Kyai Achmad Shiddiq: Sang Penyelamat Pancasila
TERBARU , Tokoh 06:55
0
Shares

SejarahRI.com – Tahun 1980-an, di tengah kejayaanya sebagai rezim, pemerintah Orde Baru (Orba) menggulir sebuah rencana kebijakan anyar. Pancasila hendak dijadikan sebagai azas tunggal bernegara. Dan, organisasi atau partai apapun yang tak mau harus bubar!

Kabar tersebut berhasil menyita rumpun-rumpun media di Tanah Air. Terma “Pancasila” jadi trending topic terhangat. Berbagai respon mencuat ke permukaan. Ada yang pro dan ada juga yang kontra.

Dalam rangka turut memberi tanggapan, NU menjadikan wacana tersebut sebagai tema bahasan terpenting dalam Munas rutin, 1983 di Situbondo, Jawa Timur. Diskusi itu berlangsung dengan heboh.

Tak sedikit dari kader organisasi ini yang menolak rencana Orba itu. Namun, tak sedikit pula yang menerima.

Oleh karena itu, perdebatan menjadi tak terelakkan lagi. Masing-masing kubu saling mengunggulkan argumentasinya.

Di tengah panasnya dialog, seorang kyai yang juga ikut dalam forum itu tiba-tiba nyeletuk. Dia bilang, “Wong barang sudah sekian lama ‘dimakan’, kok baru dibahas halal haramnya,” tulis Gus Mus, Koridor (2010).

Kyai yang berbicara itu bukan sembarang kyai. Dia adalah ulama kharismatik yang sangat dihormati di Jawa Timur. Kyai Achmad Shiddiq, namanya.

Sosok: Lora Kesayangan Gus

Dia punya nama kecil, Achmad Muhammad Hasan. Lelaki kelahiran Jember (Ahad Legi, 10 Rajab 1344 H/24 Januari 1926 M) ini merupakan putra bungsu Kyai Shiddiq dari lbu Nyai H. Zaqiah (Nyai Maryam) binti KH. Yusuf.

Dia menjadi piatu sejak berusia 4 tahun. Ibunya, Nyai H. Zaqiah (Nyai Maryam) binti KH. Yusuf meninggal di atas kapal, dalam sebuah perjalanan pulang dari Mekkah.

Tak lama setelah itu, empat tahun kemudian, giliran ayahnya yang wafat. Di umur 8 tahun, dia genap menjadi yatim-piatu.

Dia diasuh oleh kakaknya, Kyai Mahfudz Shiddiq. Sebagai keturunan kyai, tentu pendidikan agamanya tak diragukan lagi.

Oleh kakaknya, dia dikirim ke Tebuireng nyantri ke Kyai Hasyim. Di sana, dia mendapat perhatian khusus lantaran sebagai lora (putra kyai atau Gus).

Oleh Kyai Hasyim, kamarnya sengaja dibuat eksklusif. Dia hanya tinggal sekamar dengan putra-putra kyai lain dan tak dicampur dengan yang santri yang non-lora.

Di pesantren, dia tumbuh menjadi anak yang cerdas. Dia gemar membaca buku-buku berbahasa Arab atau yang oleh kalangan santri disebut, Kitab Kuning.

Selain itu, dia juga pandai berpidato dan memiliki wawasan luas. Kelebihannya ini membuat Kyai Wahid (putra Kyai Hasyim) tertarik.

Mendapati potensi kecerdasan yang ada dalam diri Achmad Shiddiq muda, Kyai Wahid terpanggil untuk melatihnya. Oleh Kyai Wahid, dia diajari mengetik dan ilmu-ilmu kemodernan yang lain.

Tatkala menjadi ketua MIAI, NU dan Menteri Agama, Kyai Wahid memilih Kyai Achmad Shiddiq sebagai sekretaris pribadinya. Itu merupakan pengalaman langka bagi seorang santri.

Sosoknya sebagai seorang tokoh mulai tampak selepas lulus dari Tebuireng. Ketika pulang kampung, dia aktif di GPII (Gabungan Pemuda Islam Indonesia) Jember.

Dalam perserikatan tersebut, karier politiknya kian melambung. Pada Pemilu 1955, dia berhasil terpilih sebagai anggota DPR Daerah sementara di Jember.

Dari situ, popularitasnya terus meningkat. Tak heran bila kelak di NU, dia punya “taring pengaruh” yang sangat kuat.

Pengaruh: Rekonsiliasi Islam dan Pancasila

Sebagai seorang ulama, Kyai Achmad Shiddiq memiliki sumbangsih penting dalam membentuk sikap umat Islam di Indonesia, terutama terkait rekonsiliasi antara agama dan negara. Dia tak ingin agama dan negara dipertentangkan.

Satu sisi dia memperjuangkan Islam. Namun di lain sisi, kecenderungannya itu tak membuat dia harus memaksakan Indonesia bersyariat sebagai diwacanakan oleh sebagian umat Muslim yang ingin Islam sebagai asas bernegara.

Menurut Saiful Mujani, Muslim Demokrat (2007) dia merupakan kyai senior di NU “yang paling artikulatif dalam masalah hubungan antara Islam dan negara-bangsa.” Dialah orang yang mengusulkan konsep ukhuwah wathaniyah (selain ukhuwah basyariah dan islamiyah) dalam tubuh NU.

Konsep ini sangat relevan karena dapat mendamaikan antara negara dan agama. Untuk menjadi umat Muslim yang baik tak perlu harus mendirikan negara Islam, namun mengisi kemerdekaan negerinya dengan nilai-nilai Islam.

Untuk bisa mewujdukan itu, umat terlebih dahulu harus memiliki kesadaran solidaritas dan persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah). Namun kesadaran ini tak akan menemukan jalan bila sebagai bagian bangsa, umat bersikap sparatis.

Yang ada hanya pertentangan-pertentangan. Dari itu, dibutuhkan pula kesadaran tentang pentingnya persatuan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah).

Selain itu, salah satu sumbangsih besar lainya adalah ketika dia mendamaikan antara Pancasila dan Islam. Dia mengusulkan bahwa Pancasila sebagai azas tunggal bernegara merupakan keputusan final bagi umat Islam di Indonesia.

Yang menarik, gagasan tersebut dia sampaikan dengan bahasa teologis. Bahwa menerima Pancasila hukumnya wajib (Maksoem Machfoedz, Kebangkitan Ulama dan Bangkitnya Ulama). “Pendapat seperti ini belum pernah ada sebelumnya,” tegas Saiful.

Berkat pengaruhnya, Pancasila menjadi terselamatkan dari rongrongan kelompok-kelompok atau ideologi-ideologi tertentu yang ingin menggantinya. Dari itu, tak berlebihan bila dia disebut sebagai “Sang Penyelamat Pancasila”.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id