Legenda Pontianak: Pengembara vs Hantu
Tempat , TERBARU 18:06
0
Shares

SejarahRI.com – Menjelang subuh, Rabu, 23  Oktober 1771 bertepatan dengan 14 Rajab 1185 dalam kalender Hijriyah, seorang pangembara berdarah Arab, Abdurrahman Alkadrie baru saja menginjakkan kaki di persimpangan tiga sungai raksasa di Kalimantan Barat (Sungai Landak, Kapuas Kecil, dan Kapuas Besar). Di wilayah itu, dia melakukan pembabatan hutan selama delapan hari.

Setelah proses deforestasi tersebut betul-betul rampung, dia membangun balai dan rumah di bibir sungai itu. Di sanalah kelak dia mendirikan sebuah kerajaan yang disebut dengan Istana Kadariyah. Tujuh tahun berikutnya, 1778 dia resmi diangkat sebagai sultan dan wilayah itu disulap menjadi perkambungan.

Sejarah pembentukan perkampungan ini pernah ditulis oleh V.J. Verth, sejarawan Belanda dalam karyanya, Borneos Wester Afdeling. Buku ini mengungkap sejarah masuknya Belanda ke wilayah itu—yang kemudian disebut sebagai “West Borneo”—dan perjumpaannya dengan pemerintahan Alkadrie. Menurut Verth, pada 1194 orang-orang Belanda yang melakukan ekspedisi ke Nusantara sudah mengenal wilayah itu. Mereka adalah para pedagang yang telah bertandang terlebih dahulu ke Batavia.

Ketika hendak memperluas bisnisnya di West Borneo, mereka terhalang oleh segelombolan orang yang melakukan pemberontakan. Aksi tersebut dipimpin oleh Abdurrahman Alkadrie. Dia adalah pemuda kaya yang pernah menikahi adik Sultan Banjar Sunan Nata Alam dan diangkat menjadi pangeran. Versi Verth, dia adalah pemimpin perompak yang berhasil membajak kapal Belanda di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Pasir.

Kisah ini berbeda dengan cerita yang berkembang secara verbal di masyarakat. Di mata sebagian besar penduduk Kalimantan Barat, Abdurrahman adalah seorang pangeran yang memiliki garis silsilah keulaman. Dia adalah putra dari Hussein bin Ahmed Alkadrie, seorang ulama asal Timur Tengah yang mendakwahkan Islam di Kerajaan Mempawah.

Tiga bulan setelah ayahnya meninggal, 1770, dia pergi meninggalkan Mempawah bersama saudara-saudaranya. Dia hijrah untuk mencari tempat baru. Untuk menempuh perjalanan, beserta rombongannya, dia menyediakan 14 kapal. Pada suatu hari di siang bolong (waktu dzuhur), dia berhenti di sebuah tanjung yang kelak dikenal dengan “Kalapa Tinggi Segedong”. Di sana dia bersama rombongannya menunaikan salat dzuhur dan tempat itu sampai sekarang dikenal sebagai “Tanjung Dhohor”.

Namun dia tak menetap di situ. Karena, firasatnya menyatakan bahwa lokasi tersebut tak baik untuk ditempati. Dia ‘pun kembali mencari bakal hunian lain. Dia menuju hulu, menyusuri Sungai Kapuas. Di tengah perjalanan, dia menemukan sebuah pulau yang disebut Batu Layang. Dia menghampirinya. Ternyata, ketika sampai di lokasi tersebut dia mendapat gangguan hantu perempuan beramput panjang. Orang-orang menyebutnya hantu kuntilanak.

Mendapati hantu penjaga Sungai Kapuas itu, Abdurrahman tak gentar. Dia memerintahkan kepada segenap pengikutnya untuk melawan. Bentuk perlawanan yang dilakukan adalah menembakkan meriam tiga kali. Bunyi tembakan itu sangat kencang sehingga membuat para kuntilanak ketakutan dan tak mengganggu misi perjalanan Abdurrahman lagi. Tiga tembakan tadi jatuh di tiga titik tak jauh dari bibir Sungai Kapuas.

Di tiga titik itulah nantinya, dia melakukan deforesasi dan membangun perkampungan. Di titik pertama, dia bangun Istana Kadariyah. Di titik kedua, sebuah masjid (yang kelak disebut Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman, dan di titik terakhir buat pemakaman keluarga. Banyak orang meyakini, dari situlah asal-usul kota Pontianak, yang nama ini dihubungkan dengan kisah kuntilanak itu. “Nama Pontianak berasal dari bahasa Melayu, dan dipercaya ada kaitannya dengan kisah Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu kuntilanak ketika sedang menyusuri Sungai Kapuas,” tulis Ahmad Nurcholish dan Frangky Tampubolon dalam Antara Tuhan dan Peluru Serdadu (2016).

Kisah ini menyebar luas di masyarakat. Untuk memperingatinya, biasanya warga sana tiap malam Idul Fitri mengadakan festival meriam. Mereka menyebutnya, meriam karbit. Selain itu, kisah ini juga dapat dijumpai sendiri bila berkunjung langsung ke Istana Kadariyah yang berada di tengah kota.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs