Kisah Marco Polo Berjumpa Orang Kanibal di Nusantara
TERBARU , Tokoh 09:44
0
Shares

SejarahRI.com – Marco Polo adalah salah satu penjelajah asal Venesia, Italia yang terkenal di dunia. Menariknya, setiap kali melakukan perjalanan dia tak membiarkan kenangan itu hilang.

Dia selalu mencatatnya. Catatan itu dia kumpulkan dengan baik dan rapi. Sehingga jejaknya dapat dibaca kembali oleh generasi berikutnya.

Dia adalah seorang musafir Eropa yang telah sadar sejarah di tengah gelapnya tatanan sosial bangsanya. Tindakannya ini menunjukkan bahwa dia adalah orang yang terdidik.

Betul dia memang berasal dari keluarga yang terdidik. Ayah dan pamannya (Niccolo dan Maffeo) adalah seorang pelayar internasional.

Profesi tersebut saat itu sangat bergengsi. Karena transportasi tercanggih yang dapat menghubungkan antar bangsa di dunia adalah kapal. Dan, keluarga Polo akrab soal itu.

Pada tahun 1292, mereka mengajak Polo untuk ikut bergabung melakukan penjelajahan. Usia Polo saat itu sudah menginjak 38 tahun.

Perjalanan yang ditempuh kali itu ke Nusantara. Misinya bukan “sebagai pedagang atau misionaris Eropa, tapi sebagai duta Khan dari Mongolia dan Cina,” tulis Bernard Hubertus Maria Vlekke, Nusantara: Sejarah Indonesia.

Dia menyusuri pantai Sumatera bagian timur laut. Lelaki kelahiran 15 September 1254 ini “adalah orang pertama yang mencatat kehadiran Islam dan juga pertentangan antara kaum minoritas Islam yang bermukim di kota-kota pesisir dan masyarakat mayoritas penganut paganisme,” catat Daniel Perret, Kolonialisme dan Etnisitas Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut.

Di sana, dia tinggal beberapa bulan. Selama berada di kerajaan Dagroian, daerah Pidie (Aceh), dia menemukan sebuah masyarakat kanibal dari penganut paganisme itu.

Menyaksikan fenomena itu dia sangat jijik. Bagaimana tidak, dia menyaksikan praktik yang dianggap biadab tak bermoral.

Dia melihat dengan mata kepala sendiri segerombolan orang yang memakan daging sesamanya (manusia). Yang unik di sini, sebagaimana catat Marco Polo sendiri (Para Kanibal dan Raja-raja: Sumatera Utara pada 1290-an yang terhimpun di Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid), proses memakannya ‘pun ada aturan.

Orang yang dimakan oleh mereka adalah kerabat yang sakit dan diketahui tak dapat disembuhkan. Untuk mengetahui bisa dan tidaknya disembuhkan, mereka mendatangi penyihir.

Bila penyihir bilang positif tak dapat disembuhkan, mereka langsung akan mengundang petugas yang memang kerap dipercayai untuk menyembelih orang. “Ketika dia sudah mati, mereka akan memasaknya,” tulis Polo.

Daging yang sudah matang siap santap itu kemudian dihidangkan. Mereka berkumpul dan pesta daging kerabatnya sendiri secara bersama-sama.

Fenomena semacam ini juga pernah disaksikan oleh Nicolo de’ Conti. Dia sama seperti Polo, yakni seorang penjelajah Eropa yang pernah menaklukkan dunia Timur.

Pada tahun 1430, dia merantau ke Sumatera. Di sana, dia tinggal hanya setahun. Selama berada di daerah tersebut, dia menyaksikan apa yang Polo lihat, yakni praktik kanibalisme oleh suatu masyarakat pedalaman.

Dia menyebut tempat mereka dengan “Batech”. Menurut Perret, dialah orang pertama yang melabelisasi daerah tersebut dengan nama itu. Masyarakat tersebut dia gambarkan gemar melakukan peperangan.

Anehnya, sumber-sumber Tionghoa zaman itu tidak menyebutkan adanya populasi kanibal dan hanya membedakan antara masyarakat beradat yang sama dengan masyarakat di Jawa dan di Malaka dan populasi kasar yang tidak selalu orang gunung,” tulis Perret.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id