Kebangkitan Nasional, Masihkah Pemuda Berperan?
Serba-Serbi , TERBARU 20:19
0
Shares

SejarahRI.com – Berperan dan baperan adalah cerminan psikologi pemuda zaman now. Setidaknya saya yang lahir di tahun 90-an merasa lebih “bersih” dari generasi sebelumnya. Bersih dari apa? Bersih dari konflik kepentingan rezim, baik Orde Lama (Orla) maupun Orde Baru (Orba).

Bagaimana tak bersih, kita masih baru belajar membaca di saat Reformasi digulirkan. Tapi, apa efeknya? Ketika kita tumbuh dan menyadari ada kekeurangan di sana-sini, kita jadi mudah menuding bahwa generasi tua adalah biang dari segala masalah. Hingga akhirnya kita merasa layak untuk berperan, namun di sisi lain hanya baperan karena bingung memulainya dari mana.

1908-2018

Boedi Oetomo bukan sekadar nama. Di sana terselip doa: “Budi Pekerti yang Mulia”. Ia adalah senjata awal yang harus ditancapkan sebelum akhirnya Dr. Wahidin mengutus Suratmo untuk masuk volksraad sepuluh tahun kemudian. Pemuda-pemuda itu berproses dan sadar peran. Mereka yang intelektual itu tak jadi kolonialis dengan hanya melahap kepintaran untuk keuntungannya sendiri. Sejak 1920 sampai 1935, seluruh lapisan rakyat bergabung dengan Boedi Oetomo.

Sering saya menyampaikan, malunya aku jika menjadi anak muda tapi meminta-meminta dari pemerintah. Bukankah dulu anak muda ini yang menuntut, mendobrak, dan melahirkan republik ini: dari rahimnya revolusi fisik, ketubannya imperialisme, dan ari-arinya adalah persatuan. Mengingat semua getir itu, malu rasanya kalau sekarang dengan dalih kebangkitan pemuda itu, kita hanya minta disusui. Minta diayun dalam kenyamanan, ditimang-timang. Pantas saja sedikit-sedikit merengek, baper.

Top-Down Revolution

Di tengah kebaperan dengan pertanyaan dimana peranku sekarang sebagai pemuda? Ada yang nekat dan berani masuk ke dalam sistem dengan cita-cita social betterment, nampaknya gagah diucapkan tapi tidak sedikit yang terbawa arus. Ada yang baru masuk ditangkap karena narkoba sampai korupsi.

Memang revolusi itu juga bisa diperjuangkan dari atas ke bawah, dengan kebijakan dan kebijaksanaan yang bertautan dengan rakyat. Kursi yang kita dapatkan dari elektoral itu layaknya sajadah yang menjadi tempat persujudan. Namun, dari kursi itu pula kita bisa terjungkal karena nafsu.

Migrasi Politik Anak Muda

Di tengah berbondong-bondongnya anak muda maju ke gelanggang politik, tantangannya adalah apakah konsisten menjadi anti-virus atau apakah bagian dari replikasi virus yang semakin mematikan.

Maka, wajar saja banyak pelajar dan mahasiswa yang akhirnya mencari model-model baru, mulai dari membangunkan lagi diskursus Negara Islam Indonesia dengan khilafahnya, berhimpun di organisasi-organisasi kepemudaan dan menekan kebijakan-kebijakan yang lebih pro-rakyat, membangun partainya anak muda, dan lain-lain. Semua itu adalah bentuk ijtihad memanifestokan kembali peran pemuda.

Masalahnya bukan di niatnya, melainkan semakin banyak model dan diskursus baru, semakin runcing jurang perbedaan yang kita timbulkan. Lucunya, semuanya saling menuding bahwa pihak yang berlainan adalah biang kerusakan. Yang menuding biang rusak dituding yang lain biang rusak. Akhirnya semuanya rusak dan pecah.

Taman Sari Indonesia Merdeka

“Kemerdekaan adalah sebuah jembatan emas,” kata Bung Karno, “dan di ujung jembatan emas itulah Taman Sari-nya Indonesia Merdeka harus kita sempurnakan. Maka jangan ada perasaan zwaarwichtig,” lanjut Bung Karno meyakinkan bahwa Indonesia harus merdeka dan melandaskan diri pada kesepakatan bersama yang saat itu dibahas dan disebutlah dia Pancasila.

