Ketika Soekarno Ingin Menggusur
Peristiwa 01:40
0
Shares

Wibawa dan harga diri bangsa nomer satu. Mungkin ini yang ada di kepala presiden pertama Indonesia, Soekarno—pasca proklamasi.

Hal ini bisa dilihat dari semangatnya mengukir lambang dan simbol-simbol Indonesia di mata dunia meski tekanan terhadap negara muda ini masih cukup kuat di sana-sini.

Selain membangun Monas sebagai simbol negara sampai membeli mobilnya sendiri dalam kunjungannya ke Amerika, Soekarno ingin menampilkan Indonesia yang berwibawa; membangun kompleks bangunan olah raga dengan kelas internasional.

Kisah ini dimulai dari terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games IV tahun 1962. Tapi, mau ditaruh dimana para atlet dan pesta olahraga kelas internasional ini? Tak masalah, kita buat saja yang pantas.

Awalnya Sunter, Tanjung Priok sempat dilirik. Namun Soekarno menolak karena akses jalan disana saat itu belum memadai. Dan akhirnya, pilihan jatuh pada Senayan, Jakarta Selatan.

Senayan bukan tanah kosong. Bahkan sebenarnya terbilang padat penduduk saat itu. Ada setidaknya empat kampung di bawah Gelora Bung Karno: Kampung Senayan, Petunduan, Bendungan Udik, dan Pejompongan. Ribuan penduduk Betawi hidup disana. Sebagian besarnya petani buah-buahan, pengusaha kecil, pedagang pikulan, sampai pedagang ketupat sayur.

Karena kebutuhan lahan yang luas, maka Soekarno memerintahkan pembebasan lahan sampai 360 hektare.

Dalam tulisannya, budayawan Betawi Alwi Shihab menceritakan penuturan salah seorang korban gusur yang tersisa, Haji Zawawi. ”Kami diberi kavling dan uang ganti rugi untuk membangun rumah di tempat tinggal yang baru,” semuanya dipindahkan ke Tebet. “Di masa Bung Karno daerah ini dipatok-patok jadi ribuan kavling,” kata Zawawi sambil menunjuk beberapa daerah Tebet. Dan kavling yang disediakan cukup luas. Seperti kediaman Zawawi luasnya 300 m2. Waktu itu, Tebet boleh dikatakan masih kampung.

Sejauh catatan sejarah yang kami temukan, tidak tergambar adanya pertentangan apalagi kerusuhan dalam penggusuran pertama dalam sejarah Negara Indonesia itu.

Zawawi menceritakan, tahun awal perpindahan mereka, 1960, hidup cukup sulit. Pasalnya kebiasaan dan usaha di Tebet beda dengan di Senayan. Ia mengibaratkan seperti “ikan empang yang tiba-tiba di pindah ke akuarium”.

Selain itu, mereka yang eks penghuni Senayan tidak semua langgeng sampai akhir hayat di Tebet, kebanyakan hijrah lagi. Ini disebabkan keamanan yang kurang mendukung. Warga Senayan yang sudah pindah ke Tebet, seringkali disatroni para penjahat dan perampok. Mengetahui mereka menerima uang gusuran, warga jadi sasaran empuk bagi penjahat. Seperti dituturkan tokoh Betawi Haji Irwan Syafi’ie, menghadapi teror demikian, warga Senayan banyak yang tidak tenang tinggal di tempatnya yang baru. Akhirnya ramai-ramai hijrah dari Tebet. Dengan uang gusuran yang tidak cukup untuk membeli rumah, mereka menjual kavlingnya di Tebet. ”Karena kepepet kavling-kavling itu dijual murah. Pokoknya asal laku saja sudah lumayan,” tutur Irwan.

Diantara kampung yang digusur, kampung Bendungan Udik terkenal dengan banyaknya penduduk yang jadi pengusaha batik tulis (mori). Mereka memproduksi dengan bergairah, dan ratusan kodi dipasarkan di Pasar Tanah Abang.

Alhasil, Soekarno mulus mengosongkan lahan, dan dengan kredit lunak dari Uni Soviet Soekarno menancapkan tiang pancang Stadion Utama sebagai pencanangan pembangunan gelanggang olah raga tersebut—Februari 1960. Tak ayal, Gelora Bung Karno pun dikenal sebagai salah satu yang termegah di dunia pada masanya. (Diolah dari berbagai sumber/Gambar: skyscrapercity.com)




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id