Masjid Rasa Kelenteng
Tempat , TERBARU 17:14
0
Shares

Sejak rezim Orde Baru (Orba) masih jaya, kebijakannya kerap membuat beberapa kalangan minoritas termarginalisasi. Salah satunya adalah warga Tionghoa keturunan. Dengan alasan pembauran (assimalation), mereka dipaksa taat untuk tak menampilkan segala bentuk tradisi dan simbol-simbol kebudayaanya di depan publik luas. Atas nama nasionalisme, identitas mereka dileburkan dengan alasan supaya tak lagi ada batas jarak antara “Chinese” dan “Inlander”.

Akibatnya, mereka tak bisa mengekspresikan kekayaan perbedaan yang dimiliki. Nasib mereka berubah baru setelah reformasi. Alam demokrasi memungkinkan mereka untuk tak lagi dikekang. Kebebasan yang mereka mimpikan, kini menjadi kenyataan. Bak burung yang baru keluar dari sangkar, mereka bahkan turut merayakan gempita euforia.

Dari itu, tak heran bila PITI membuat sejarah baru di Surabaya pada tahun 2001, tiga tahun setelah Soeharto lengser. Bertepatan dengan peringatan Hari Isra’ Mi’raj, organisasi muslim Tionghoa tersebut bekerja sama dengan Yayasan Haji Muhammad Ceng Ho dan segenap warga Tionghoa Surabaya dalam rangka peletakan batu pertama pembangunan masjid di Jalan Gading No. 2, belakang Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.

Di lokasi itulah kelak dibangun sebuah masjid yang menyerupai kelenteng, sebuah nama tempat ibadah umat Konghucu. Desainnya khas Tionghoa. Jika dipandang dari luar, orang tak akan menyangkanya masjid. Sebab, biasanya masjid identik dengan bangunan berkubah ala Timur Tengah.

Namun ketika masuk ke dalam, baru orang akan yakin, itu adalah masjid. Sebab, di sana tak ada patung dewa-dewa. Pengunjung justru akan menemukan mimbar dan mihrab. Masjid ini diberi nama Muhammad Ceng Ho. Nama ini diambil dari seorang penyebar Islam dari negeri Tionghoa pada abad ke-15.

Dalam buku Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara (2000), Yuanzhi Kong menceritakan bahwa pejalanan Laksamana Ceng Ho ke Surabaya merupakan pelayarannya yang ketujuh. Informasi tersebut dia ambil dari catatan Qian Wen Ji. Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa Ceng Ho tiba di Surabaya pada 7 Maret 1432.

Untuk sampai ke Surabaya, dia mengarungi lautan selama 25 hari dari Campa. Sebelumnya, dia bersama rombongannya berangkat dari Long Wan, Nanjing (Nanking) pada 19 Januari 1431. Itu adalah hari pertama dia melakukan ekspedisinya yang ketujuh. Perjalanan ini merupakan pelayaran terakhirnya.

Sebelum itu, sudah banyak daerah lain yang dia taklukkan. Tak heran, karena dia adalah laksamana tangguh. Karirnya sebagai pelaut bermula sejak tahun 1383. Sejak itu, dia baru berumur 12 tahun. Nama aslinya adalah Ma He.

Dia mendapatkan hukuman kebiri, lalu dibawa ke Nanjing dan dijadikan pembantu putra kaisar, Zhu Di. Dari situlah nasibnya berubah. Karena tinggal di istana, dia menjadi akrab dengan buku. Selain sebagai pesuruh, dia ternyata juga rajin membaca dan tumbuh sebagai pendekar yang tangguh dalam setiap pertempuran.

Karena melihat bakatnya luar biasa, Zhu Di kagum. Kelak ketika pangeran ini sudah menjadi kaisar, nasib Ma He ‘pun ikut berubah. Zhu Di mengubah nama Ma He menjadi Ceng dan memberikan mandat untuk memimpin pelayaran. Dari sejak itulah, dia mendapatkan pangkat “Laksamana”.

Sebagai muslim yang taat, ketika sampai di Surabaya, dia tak hanya menjalankan misi kaisar. Lebih dari itu, dia menyebarkan agamanya. Meski berdasarkan catatan Ma Huan—seorang reporter Ceng Ho dalam beberapa ekpedisinya dan sekaligus penulis Yingyai Shenglan—jauh sebelum rombongannya datang di Surabaya sudah terdapat komunitas muslim asing non-pribumi, tak terkecuali muslim Tionghoa (Zuang Wubin, Chinese Muslims in Indonesia, 2008).

Karena jasanya dinilai begitu besar dalam menyebarkan Islam, namanya kemudian hari diabadikan oleh PITI sebagai nama masjid. Masjid pertama yang menggunakan nama itu adalah masjid yang berada di Surabaya itu yang dibangun pada tahun 2002. Lalu, kemudian menyusul beberapa masjid lain di berbagai kota.

Di antaranya adalah Masjid Ceng Hoo di Palembang pada tahun 2006; di Kutai Kartanegara pada 2007; di Purbalingga pada 2011; di Jalan Hertasning Baru pada 2014; di Batam pada 2015; di Banyuwangi pada 2016; dan masih banyak di daerah lain yang sedang dalam pembangunan.

Yang unik dari masjid-masjid ini adalah desain bangunannya rata-rata bernuansa Tionghoa dan sejenak dari luar terkesan seperti klenteng. Bangunan semacam ini memberikan arti penting terhadap peradaban Indonesia dan menjadi sebuah rumah ibadah yang merepresentasikan kebhinekaan.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs