Kisah Makam di Tengah Laut
Tempat , TERBARU 22:43
0
Shares

Demak tak hanya punya kisah walisongo. Pada abad ke-20, di sana hidup seorang ulama bernama Syekh Abdullah Mudzakir. Sebagai tokoh agama, dia menghabiskan waktunya untuk menanamkan nilai-nilai Islam di sepanjang kawasan Pantai Sayung. Lebih dari itu, dia juga pernah berjuang melawan penjajahan Belanda di era 1900-an sampai 1950-an.

Setelah meninggal, dia dikubur di sebuah dusun terpencil, Tambaksari (Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak). Makam ini sekarang menjadi salah satu destinasi wisata religi di Jawa Tengah. Banyak turis berbondong-bondong mengunjunginya.

Karena keberadaannya unik. Makam tersebut berada di tengah laut. Padahal, “Semula makam di sini adalah daratan dan tempat pemakaman umum, namun lama kelamaan habis digulung abrasi,” kata Fauzan, juru kunci Makam Mbak Mudzakir kepada Tribunnews.com (4 September 2016). Ajaibnya, “Meski dusun telah habis dan tenggelam, makam Mbah Mudzakir masih tetap bertahan dan utuh,” imbuh Fauzan.

Banyak orang menganggapnya itu adalah karomah. “Salah satu karomah yang diberikan Allah kepada Syekh Abdullah Mudzakir adalah makamnya tidak terendam air laut,” tulis SM Said dalam rubrik “Cerita Pagi”, “Karomah Syekh Abdullah Mudzakir Demak” di Sindonews.com (9 Februari 2018).

Mbah Mudzakir lahir pada tahun 1869 di Dusun Jago, Desa Wringinjajar, Kecamatan Mranggen. Dia berguru ke banyak ulama di Jawa Tengah. Salah satunya adalah Mbah Soleh Darat, kyai yang juga pernah menjadi guru R.A Kartini—ikon perempuan Indonesia itu.

Pada tahun 1900-an, dia menikah dengan seorang perempuan bernama Latifah. Karena menjadi istri kyai, dia ‘pun dipanggil “Nyai”. Tak cukup satu, Mbah Mudzakir mempersunting istri lagi. Dia menikahi Nyai Asmanah dan tinggal di Tambaksari, Bedono. Beberapa waktu kemudian, dia menikahi dua perempuan lagi, Nyai Murni dan Imronah. Dari empat istri itu, dia punya 18 anak.

Selama berada di sana, dia dikenal sebagai seorang kyai yang kharismatik dan memiliki kesaktian. Selain sebagai petani, dia juga sering didatangi tamu. Mereka yang berkunjung itu, rata-rata adalah orang yang minta bantuan doa supaya disembukan dari penyakit.

Karena Mbah Mudzakir memang dikenal sebagai ahli pengobatan tradisional yang doanya mujarab. Namun dia tak pernah meminta imbalan. “Tak dipungkiri, keahlian dan keikh[a]lasannya membuat nama Syekh Mudzakir kian dikenal orang dan sangat mendukung upayanya dalam melakukan syiar Islam”, tulis Said.

Selain punya kemampuan itu, dia juga dikenal menguasai kanuragan dan kebal dari senjata tajam. Dia kemudian meninggal pada 1950 dan di makamkan di hutan mangrove yang terdapat ribuan pohon bakau yang kelak terkena abrasi itu.

Akses masuk hutan yang sangat alami dengan pemandangan tambak ikan dan jalan sempit akan menjadi tantangan. Pemandangan paling tak terlupakan adalah indahnya sunset di tengah hijaunya hutan bakau nan asri dan sejuknya udara laut. Burung bangau yang bertengger di pepohonan juga akan menggugah inspirasi,” tulis Claudia Kaunang, (dkk) ketika mendeskripsikan panorama Makan Mbah Mudzakir Sayung dalam bukunya, 101 Travel Tips dan Stories: Indonesia 1 (2017).




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id