Lucunya Kisah Hatta di Banda Neira
TERBARU , Tokoh 16:17
0
Shares

SejarahRI.com – Hatta kerap identik sebagai individu yang introverted. Karena dia lebih memilih membaca buku ketika punya waktu luang daripada mengumbar tawa. Hampir semua foto tentangnya menggambarkan karakteristik itu, kaku, pendiam, dan lugu. Tapi anggapan ini tak sepenuhnya benar. Apalagi ketika menengok kisahnya bersama Sjahrir di Banda Neira, saat masa pembuangan.

Selama berada di Kepulauan Banda, Maluku itu dia sering menunjukkan sisi lain. Ternyata, tak selamanya dia bersikap dingin. Dia juga bukan sedang berpura-pura. Justru berangkat dari keluguan sikapnya, dia kerap bertingkah “aneh” dan cerita itu mengundang tawa.

Boyong Buku

Januari 1936, dia dan kawannya, Sjahrir baru saja turun dari kapal yang membawanya ke Banda Neira. Sebagai politikus buangan, dia sama sekali tak menunjukkan sikap sesal lantaran telah membangkang pemerintah Hindia-Belanda. Dia malah bergaya. Yang lucu dari gayanya adalah dia bukan hanya membawa perlengkapan primer untuk kebutuhan sehari-hari seperti baju, celana, dan lain-lain.

Lebih dari itu, dia juga memboyong 16 peti. Isi dari semua peti itu adalah buku. Bayangkan saja, dia lagi diisolir tapi masih sempat membawa buku, 16 peti lagi. Betapa ribet dan rempong­nya dia memanggul peti-peti itu. Tingkahnya ini membuat kawannya, Bondan bingung. “Anda ke sini dibuang atau mau membuka toko buku?” tanya Bonda kepada Bung Hatta sebagaimana terekam dalam Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan (1980).

Rumah Setan

Sesampainya di “pulau pengasingan” itu, dia tinggal bersama Sjahrir. Mereka awalnya menempati sebuah rumah sewa milik Tuan De Vries, tak jauh dari kantor Gezaghebber, kepala pemerintahan setempat. Namun karena hendak ditempati keluarga De Vries sendiri, mereka harus pindah. Setelah mencari, mereka menemukan sebuah rumah yang lama tak berpenghuni.

Setelah dua atau tiga hari mereka menempatinya, datang seorang keturunan Arab bertandang. Dia menanyakan perasaan mereka tinggal di rumah itu. Karena kabar yang menyebar, rumah tersebut dihuni setan. Beritanya, konon ada “hantu” peti mati berwarna hitam di bagian tengah rumah. Hatta malah menjawab, “Setan yang dikatakan menghuni rumah ini sudah kusuruh pergi ke belakang benteng,” sebagaimana tertulis dalam Untuk Negeriku, Menuju Gerbang Kemerdekaan: Sebuah Otobiografi (2011).

Berenang Pakai Sepatu

Suatu hari, anak-anak di Banda Neira mengajak Hatta dan Sjahrir berenang ke pantai. Kedua tokoh itu menolak dengan berbagai alasan. Karena sebenarnya mereka tak bisa berenang. Tapi lantaran didesak, mereka ‘pun akhirnya mau. Mereka tak bisa menolak dan pergi bersama anak-anak itu ke pantai.

Ketika sampai di pantai, anak-anak berenang. Hatta ‘pun tak mau kalah. Dia juga menceburkan diri ke laut. Tapi medan yang dipilihnya adalah perairan dangkal. Ketika hendak terjun, lagi-lagi Hatta membuat “rekor baru” dalam dunia renang. Dia masuk ke dalam air tanpa melepas sepatu. “Kami terpingkal-pingkal melihat kejadian itu,” kenang Des Alwi dalam Bersama Hatta, Sjahrir, dr. Tjipto & Iwa R. Sumantri di Banda Naira (2002).

Kebarat-baratan

Walaupun satu rumah, Hatta dan Sjahrir punya kebiasaan beda. Di waktu senggang, Hatta suka baca buku, sedangkan Sjahrir nyetel musik klasik seperti Beethoven atau Jacowski. Perbedaan ini kerap mengundang “konflik” di antara mereka. Suatu hari, Sjahrir menyuruh salah satu anak asuhnya, Des Alwi untuk menyalakan musik favoritnya. Setelah diputar, lagu itu menggema di ruangan. Sementara, Hatta sedang membaca buku.

Karena merasa terganggu, Hatta menegur. Dia bilang, “Jangan keras-keras. Itu terlalu Barat, seperti Sjahrir yang kebarat-baratan,” sebagaimana yang diceritakan oleh majalah Tempo (edisi 12 Agustus 2002). Karena mendengar teguran Hatta, Des Alwi ‘pun mengadu kepada Sjahrir. Mendapati pengaduan Des, Sjahrir malah menjawab begini, “Hatta mengatakan aku kebarat-baratan? Dia sendiri kalau mimpi pakai bahasa Belanda.”




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id