Ki Enthus, Si Dalang “Nyentrik”
TERBARU , Tokoh 03:59
0
Shares

SejarahRI.com – “Adalah Ki Enthus Susmana, dhalang edan dari Tegal, yang selalu mendalang atau melaksanakan pertunjukan wayang kulit Purwa secara total sesuai dengan kepribadian pesisirannya… Cara itu, menurut priyai Sala dan Yogyakarta yang halus dan santun, seperti tercermin dalam dialek bandhekan-nya, dinilai mendalang dengan cara ‘amat kasar, brutal, kritikan-kritikannya amat vulgar (blak-blakan), dan terkesan jorok.’ Padahal, pentas wayangnya amat disukai oleh masyarakat Jawa Tengah hingga Jawa Timur.”

Demikian gambaran singkat tentang dalang “nyetrik” itu yang dilukiskan dalam Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak (2008) oleh Budiono Herusatoto. Ki Enthus adalah seniman wayang kebanggaan Indonesia yang pada 2005 sempat menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang seni-budaya dari International Universitas Missouri, Amerika Serikat dan sekaligus dari Laguna College of Business and Arts, Calamba, Filipina. Bukan hanya penghargaan, ratusan karyanya ‘pun menjadi koleksi museum-museum dunia, seperti di Belanda, Jerman, dan New Mexico.

Dia merupakan putra Tegal yang lahir pada 21 Juni 1966 dari pasangan Soemarjadihardja dan Tarminah. Bakatnya dalam dunia pewayangan, bisa dikatakan sebagai “warisan darah”. Ayahnya memang seorang dalang wayang golèk ternama di Tegal. Lebih-lebih kakek moyangnya, R.M. Singadimedja, yang tak lain adalah dalang termasyhur dari Bagelen pada era pemerintahan Sunan Amangkurat di Mataram.

Sejak 1986, saat usianya masih 20 tahunan sampai kepala lima, tak terhitung berapa pentas wayang yang sudah di jajaki. Ribuan mungkin. Di berbagai festival dan event-event tertentu, dia selalu hadir. Setiap tahunnya, dia tampil kurang lebih 70 kali. Melihat kepadatan jadwalnya, dia benar-benar bukan dalang sembarangan. Pada 2006, dia gelar Wayang Simphony di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dalam rangka Sepekan Wayang Kebangsaan.

Di tahun yang sama, dia menciptakan Wayang Goerge Bush dan Wayang Saddam Husein. Karya ini nampaknya dia persembahkan sebagai respon atas situasi global yang terjadi kala itu, yakni terkait perang Irak-Amerika. Dia memang bukan sekadar dalang biasa. Ki Enthus “memilih sebuah pendirian yang lebih subversif dan menantang wacana dominan dengan menciptakan genre wayang baru (terjemah, Red),” tulis Sadiah Boonstra pada artikelnya, Defining Wayang as Heritage: Standardization, Codification, and Institutionalization yang dimuat dalam bunga rampai, Sites, Bodies and Stories: Imagining Indonesian History (2015).

Dia tak menjadikan wayang sebagai “barang antik” yang tak boleh untuk disesuaikan dengan zaman. Namun sebaliknya, dia justru kerap melakukan kritik sosial melalui wayangnya yang diaktualisasikan sedemikian rupa. Pada saat dunia dihebohkan oleh peristiwa “Nine Eleven” (11 September 2001), pada tahun berikutnya, 2002 dia mengangkat karya baru, Wayang Osama bin Laden. Kreativitas dan kepekaannya terhadap isu-isu terbaru membuat karyanya selalu “basah”.

Oleh karena itu, tak heran bila dia terpilih sebagai dalang terbaik se-Indonesia dalam Festival Wayang Indonesia yang diselanggarakan di Taman Budaya Jawa Timur pada tahun 2005. Bukan hanya isu-isu serius yang dia tanggapi, seperti dengan melahirkan Wayang Gunungan Tsunami Aceh (2006) atau karya-karya lainnya terkait perang, politik, dll seperti yang disebutkan di atas. Lebih dari itu, dia juga menyuguhkan karya-karya “jenaka” yang tak kalah update dibanding anak muda. Pada 2001, dia merilis Wayang Batman dan Wayang Alien. Kemudian pada 2006, dia mengangkat Wayang Harry Potter.

Pada bulan Januari 2009, dia mengunjungi Belanda untuk menghadiri pembukaan pameran Wayang Supertar, yang tak lain adalah acara pamerannya sendiri yang berlangsung di Tropenmuseum, Amsterdam. Di sana, dia sangat dikagumi sebagai seniman asli Indonesia yang dapat menghasilkan karya-karya menakjubkan. Dalam Negotiating Heritage: Watang Puppet Theater and The Dynamics of Heritage Formation yang diterbitkan pada The Heritage Theatre: Globalisation and Cultural Heritage (2011), Sadiah Boonstra lagi-lagi membahas Ki Enthus.

Dia menulis, “He is the most trendy, the most cheeky, and the most creative. His performances are innovative and keep the wayang theatre alive.” Namun sayang, dia sudah meninggalkan kita terlebih dahulu untuk selama-lamanya pada hari Senin (14/5/2018). Kematiannya adalah berita duka bukan hanya buat para Warga Wayang tanah air, namun juga buat masyarakat Tegal khususnya. Karena sejak 2014, selain sebagai dalang, Ki Enthus ternyata juga dipercaya sebagai bupati mereka.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs