Media Massa Islam Pertama di Nusantara
Serba-Serbi , TERBARU 05:48
0
Shares

SejarahRI.com – Pada 1906, sebuah majalah Islam, Al-Imam terbit di Singapura. Media cetak ini berada di bawah asuhan Tahir Jalaluddin Al-Azhari (1869-1956), seorang ulama asal Sumatera yang pernah berguru kepada Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (ulama tradisional Nusantara) dan Muhammad Abduh (ulama reformis Mesir). Menurut Luthfi Assyaukanie dalam Islam and the Secular State in Indonesia (2009), majalah ini memiliki keterkaitan erat dengan Al-Urwatul Wusqa, majalah yang diterbitkan oleh Jamaludin Afghani. Selain itu, tulis Luthfi, “(terjemahan, Red), Barangkali lantaran kedekatannya dengan Abduh, Jalaluddin membuat format dan konten majalah ini mirip Al-Manar’nya Abduh.”

Peredarannya cukup luas mencakup Semenanjung Malaya dan Pulau Sumatera, terutama Minangkabau sebagaimana yang ditulis oleh Burhanuddin Daya dalam Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam (1990). Namun media ini hanya beroperasi selama tiga tahun. “Di permulaan tahun 1909 M terhentilah penerbitan majalah yang menjadi pelopor pembaharuan Islam itu,” catat Hamka dalam Ayahku (1982).

Mendapati majalah ini tak lagi terbit, Abdullah Ahmad sebagai delegasi Minangkabau sedikit kecewa. Dia akhirnya mengadakan rapat dengan beberapa ulama. Maksud pertemuan itu adalah menyampaikan rencana penerbitan media baru yang juga mengusung visi sama. Setelah pindah dari Padang Panjang ke Padang, cita-cita itu dia realisasikan. Lewat bantuan para filantropis dari kalangan pedagang lokal terbitlah Al-Munir di Padang pada 1 April 1911. “Para kontributor dari majalah ini termasuk para tokoh ulama-intelek dan intelegensia lokal,” tulis Yudi Latief dalam Inteligensia Muslim dan Kuasa: Geneologi Inteligensia Muslim Indonesia Abad Ke-20 (2012).

Menurut Merle Calvin Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia Since C. 1200 (2001), majalah tersebut merupakan “jurnal Islam modernis yang pertama di Indonesia (terjemahan, Red).” Tujuan penerbitan majalah ini, sebagaimana diterangkan oleh Masoed Abidin dalam Ensiklopedi Minangkabau (2005), dapat dilihat dari namanya, Al-Munir yang punya arti lilin atau suluh. Dengan hadirnya majalah ini, diharapkan masyarakat muslim di Hindia-Belanda mendapat “penerangan agama”.

Tulisan yang dipakai adalah aksara Arab-Melayu dengan ejaan yang disesuaikan dengan standar sekolah-sekolah pemerintah Hindia-Belanda. Rata-rata, edisinya 16 halaman. Ia terbit tiap Sabtu, awal dan pertengahan bulan dalam kalender Islam. Pendistribusiannya melalui 31 agen di berbagai daerah, mulai dari Sumatera, Semenanjung Malaya, hingga jawa. Bahkan kemudian hari, catat Yusuf Abdullah Puar dalam Perjuangan dan Pengabdian Muhammadiyah (1989), peminatnya bertambah hingga menjangkau Sulawesi dan Kalimantan.

Para pendirinya adalah ulama “Kaum Muda” yang tergabung dalam Sjarikat Ilmu. Himpunan ini ‘pun menjadi badan penerbitan serta pengelolanya. Mereka, di antaranya adalah Abdullah Ahmad, Marah Muhammad, Sutan Djamaluddin Abubakar, Abdul Karim Amrullah (ayah Hamka), Muhammad Thaib Umar, dan Sutan Muhammad Salim (ayah Agus Salim). Para penulisnya yang tak masuk dalam struktur kepengurusan adalah Ibrahim Musa Parabek, Abbas Abdullah, Zainuddin Labay El-Yunusy, dan Muhammad Jamil Jambek.

Seperti yang disampaikan Deliar Noer dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia (1980), bila ditinjau dari konten muatannya, Al-Munir hampir menyerupai Al-Imam. Bahkan, banyak topik-topik yang pernah dimuat oleh Al-Imam kembali diangkat oleh Al-Munir. Secara garis besar, rubrik yang disediakan adalah tajuk rencana, tanya jawab fikih, berita dalam/luar negeri, surat kiriman, dan terjemahan majalah-majalah Timur Tengah (seperti Al-Manar dan Al-Ahram). Selain rubrik tersebut, media ini juga kerap menampilkan argumentasi besar tentang kesesuaian Islam dengan sains dan rasionalitas modern. Dalam hal teologi, Al-Munir menjadi media puritanisasi Islam yang anti-taqlid, bi’dah, khurafat, dan tarekat.

Di depan publik, majalah ini hadir sebagai media yang berlawanan dengan Islam tradisional yang sudah berkembang lama di Nusantara. Pada tahun 1915, majalah ini berhenti terbit karena faktor dana yang terlalu minim. Sebab, para pendirinya hanya berprofesi sebagai ulama yang pendapatannya tak dapat diinvestasikan ke majalah itu. Tujuan awalnya ‘pun hanya dakwah bukan profesionalitas bisnis.

Rusydi Hamka menggambarkan dalam Etos Iman, Ilmu dan Amal dalam Gerakan Islam (1986) bahwa pada edisi terakhir majalah itu—yang bertarikh 15 Rabiulawal 1333 (31 Januari 1915)—memuat tulisan perpisahan. Judulnya, “Khatama”. Majalah ini diumumkan tak bisa berlanjut.

Setahun setelah majalah ini “gulung tikar”, pendirinya, Abdullah Ahmad tak putus asa. Dia tetap berjuang untuk menghidupkan jurnalistik Islam di eranya. Pada 1916, dia bekerja sama dengan Tjokroaminoto, Ketua Sarekat Islam (SI) mendirikan majalah Al-Islam di Surabaya. Majalah ini menjadi penanda mulainya orang Islam di Hindia-Belanda menerima huruf latin secara lebih masif.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id