Sebagai orang Islam, saya haqqul yaqin bahwa mengamalkan Pancasila adalah ladang pahala, dan berupaya mengingkarinya dan merusaknya, bahkan dengan dalih agama paling suci sekalipun adalah ketercelaan yang luar biasa. Mengapa? Coba telaah semua fikih, Islam menjunjung tinggi yang namanya akad (kesepakatan/perjanjian), dalam jual-beli, pernikahan, dan segala hubungan sosial lainnya. Dalam Islam, akad menempati martabat yang tinggi. Misalnya, mengapa dengan wanita yang sama saat masih berpacaran dihukumi dosa, tapi saat sudah berakad dan menikah dihukumi halal? Mengapa sebuah mangga saat diambil diam-diam dihukumi haram, tetapi saat dibolehkan oleh pemiliknya menjadi halal? Semuanya adalah kesepakatan. Pancasila adalah kesepakatan kita. Setialah! Amalkanlah!

Pak Dhe Karwo, Pemuda, dan Jawa Timur

Sejak menjadi wakil bupati, saya menjadi beruntung karena sering menghadiri acara-acara protokoler kepemerintahan. Tak terkecuali, memahami sosok Pak Dhe Karwo. Usia dan kumisnya tidak bisa menutupi jiwa mudanya dan jati dirinya sebagai manusia pergerakan. Sering saya dengar langsung working-ideology itu yang harus dibumikan, bukan lagi sekedar membeo pro-rakyat, bla bla bla.

Tetapi ada penyampaian beliau yang menjadi perhatian terbesar saya. Yakni ketika membahas bonus demografi ataukah bencana demografi. Di saat Indonesia diprediksi akan menjadi 5 negara terbesar dunia pada 2035, ditinjau dari kue ekonominya atau GDP nya, karena dipengaruhi banyaknya penduduk usia produktif yang artinya harusnya nilai produksi dan konsumsinya besar. Tapi di Jawa Timur, menurut Pak Dhe Karwo, puncak bonus demografi terjadi di tahun 2019. Apa artinya?

Pemuda Jawa Timur punya waktu yang lebih sempit untuk membuktikan apakah layak disebut pemuda yang mendulang bonus atau bencana. Bisa juga diartikan bahwa pemuda Jawa Timur haruslah menjadi lokomotif dari semua pergerakan keproduktifan anak muda, karena fase awal puncak bonus demografi itu dimulai disini. Wajar saja jika Jawa Timur selalu mendulang pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional, karena bonus demografi di lain negara selalu bisa memacu ekonomi 2-4%.

Ini penghargaan bagi pemuda Jawa Timur, tapi juga bukan tugas yang mudah untuk jadi pelopor. Saya bahagia Pak Dhe Karwo punya visi membangun Tri Sakti Institute, agar kelak saat beliau menua, gagasannya akan selalu bisa dilahap oleh sekian generasi. Jawa Timur menjadi kotak pandora. Bukan saya mulai chauvinis, tidak! Tetapi saya berharap semua pemuda memang harus sudah merasa bahwa ini mepet, ini krusial, agar tidak ber-lenggang kangkung.

Kado 100 Tahun Indonesia Merdeka

Jika pemuda menjadi demam, over-politics, dan baperan hanya untuk berperan elektoral, tapi lupa politik ekonomi kreatif, politik tengok bawah, politik pendidikan, dan kesehatan, serta politik-politik kebangsaan dan kerakyatan lainnya. Maka saya malu menyerahkan kado 100 tahun Indonesia Merdeka.

Sering saya curhat kepada sesama pemuda. Teman-teman, kasihan rakyat Trenggalek hanya punya wakil bupati lulusan SMA, bukan sarjana. Maka harusnya kalian yang lain di luar sana, apalagi yang bisa bersekolah karena beasiswa negara, adalah saya katakan lebih layak! Jangan jadi kolonial dengan memainkan intelektualmu untuk mengambil keuntungan sendiri.

Jadilah gentle, jika ada kurang-kurangnya Indonesia saat ini bersyukurlah, siapa tahu kita sedikit-sedikit punya peran memperbaikinya. Maka, Indonesia yang sedikit-sedikit masih punya awan kelam adalah tempat kita untuk menjadi pahlawan-pahlawan selanjutnya.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional, dan tidak ada kebangkitan tanpa simpul-simpul persatuan, kata Bung Besar.

Salam Pemuda,
Merdeka,

Mochamad Nur Arifin




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs