Kisah Kampung Unik “Khawatir Sore” di Papua
Tempat , TERBARU 21:33
0
Shares

Jika Anda mau berkunjung ke desa ini, sebaiknya di pagi hari. Bukan karena pada siang hari gelombang perairan Teluk Cendrawasih di sekeliling desa ini cukup tinggi, melainkan lantaran hanya pada pagi hari ‘lah desa ini tak hujan. Adapun di sore hari, desa ini selalu hujan, meskipun musim kemarau. Karenanya, penduduk desa itu menamai desanya: Kwatisore, akronim dari kalimat “Khawatir Sore”.

Seperti ditulis Detik Travel, Kwatisore adalah sebuah desa di Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Nabire, Papua. Pintu masuk desa ini adalah sebuah dermaga kayu. (Baca juga: “JFK Dibunuh, Sukarno Lengser, dan Freeport ‘pun Deal”)

Banyak turis dating ke desa ini. Selain karena keunikannya itu, juga karena desa ini memang nyaman. Desanya bersih. Juga tak ada kendaraan bermotor di sana, sehingga udaranya segar, bebas polusi. Di samping itu, turis juga akan dimanjakan matanya oleh jejeran rumah yang tersusun rapi. Ditambah lagi, jika menengok ke pekarangan rumah, terihat aneka anggrek khas Papua yang ditanam setiap pemilik rumah, yang itu didapat langsung oleh warga dari dalam hutan.

Dan, pada sore hari, desa akan terlihat ramai dengan tawa riang anak-anak yang asyik bermain hujan. Ini sebuah pemandangan tersendiri yang menarik juga.

kweti 2Adapun di malam hari, meskipun desa menjadi gelap gulita karena masih minimnya penerangan di sana, ada pesona tersendiri, yakni kesempatan turis merasakan kehangatan warga desa setiap malam rutin berkumpul di suatu bangunan tepat di tengah desa untuk menonton televisi bersama. Di tempat inilah para warga bercengkrama, bertegur sapa. Kebersamaan begitu terasa kental.

Di samping itu semua, masih ada yang unik lagi dari desa ini, yakni tentang hewan peliharaan penduduknya. Beberapa penduduk Kwatisore memelihara rusa dan buaya muara. Ini seolah menyempurnakan keunikan desa ini.

Kwati 1Karena posisi geografisnya di sekitar teluk, maka rata-rata penduduk Kwatisore bekerja sebagai nelayan tradisional. Mereka menggunakan kole-kole (longboat) untuk menangkap ikan. Sebagaimana ditulis Phnemo.com, Kwatisore di Taman Nasional Teluk Cendrawasih Papua itu dikenal sebagai rumah para hiu paus. Orang sana menyebutnya “ikan hantu”. Ada sekitar ratusan ikan yang disebut sebagai ikan terbesar di muka bumi ini. Disebut ikan hantu karena hiu-hiu puas itu sering tiba-tiba muncul di samping perahu dan menggesek-gesekan badan mereka ke perahu. Namun, meskipun ukuran ikan itu tak kalah besar dari minibus-minibus di kota, namun mereka tak menyerang. Bahkan, bocah-bocah di sana akrab dan bersahabat dengan ikan hantu itu. Lagi-lagi unik, jika dibandingkan anak-anak di kota yang ;umrahnya bermain bersama kucing atau anjing.

Di tengah perbincangan soal kekayaan sumber daya alam Papua, Kwatisore menyumbul sebagai salah satu kekayaan sumber daya manusia Tanah Papua. Di sana, Anda akan merasakan kehangatan yang bukan hanya antar sesama manusia, tapi dengan hewan sekalipun. (Berbagai Sumber/Gambar: Athba.netTempo)




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs