Kepada Siapa Bung Karno Belajar Islam?
TERBARU , Tokoh 15:22
0
Shares

Minggu, 24 April 1960, dengan gagah Bung Karno duduk bersama para ulama Timur Tengah di Aula Universitas Al-Azhar, Mesir. Hari itu, dia resmi mendapatkan gelar Doktor dalam bidang Filsafat dari kampus tersebut dan mendapatkan julukan “Muslim Agung”.

Setelah menerima anugerah itu, rektor kampus Islam paling bergengsi di dunia itu, Syekh Machmud Syaltut memeluknya mendatanginya. Dia mengucapkan selamat lalu memeluk tubuh Bung Karno dengan bangga (H.A. Notosoetarjdo, Bung Karno Mentjari dan Menemukan Tuhan, 1963).

Lima bulan berikutnya, 30 September dia berdiri di podium Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam rapat akbar itu, dia membuktikan gelar yang baru diperolehnya.

Dengan penambilan yang khas, dia berdiri depan para pemimpin dari berbagai negara di dunia. Setelah mengucapkan terima kasih, dia memulai pidatonya dengan mengutip sebuah ayat Al-Quran.

Kitab suci Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini,” katanya. Dia melanjutkan membaca Surah Al-Hujarát (49) ayat 13. “Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia di antara kamu sekalian, ialah yang lebih takwa kepada-Ku.”

Lantaran mengutip ayat tersebut, pidatonya sontak menghebohkan dunia. Sebelumnya, tak satupun presiden dari berbagai negara manapun yang berani melakukan itu, sekalipun dari Arab Saudi.

Hanya dia yang percaya diri menyampaikan pesan Islam itu di depan sidang PBB (Mocahamad Nur Arifin, Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran, 2017). Tak heran, kalau dia disebut sebagai “Muslim Agung”.

Namun yang menjadi pertanyaan, kenapa Bung Karno sedemikian fasih soal Islam? Padahal, keluarganya bukan dari kalangan santri dan dia sendiri tak pernah mondok. Tentu jawabannya karena dia rajin mempelajari Islam.

Lantas, kepada siapa sebenarnya Bung Karno belajar Islam? Ingin tahu siapa saja gurunya dan buku Islam apa saja yang pernah dia baca?

Bung Karno banyak belajar Islam kepada para tokoh-tokoh Islam tanah air. Sebagaimana pengakuannya sendiri, dia mulai tertarik kepada Islam sejak tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto.

Selama berada di sana, dia bukan hanya mendapatkan fasilitar material. Dia juga memperoleh pendidikan Islam dari Tjokro. “Terutama sekali Tjokroaminoto termasuk salah seorang guru saja jang amat saja hormati. Kepribadiannja menarik saja, dan islamismenja menarik saja pula, oleh karena tidak sempit.

Kepada Tjokro, dia tak hanya belajar Islam dari aspek fikih saja. Dia banyak menguras ilmu gurunya itu tentang semangat Islam dalam kiprah perjuangan untuk menegakkan keadilan. Salah satu yang melekat di kepalanya adalah gerakan Sarekat Islam (SI).

Dulu ini, saja ini sebagaimana Saudara-saudara mengetahui dibesarkan di bawah asuhan a.l. almarhum H.O.S. Tjokroaminoto. Saja kagum dengan pemimpin besar Tjokroaminoto. Saja melihat Sarekat Islam, dulu itu, dari ketjil mendjadi besar,” tuturnya.

Selain kepada Tjokro, sebagaimana pengakuanya sendiri bahwa dia tertarik kepada Islam lantaran berkenalan dengan K.H. Ahmad Dahlan. “… Saja tatkala berusia 15 tahun telah buat pertama kali berdjumpa dan terpukau dalam arti jang baik oleh almarhum Kjai Hadji Ahmad Dahlan…”

Dia melanjutkan, “… Pada waktu itu saja di Surabaia, saja berdiam di rumahnja almarhum Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Pada suatu hari datanglah di Surabaia almarhum Kjai Dahlan, mengadakan beberapa tabligh, dan tabligh pertama jang beliau berikan adalah dekat rumah almarhum Tjokroaminoto di kampung Peneleh dan saja hadir di dalam tabligh itu. Dan terus terang saja ‘tertangkap’ oleh apa jang dikatakan oleh almarhum Kjai Dahlan, sehingga tadi dikatakan saja kemudian menghadiri tabligh-tabligh Kjai Dahlan di lain-lain tempat.

Di usia segitu dia sudah rajin mendalami Islam langsung dari seorang kyai. Tak heran kalau kelak dia sangat fasih membicarakan Islam.

Kecintaannya untuk terus mendalami Islam semakin tumbuh subur ketika berada di penjara pada tahun 1929. “Di kala tahun 1929, saja dipendjara, dimasukkan ke dalam cel jang berlapir empat pagar…di sinilah pertama kali djiwaku insjaf akan agama. Hatiku berhasrat sekali mempeladjari agama, dengan membatja berbagai kitab-kitab agama jang tipis-tips itu, jang diterbitkan oleh perhimpunan-perhimpunan Islam.

Di antara buku yang pernah dia baca selama di Endeh adalah Mohammad the Prophet dan Inleiding tot de studie van den Heiligen Qoer’an karya Maulana Muhammad Ali, The Spirit of Islam karya Sayed Ameer Ali, The Rising Tide of Color dan The New World of Islam karya Lothrop Stoddard, dan berbagai karya lain yang tak sempat dia sebutkan satu per satu.

Selain membaca buku, dia juga rajin surat-menyurat dengan A. Hassan, seorang ulama asal Bandung. Dalam diskusi via tulisan itu, dia mengutarakan sharing soal Islam yang berlangsung dari 1 Desember 1934 s/d 17 Oktober 1936 (Solichin Salam, Bung Karno dan Kehidupan Berpikir dalam Islam, 1964).




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs