Kisah Bung Karno Dihadang “Baret Merah”
TERBARU , Tokoh 20:41
0
Shares

Semenjak peristiwa G30S meletus, urat pengaruh Bung Karno kian melemah. Dari hari ke hari, pemimpin yang identik dengan peci hitamnya itu terus mengalami “pencekalan” politik. Puncaknya adalah ketika dia menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 yang kelak dikenal dengan sebutan singkat “Supersemar”.

Meski dia masih menjabat sebagai presiden, kendali pemerintahan sejatinya dipegang oleh Soeharto. Karena taring politiknya mulai tumpul, tak heran bila dia pernah mengalami pencegatan di tengah jalan saat melakukan konvoi oleh sejumlah tentara.

Ironis memang, mendengar cerita ada konvoi presiden dihentikan oleh tentaranya. Padahal, soerang presiden adalah panglima tertinggi. Tapi itulah yang dialami Bung Karno pada tanggal 18 Maret 1966.

Dalam buku, Gerakan 30 September, Pelaku, Pahlawan dan Petualang yang ditulis oleh Julius Pour, AKBP Mangil Martowidjojo selaku Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) menceritakan kejadian itu. Itu sebuah peristiwa yang sungguh menyedihkan.

Waktu itu, Soekarno hendak berangkat ke Istana Bogor. Dalam perjalanan dia dikawal oleh satuan anggota militer yang tergabung dalam DKP.

Sebagaimana pawai resmi, sepanjang perjalanan para pengawal mengibarkan bendera kuning. Itu tanda bahwa konvoi tersebut resmi dan dalam rombongan ada presiden yang tak dalam keadaan menyamar.

Tetapi ketika konvoi itu berjalan sekitar sepuluh meter, tiba-tiba ada sekumpulan tentara yang menghadang. Mereka menggunakan baret merah. Itu adalah tentara dari satuan RPKAD. Penghadangan terjadi di Jl. Medan Merdeka Barat.

Situasi mutakhir kala itu memang genting. Semenjak peristiwa tragis G30S, banyak para tentara berjaga-jaga di tiap-tiap jalan. Tapi segenting apapun, yang konvoi itu kan presiden. Kenapa juga harus diberhentikan?

Itu yang kemudian menjadi pertanyaan Mangil. Sebagai pengawal, dia tak terima diberhentikan. Dia melihat apa yang dilakukan RPKAD itu janggal.

Salah satu kaptennya mendekati konvoi dan berteriak, “Stop, ini rombongan siapa?” Mendapati pertanyaan seperti itu, Mangil marah. “Kalau Kapten melihat bendera di mobil kedua, sebagai perwira ABRI harusnya tahu. Ini konvoi resmi Presiden Republik Indonesia.

Tetapi si kapten itu ngotot, dia malah bilang begini, “Tetap harus diperiksa.” Bayangkan, konvoi presiden saja harus diperiksa. Itu artinya, situasi negara saat itu benar-benar darurat.

Mendengar bentakan itu, Mangil lantas menjawab, “Silakan. Tetapi, sebelum kapten bergerak maka kami harus tembak lebih dulu. Sebab tanggung jawab kami sebagai DKP jelas tidak pernah mengizinkan perjalanan Presiden RI terhalang.

Dia rupanya tak terima bila ada yang menghalangi perjalanan tuannya. Dia bahkan siap mati bila ada yang coba-coba melukai Bung Karno. Senjata yang digunakan DKP adalah senapan otomatis AR-15. Senjata ini jelas lebih canggih dibanding yang dipegang RPKAD, yakni AK-47.

Kedua belah pihak tegang. Mereka sama-sama memegang senjata. Itu artinya, bila satu peluru saja keluar dari cangkangnya, peristiwa mengerikan akan terjadi.

Sebab kedua satuan itu bukan pasukan sembarangan. RPKAD adalah pasukan khusus yang kelak namanya diubah menjadi Kopassus. Sedangkan DKP juga demikian. Pasukan ini mempunyai keahlian tersendiri dalam mengamankan presiden serta loyalitasnya tak diragukan.

Adapun yang lebih mengerikan lagi adalah ada Bung Karno di sana. Kalau dia ikut tertembak, entah apa yang akan terjadi di Indonesia. Dia berada di mobil kedua. Di depan dan belakangnya ada jip DKP. Memang, Bung Karno langsung dilindungi oleh pasukan saat pencegatan terjadi.

Beruntung ketegangan itu tak sampai membuahi konflik kekerasan. Kapten RPKAD memilih untuk mengalah dan membiarkan rombongan presiden berjalan kembali. Akhirnya, Bung Karno dan para pengawalnya selamat sampai Bogor.

Namun setelah itu, DKP menghadapi musibah besar. Satu tahun berikutnya, 16 Agustus 1967, Soeharto membubarkan satuan tersebut. Sebelum DKP bubar, yang terlebih dahulu dibubarkan oleh Soeharto adalah pasukan Tjakrabirawa pada 23 Maret 1966. Pelan-pelan orang-orang dekat Bung Karno terus “diamankan” (istilah khas Orba) dan kekuatan politik Bung Karno terus dikebiri hingga ujung usianya, 21 Juni 1970.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs