, Ali disuruh ke dalam. Bung Karno marah. Dia menampar Ali, “kamu itu pembantuku, jangan ikut-ikut! Kamu diam saja!

Setelah ditegur, Ali langsung keluar dari paviliun dengan marah dan kembali menuju pos jaga. Dia bukan marah kepada Bung Karno tapi kepada Amir.

Perbincangan antara Sukarno dan ketiga orang itu cukup lama, yakni dari pukul 14.30 sampai 17.30. Sekitar pukul 15.00, Ali dipanggil lagi oleh Sabur. Dia bukan lagi diperintahkan menemui Amir dan kedua kawannya itu.

Tapi dia disuruh membantu Sabur mengerjakan tugas mengetik surat. “Saya tidak bisa ngetik,” kata Ali dengan nada kesal. “Sudahlah, ikut saja. Bantu saya,” Sabur memaksa. Terus dia malah meminta Ali untuk mencari blangko surat yang berkop kepresidenan. “Lho, di Jakarta, dong,” lagi-lagi Ali membantah. “Sudah cari saja,” kata Sabur.

Akhirnya mereka masuk ke ruangan tengah paviliun. Di ruangan itu, dia duduk di depan mesin ketik. Sabur di sampingnya. Di ruangan itu dan di tangan Ali Ebram ‘lah surat yang nanti dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) lahir. Sukarno mendikte dan Ali yang mengetik.

Surat itu diketik dengan spasi dua dan sebanyak dua lembar. Di bawah tanda tangan terdapat kode pengetik. Kode itu adalah YD, yakni nama tua Ali yang memiliki kepanjangan “Yosodiningrat.”

Namun belakangan, dalam Supersemar versi Orde Baru, kode pengetik itu tak ada lagi. Dan, jumlah lembarnya hanya satu.

“…Ya, biar,” kata Ali Ebram kepada DeTak. Nampaknya Ali ‘pun tak mau berkonflik dengan masa lalunya walaupun kelak menjadi korban. 1967, karir dia sebagai tentara tamat. Dia ditangkap dan dipenjara selama 12 tahun tanpa alasan yang jelas. (Eros Djarot, dkk, Misteri Supersemar, 2006)




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs