Kemerdekaan Indonesia dan Rapat Rahasia di Washington
Peristiwa , TERBARU 20:34
0
Shares

Tak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945, Van Mook menghubungi Belanda. Seorang Letnan Gubernur Jenderal yang ditugaskan di Hindia-Belanda itu melaporkan bahwa kemerdekaan negara bekas jajahannya itu “tak sah dan harus direbut kembali”.

Pada 5 September 1945, dia mengirim surat kepada Menteri Seberang Lautan Logemann. Isi suratnya sebagai berikut, “Kepada Mountbatten saya telah meminta agar mengeluarkan perintah, bahwa jangan sampai dikeluarkan pengakuan terhadap apa yang disebut RI dan pemerintahannya…” Karena laporan dia, Belanda ngotot meluncurkan agresi militernya yang pertama dan kedua (Basuki Suwarno, Hubungan Indonesia-Belanda Periode 1945-1950, Pan Percetakan Upakara, Jakarta, 1999).

Kengototan Negeri Kincir Angin merebut kembali wilayah bekas jajahannya itu membuat pihak Amerika Serikat (AS) khawatir. Kekhawatirannya itu didasarakan pada fakta adanya infiltrasi komunisme di Indonesia.

Kalau Belanda terus bersikeras merebut Indonesia, kebangkitan kelompok kiri di negara tersebut tak dapat dibendung lagi. Akibatnya fatal dan merugikan Amerika yang saat itu sedang perang dingin dengan Uni Soviet.

Oleh karena itu sebelum agresi militer Belanda yang kedua (19 Desember 1948) benar-benar meletus, 24 jam sebelumnya di Washington, D.C ada pertemuan rahasia. Pertemuan itu diselenggarakan oleh George Kennan (direktur Policy Planning Staff), George Marshall, dan wakilnya, Robert Lovett, 17 Desember 1948. Mereka membicarakan kasus konflik Belanda-Indonesia.

Kennan “stressed that the most significant issue facing the United States in its Cold War with the Soviet Union, at that very moment, was located in th faraway Indonesian archipelago,” demikian kutipan yang diambil dari buku American Vision of the Netherlands East Indies/Indonesia: US Foreign Policy and Indonesian Nationalism, 1920-1949 (2002) karya Frances Gouda dan Thijs Brocades Zaalberg. Artinya, Kenan “menegaskan bahwa persoalan terpenting yang sedang dihadapi Amerika Serikat dalam Perang Dingin melawan Uni Soviet, pada saat itu, terletak di kepualaun Indonesia nan jauh.

Dalam buku itu dijelaskan bahwa direktur Policy Planning Staff itu mengusulkan supaya Amerika segera mengambil keputusan yang tepat. Saran dia adalah Amerika harus menekan Belanda dan memberikan kesempatan bagi para tokoh Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya.

Alasannya karena Belanda tak mampu menjadikan Indonesia bersahabat dan dekat secara politik dengan Barat. Justru sebaliknya. Kehadiran Belanda kembali di Indonesia menjadi sebab baru bagi kebangkitan komunisme. Bagi Kennan, sosok seperti Sukarno, Hatta, dan para tokoh moderat lainnya ‘lah yang dapat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita Amerika itu.

Lebih jauh Kennan berspekulasi, bila Indonesia jatuh ke tangan komunisme tak menutup kemungkinan negara-negara lain seperti Thailand atau Semenanjung Malaya terkena imbasnya. Karena negara-negara itu akan berada dalam pengaruh Cina komunis, Indocina komunis, dan Indonesia komunis.

Rupanya, saran Kennan didengarkan. Akibat serangan agresi militer yang keduanya itu, Belanda terkucilkan dari Wasington, London, dan beberapa negara Barat lain yang sebelumnya juga mendukung.

Salah satu sebab kekalahan Belanda dalam agresi militer keduanya itu selain serangan balik dari TNI sendiri juga adanya tekanan Amerika. Hari-hari pertama agresi itu terjadi, Departemen Luar Negeri AS melalui perwakilannya di Dewan Keamanan PBB mengusulkan resolusi dengan mengembalikan status quo ante di Indonesia. Bahkan, Washington memberitahukan akan menghentikan Marshall Aid terhadap pemerintahan kolonial Belanda di Asia Tenggara.

Hal itu mengakibatkan dampak psikologis bagi warga Belanda. Pemerintahan Belanda yang berada di Den Haaq ‘pun menyadari tekanan tersebut. Bila kemauan Amerika tak dipenuhi, Belanda akan dicoret dari daftar negara-negara yang akan dibantu oleh AS secara keuangan.

Berkat saran Kennan, akhirnya Belanda patuh kepada Amerika. Mau tak mau Belanda harus merelakan kemerdekaan Indonesia. Pengetahuan Kennan tentang konflik Belanda-Indonesia tak lepas dari jasa Merle Cochran, seorang diplomat AS yang ditugaskan sebagai wakil AS di GOC Jakarta.

Dia pernah berkata, “Hatta telah berjasa menumpas kaum komunis yang direstui Moskow dengan sarana seadanya”. Rupanya bagi AS, apapun caranya yang penting komunisme tumbang termasuk merelakan kemerdekaan Indonesia, sekalipun harus menekan Belanda.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs