Biografi Sitor Situmorang
Tokoh 08:17
0
Shares

Semangat dan konsisten dalam mempertahankan idealisme hingga usia senja. Begitulah kiranya sifat dan semangat juang dari putra Batak ini bila dideskripsikan. Ia adalah Sitor Situmorang, seorang penyair dan sastrawan yang telah melahirkan ratusan karya berbentuk puisi, sajak dan cerpen.
Beliau lahir pada 2 Oktober 1924 di Harianboho, Sumatera Utara. Ia dibesarkan hingga remaja dalam sebuah masyarakat dengan kultur Batak.

Minatnya terhadap dunia sastra berawal saat Sitor membaca buku Max Havelaar karya Multatuli. Ketika itu, ia seorang remaja. Berbekal pemahaman bahasa Belanda yang cukup baik, ia pun menerjemahkan sajak Saidjah dan Adinda dari buku tersebut ke dalam bahasa Batak.
Melalu karya Multatuli ini pula kesadaran kebangsaan dan sikap anti imperialis makin meruncing dalam jiwa Sitor. Sitor sendiri merupakan anak dari Ompu Babiat Situmorang, salah satu pejuang anti kolonial asal Batak dalam perang antara Sisingamangaraja XII dengan Belanda.
Dalam kesusasteraan Sitor dikenal sebagai angkatan 45, yang berarti seangkatan dengan nama-nama seperti Chairil Anwar, Idrus, dan Asrul Sani. Di antara nama-nama yang tak tergantikan dalam sejarah sastra Indonesia itu, Sitor menempati kedudukan yang istimewa.
Memasuki dekade 1950-an, Sitor banyak menciptakan karya puisi yang fenomenal, seperti yang terangkum dalam kumpulan puisi Surat Kertas Hijau (1954) dan Dalam Sajak (1955). Banyak pihak menganggap karya-karya Sitor banyak yang bernuansa nature dan diwarnai gaya sastra tradisional semacam pantun. Mengomentari hal ini, Sitor berucap: “Saya menggali tradisi lama karena saya terbentuk oleh tradisi itu. Sejak SMA yang terngiang di kepala saya adalah pantun-pantun.”.
Selain menulis puisi, prosa, dan drama, sejak dekade 1950-an Sitor juga terlibat aktif dalam berbagai polemik kebudayaan, khususnya dalam perdebatan arah bentuk kebudayaan Indonesia.

Karya-karya sastra Sitor lainnya yang juga diterbitkan di tahun 1950-an, antara lain, Wajah Tak Bernama (1955), Drama Jalan Mutiara (1954) dan cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956).
Selain bergelut dalam dunia sastra, Sitor juga meniti karir sebagai wartawan. Ia pernah menjadi pewarta berita di berbagai media, seperti Harian Suara Nasional, Waspada dan Warta Dunia.
Menjelang akhir dekade 1950-an, tulisan-tulisannya semakin kental dengan aroma Marhaenisme. Ia yang sebelumnya mengedepankan gagasan-gagasan seni modernis, seni yang mempunyai otonominya sendiri dalam kehidupan manusia, bergulir memahami seni sebagai sesuatu yang praksis. Di akhir dekade yang sama, ia ditunjuk menjadi ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) yang mendukung tata politik Demokrasi Terpimpin. LKN merupakan organisasi kebudayaan yang berafiliasi pada PNI. Sejak saat itulah Sitor terlibat secara total dalam kancah perpolitikan nasional. Di masa Demokrasi Terpimpin, ia bersama LKN yang dipimpinnnya menjadi pendukung setia kebijakan Presiden Soekarno, khususnya di sektor kebudayaan.
Sikap politik yang ia ambil berpengaruh pula pada beberapa karyanya yang terbit di tahun 1960-an. Contohnya, puisi “Zaman Baru” yang ia ciptakan di tahun 1962. Puisi tersebut diciptakannya setelah ia bersama tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Rivai Apin, berkunjung ke Tiongkok. Sitor mengungkapkan kekaguman dan dukungannya bagi revolusi rakyat Tiongkok melalui “Zaman Baru”.
Dalam suatu wawancara dengan Majalah Tempo pasca-Reformasi, Sitor mengemukakan alasan dukungannya terhadap Tiongkok ketika itu:
“Saya melihat Tiongkok sebagai bangsa yang menjunjung nasionalisme. Sebagai nasionalis aliran Soekarno saya melihat itu. Soviet tidak saya anggap sebagai proyek nasionalis karena budayanya lain dengan kita. Ada budaya Barat di sana. Sementara Tiongkok sejarahnya mirip dengan kita. Budaya mereka diinjak oleh imperialis, seperti kita.”
Pada tahun 1965, Sitor menerbitkan kumpulan esai politiknya: Sastra Revolusioner. Klimaks konflik politik era Demokrasi Terpimpin ditandai dengan meletusnya Tragedi Gerakan Satu Oktober (Gestok) 1965. Situasi pun berubah dengan cepat. Kekuatan Soekarnois dan komunis terpukul oleh kekuatan baru yang diberi label “Orde Baru”. Hingga akhirnya, pada saat Sukarno jatuh, Sitor ‘pun dijebloskan di penjara Gang Tengah Salemba di tahun 1967 hingga delapan tahun ke depan. Di penjara, berbeda dengan Pramoedya Ananta Toer, ia dilarang menulis.
Pada tahun 1975, Sitor dilepaskan dari bui. Namun ia tetap dikenai status tahanan rumah hingga tahun 1976. Berbagai kesulitan hidup pun dialami oleh Sitor dan keluarga, seperti halnya mantan tahanan politik (tapol) lainnya di era Orde Baru.
Untuk menghindari tekanan politik lebih lanjut dari rezim Soeharto, Sitor memilih menetap di Paris, Perancis. Pada masa itu, negara-negara Eropa seperti Perancis dan Belanda memang menjadi tempat tujuan para pelarian atau mantan tapol Indonesia masa Orde Baru, terutama yang terkait dengan peristiwa 1965. Di tahun 1981, Sitor pindah ke Belanda dan menjadi dosen di Universitas Leiden selama sepuluh tahun. Setelah itu, Sitor kembali berpindah-pindah tempat dari Perancis hingga Pakistan.
Sitor kembali ke Indonesia setelah kejatuhan Soeharto tahun 1998. Dalam berbagai forum dan interview dengan berbagai media di masa reformasi, ia tetap membenarkan sikap politik dan karya-karyanya yang menyokong kebijakan Soekarno pada tahun 1960-an. Sikap yang mengakibatkan dirinya menjadi tapol dan eksil di era Orde Baru. Seperti itulah konsistensi Sitor, sang penyair Soekarnois.
Bagi Subagio Sastrowardoyo dalam Manusia Terasing di Balik Simbolisme Sitor Situmorang yang diterbitkan pertama kali tahun 1975 oleh Dewan Kesenian Jakarta, sajak-sajak Sitor sebagai wakil dari peradaban pribadi yang tak mewakili jiwa bangsanya, situasi zamannya, bahkan tidak peradaban Barat sekalipun. Sajak-sajak Sitor merupakan wakil nihilisme.
Pada tahun 2009, Komunitas Bambu menerbitkan karya tentang Sitor berjudul “Menimbang Sitor Situmorang” yang merupakan kumpulan tulisan orang-orang yang mengenal Sitor dengan dieditori V.S. Naipaul. Menurut Johann Angerler, mahasiswa bimbingan Sitor di Leiden, Sitor adalah seorang Batak sejati. Ia melukiskan bagaimana kefasihan pembimbingnya itu menggambarkan kebudayaan Batak, tanah kelahirannya, dari perspektif antropologi, sejarah, sekaligus orang dalam. Sitor bisa menjadi sangat sentimentil, menggebu-gebu, dan tak pernah capai ketika menceritakan dengan detil sejarah dan struktur masyarakat Sumatera Utara.
Yang cukup menarik dan juga komprehensif adalah tulisan Martina Heinschke yang mengajak kita untuk menimbang kembali perpindahan-perpindahan sikap kesenian Sitor pada tahun 50-an, di mana Heinschke tidak menganggapnya sebagai suatu inkonsistensi. Ia membacanya sebagai suatu sikap keterbukaan dalam membangun konsepsi diri bila kita membaca Sitor sebagai sastrawan yang mencari identitas di tengah negeri yang juga mencari identitas. Meminjam apa yang pernah diungkapkan Sitor dalam esainya, ia adalah manusia iseng yang segala tingkah laku bukan hanya tuntutan peradaban, tetapi menjadi kegiatan yang lahir dari diri sendiri, daya cipta kebudayaan atau bersumber padanya.
Adapun tulisan V. S. Naipaul sendiri, pemenang Nobel Sastra berdarah Asia Selatan, yang mengisahkan perjumpaan pribadinya dengan Sitor melalui cara ungkap sastrawi dan liris, kita jumpai Sitor sebagai seorang lelaki berkulit sawo matang yang rumit, manusiawi, suka merenung, dan memiliki rumah yang menjengkelkan bernama Indonesia. Ia memotret Sitor sebagai seorang manusia biasa dalam kesehariannya.
Kini, Sitor telah tiada. Namun, kita berjanji untuk terus mengabadikannya dengan terus membaca dan mengambil inspirasi dari biografi, sajak dan seluruh karyanya. (Dari berbagai sumber)




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id