Kampung “Seribu Tengkorak”: Desa Tertua di Bali, Wisata Terhoror di Indonesia
Serba-Serbi , TERBARU 16:09
0
Shares

Bali memang dikenal sebagai pulau wisata. Panorama alamnya tak dapat dipungkiri sungguh memikat. Hijau pelataran dan gulungan ombak-ombak di sepanjang bibir pantai pulau itu selalu membuat para turis tergila-gila.

Namun di balik keindahannya, ternyata di pulau itu terdapat sebuah kampung yang sangat menyeramkan. Bahkan, bisa dibilang terhoror di Indonesia. Lokasinya berada di Desa Trunyan (atau, Terunyan). Sindonews ( 12 Juni 2013) menyebutnya sebagai “desa tertua di Bali”.

Berdasarkan bukti sejarah, prasasti tertua di Bali menunjukkan bahwa sejak tahun 882, di desa tersebut sudah terdapat penghuni asli, yakni suku Bali Aga. Baru pada abad ke-14 pulau mereka didatangi orang Jawa secara besar-besaran. Para imigran itu adalah keturunan Majapahit yang lari ke Bali.

Selain sebagai desa tertua, tempat tersebut merupakan destinasi wisata yang unik. Penduduk desa yang memiliki udara sangat sejuk itu saat ini hanya berjumlah sekitar 600 orang. Di tengah gempuran modernisasi dan industrialisasi wisata, suku Bali Aga itu tetap melestarikan nilai-nilai tradisi kuno.

Salah satu adat leluhur mereka yang unik adalah pemakaman mayat. Tak seperti orang Bali di daerah lain, mereka tak mengenal tradisi ngaben (upacara kremasi). Penduduk asli yang meninggal di desa itu tak dibakar melainkan disatukan dengan alam.

Mereka meletakkan janazah warga di atas tanah, di dalam gua dan bahkan di atas pohon tanpa dipendam. Tradisi itu mereka sebut “mepasah”. Bagi mereka, tiap-tiap jasad orang mati harus dikembalikan ke alam.

Yang lebih menarik lagi, mereka membuat kategori kuburan. Ada tiga macam kuburan yang mereka klasifikasi berdasarkan sebab kematian.

Pertama, kuburan “Sema Bantas”. Pemakanan ini diperuntukkan bagi jasad yang meninggal karena bunuh diri, berkelahi dan terserang penyakit ganas. Kedua, kuburan “Sema Nguda”, yakni khusus bayi atau orang-orang yang mati sebelum menikah. Dan, ketiga adalah kuburan “Sema Wayah”, yaitu kuburan umum bagi warga yang meninggal akibat penyakit biasa.

Sampai sekarang, jenis kuburan tersebut masih dapat disaksikan. Kalau datang ke desa itu, tak perlu kaget bila melihat tengkorak mayat di mana-mana. Namun yang membuat banyak orang bertanya, kenapa mayat-mayat yang tak dipendam itu sedikitpun tak mengeluarkan bau?

Rupanya bau itu hilang karena diserap oleh Pohon Taru Menyan. Pohon ini sangat harum dan dapat menyedot aroma tak sedap yang ada di sekitarnya.

Sebagaimana paparan laman Tempatwisatabali.info (21 Desember 2017), “sejarah” pohon tersebut adalah “sejarah” Desa Terunyan itu sendiri. “Jika membicarakan cara pemakaman masyarakat adat desa Trunyan yang unik ini ternyata tidak lepas dari sejarah berdirinya desa ini,” tulis admin pada portal tersebut.

Sejarah itu didasarkan pada sebuah legenda menarik tentang tiga pangeran dan satu putri dari Kerajaan Surakarta, Jawa di zaman dahulu. Suatu ketika, mereka mencium aroma yang sangat harum.

Mereka tak tahu dari mana asal wewangian itu? Karena penasaran mereka memutuskan untuk mencari sumbernya. Mereka ‘pun akhirnya pergi berkelana.

Sampai di kaki Gunung Batur, sang putri memilih untuk tinggal di sana dan tak meneruskan perjalanan. Sejak itu, dia mendapatkan gelar Ratu Ayu Marketeg.

Tinggal tiga pangeran yang melanjutkan petualangan. Setelah tiba di daerah Kedisan, mereka mendengar suara burung. Suaru itu sangat merdu di telinga mereka.

Mendapati suara itu, pangeran yang ketiga tertarik. Dia meloncat-loncat kegirangan sampai-sampai membuat pangeran pertama marah. Karena kesal, pangeran pertama menyuruhnya untuk tinggal di situ. Tapi pangeran ketiga tak mau dan akhirnya ditendang hingga terjauh. Lalu, pangeran ketiga yang jatuh itu berubah menjadi patung batu Bathara Dewa.

Dua pangeran lainnya meninggalkan kawannya yang jadi patung itu. Mereka bersikeras untuk tetap meneruskan pencarian. Setelah sampai di sebuah kampung, mereka berjumpa dengan dua orang gadis yang sangat cantik.

Karena menyapanya, pangeran kedua ditendang oleh pangeran pertama. Pangeran pertama tak senang bila tujuan petualangan terganggu oleh hal-hal lain yang tak berhubungan dengan misi perjalanan.

Namun meski ditendang dan tertelungkup, pangeran kedua diyakini belum mati. Dia kemudian menjadi kepala Desa Abang Dukuh: sebuah nama yang berarti “tertelungkup” menurut bahasa setempat.

Pangeran pertama akhirnya berjalan seorang diri. Setelah melewati berbagai rintangan, dia menemukan apa dia cari. Rupanya sumber aroma harum itu ada di pohon Taru Menyan. Setelah menemukan pohon itu, dia menikahi seorang gadis setempat dan menjadi pemimpin desa.

Perempuan yang menjadi permaisurinya itu kelak diberi gelar Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar, sedangkan dia sendiri bergelar Ratu Sakti Pencering Jagat. Setelah menjadi penguasa di desa itu, dia ingin aroma pohon Taru Menyan itu tak menyebar.

Dia ‘pun memikirkan caranya. Setelah mendapatkan ide, penguasa baru itu menyuruh rakyatnya supaya setiap jasad orang mati jangan lagi dipendam melainkan ditaruh di bawah pohon tersebut hingga busuk.

Dari sejak itu, tradisi menaruh mayat sampai membusuk tanpa bahan pengawet di desa Terunyan dimulai. Uniknya, mereka—para Bali Aga—tetap melestarikannya sampai sekarang dan menyebut tradisi itu dengan “mepasah”. Dan karena tradisi tersebut, desa mereka menjadi wisata terhoror di Indonesia dan dijuluki sebagai “Kampung Seribu Tengkorak”.

Namun desa tersebut merupakan destinasi wisata yang jarang diketahui. Karena aksesnya dari dulu dikenal sulit. Untuk sampai ke sana, para turis harus naik perahu terlebih dahulu dan memakan waktu sekitar 2 jam dari Bali Selatan. Desa tersebut terletak di sebelah timur Danau Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali Utara.

Desa tersebut cocok buat para turis yang senang mengunjungi tempat-tempat horor. Selain itu, fakta ini juga menunjukkan bahwa Bali tak hanya memiliki tempat wisata yang indah, yang horor ‘pun ternyata juga ada.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs