Ketika Malaria Serang Bung Karno
TERBARU , Tokoh 15:41
0
Shares

Malaria adalah salah satu jenis penyakit menular paling berbahaya di dunia. Bila si penderita tak mendapat perawatan secara baik, akibatnya fatal. Tak menutup kemungkinan, bisa berujung kematian. “Terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak balita, ibu hamil, selain itu malaria secara langsung menyebabkan anemia dan dapat menurunkan produktivitas kerja,” tulis Tim Redaksi Buletin Jendela (Data dan Informasi Kesehatan), “Epidemiologi Malaria di Indonesia” (2011).

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari World Malaria Report (2015), ada 106 negara di dunia yang sudah terserang malaria. Sebagaimana dijelaskan oleh InfoDATIN (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI) dalam laporan “Malaria” (2016), penularan penyakit ini melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Karena dalam tubuh nyamuk ini mengandung plasmodium, yakni makhluk hidup bersel satu kelompok protozoa.

Penyakit ini ternyata pernah menyerang tubuh Bapak Revolusi Indonesia, Bung Karno. Dia kali pertama mengalaminya saat masih kecil, ketika nama aslinya, Kusno belum diganti. “Aku memulai hidup ini sebagai anak yang penyakitan. Aku mendapat malaria,…” kata Bung Karno yang terekam dalam buku Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen: Sisi Lain Putra Sang Fajar yang Tak Terungkap (2013) karya Walentina Waluyanti de Jonge. Sesuai dengan kayakinan orang Jawa, anak berpenyakitan namanya harus diganti. Dari itu, “Kusno, nama kecilnya, diganti ayahnya menjadi Sukarno,” tulis Walentina.

Penyakit malaria ini kemudian kembali menyerang Sukarno saat berada di Pulau Endeh. Di sana, dia sebagai tahanan politik Pemerintahan Hindia-Belanda. Dia sampai mendapatkan hukuman tersebut karena aktivitas politiknya yang kerap membuat pihak pemerintah kolonial itu gerah.

Pada bulan Juli 1932, dia menggabungkan diri dengan Partai Indonesia (Partindo), pecahan PNI. Melalui partai tersebut, Bung Karno tampil sebagai penentang penjajahan. Dengan gagah dan berani, dia sering melakukan propaganda politik yang membuat Pemerintah Hindia-Belanda marah. Karena dianggap berulah, dia ditangkap pada 1 Agustus 1933.

Awalnya dia dijebloskan ke dalam sel Sukamiskin. Rencananya setelah dari penjara, dia akan dibuang ke Boven Digul namun tak jadi. “Setelah melakukan serangkaian diskusi, Dewan Hindia Belanda menyetujui Bung Karno tak jadi dibuang ke Boven Digul yang rawan (mewabah penyakit malaria), melainkan ke Endeh, Flores,” tulis Wawan Tunggul Alam dalam bukunya, Demi Bangsaku: Pertentangan Bung Karno vs Bung Hatta (2003).

Setelah Bung Karno dikucilkan ke Endeh, Partindo tetap melakukan kegiatannya sebagaimana semula. Namun, kali itu partai tersebut berjalan tanpa “jagoan”. Karena jagoannya, Bung Karno sedang dalam masa pembuangan. Di tempat pengasingan itu, Bung Karno harus bersedia hidup serba kekurangan dan bahkan penuh penderitaan.

Di sanalah nantinya, “Setelah empat tahun diasingkan di Ende (Endeh, maksudnya), Soekarno terjangkit penyakit malaria,” tulis Rhien Soemohadiwidjojo dalam karyanya, Bung Karno Sang Singa Podium (2017). “Saya di Flores hampir mati sakit malaria,” tutur Soekarno sendiri, yang mana perkataan ini terekam dalam buku Bung Karno, Putera Fajar (1986) karya Solichin Salam.

Karena ganasnya penyakit yang menyerang Bung Karno, pemerintah Hindia Belanda berinisiasi untuk memindahkannya. Sebab, Endeh—terutama Indonesia bagian Timur—memang rawan malaria saat itu bahkan sampai sekarang sebagaimana data yang ditunjukkan oleh InfoDATIN (2016).

Pada bulan Februari 1938, kabar tentang rencana pemindahan Bung Karno menyebar melalui siaran radio. Desas-desus warta tersebut menjadi perbincangan publik. Tak sedikit orang yang tahu kalau rencana pemindahan itu disebabkan oleh serangan penyakit malaria ke tubuh Bung Karno.

Baru pada 18 Oktober, sembilan bulan kemudian, berita itu menjadi kenyataan. Pukul delapan malam, Bung Karno menaiki sebuah kapal yang akan membawanya keluar dari pulau itu. “Isak tangis seluruh penduduk Pulau Flores mengiringi kepindahannya,” tulis J. Pamudji Suptandar dalam artikelnya, “Rumah Tahanan Bung Karno di Ende” yang dimuat dalam buku Kisah Istimewa Bung Karno (2010).

Di Endeh, Bung Karno tinggal selama “empat tahun sembilan bulan empat hari,” kata Pamudji. Kenangan dia di sana masih terawat. “Rumah bekas tahanan Bung Karno di Ende sempai sekarang masih tega berdiri dan pohon rambutan di sebelah rumah yang ditanam beliau juga masih berbuah,” imbuhnya.

Selain di Endeh, Bung Karno kembali diserang malaria ketika menjelang detik-detik kemerdekaan. Pukul 05.00 pagi, Jumat 17 Agustus 1945 dia keluar dari rumah Laksamana Maeda bersama sejumlah tokoh. Di antaranya adalah Hatta, Sukarni, Subardjo, dan beberapa kawan lain. Mereka baru saja selesai merampungkan naskah proklamasi. Rencananya naskah tersebut akan dibacakan pada pukul 10.00 nanti.

Tapi pukul 08.00, Bung Karno masih tidur di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Dia rupanya sedang sakit. Penyakit yang menyerangnya lagi-lagi adalah malaria. Sebenarnya badannya sudah mulai terasa tak enak sejak Kamis malam, 16 Agustus. Namun dia tak hirau. Dia tetap memaksakan diri ikut rapat dan begadang sampai pagi.

Penyakit itu baru dia rasakan ketika sampai di rumahnya. “Badanku tidak enak. Aku sakit,” kata Bung Karno kepada Fatmawati sebagaimana yang terekam dalam buku Bung Karno: Bapak Proklamasi Republik Indonesia (2003) karya S. Kusbiono. Dia ‘pun berusaha untuk tidur. Namun, “Di dalam kamar, Soekarno tidak berdaya menahan serangan yang hebat dari penyakitnya,” tulis Kusbiono.

Pukul sembilan, pagi itu halaman rumah Bung Karno telah sesak oleh ratusan massa. Mereka adalah rakyat Indonesia yang menanti pembacaan naskah proklamasi. Mereka ingin menyaksikan momen bersejarah itu secara langsung. “Sekarang, Bung … Ucapkanlah kemerdekaan, haru sudah mulai panas … kami sudah tidak sabar lagi. Ucapkanlah Proklamasi,” teriak mereka dari luar.

Mendengar desakan itu, Fatmawati membangunkannya. Tak lama kemudian Bung Karno keluar dengan muka pucat, badan panas, dan tangan begidik. Penyakit itu benar-benar ganas. Tapi meski sedang sakit, dia tetap tampak tenang. “Hatta tidak ada. Saya tidak mau mengucapkan Proklamasi kalau Hatta tidak ada,” kata Bung Karno. Setelah Hatta datang, tepat pukul 10.00 Bung Karno yang mengenakan seragam putih dan peci hitam di kepalanya mendekat ke arah pengeras suara. Sejak itu, Indonesia dinyatakan merdeka!




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs