Jenderal Sudirman dan Para Petani Sobo
Serba-Serbi , TERBARU 15:42
0
Shares

Jenderal Sudirman bersama pasukannya mamasuki hutan, Februari 1949. Dia merencanakan perang gerilya setelah dua bulan sebelumnya bertemu Sukarno, 19 Desember 1948 di Yogyakarta. Pesan Sukarno, “saya perintahkan kepada Mu untuk menyebar tentara ke desa-desa.

Setelah melewati perjalanan panjang, 18 Februari 1949, mereka tiba di sebuah dukuh Sobo, Desa Pakis. Kedatangan mereka disambut hangat para warga.

Karsosemito, kepala dukuh Sobo mempersilakan Jenderal Sudirman untuk menginap di rumahnya. Dia menunjukkan sebuah kamar yang dilengkapi bale-bale kayu, kasur, bantal, kursi, dan juga meja.

Selama gerliya berlangsung, di sana ‘lah Jenderal Sudirman menulis surat perintah kepada segenap prajurit yang ada di Jawa dan Sumatera untuk tetap semangat dalam pertempuran. Rumah Karso mendadak menjadi “markas besar gerilya”.

Di luar, para prajurit TNI berjaga ketat. Tak sembarang tamu boleh masuk. Siapa ‘pun yang datang harus melewati pemeriksaan ketat. Kedisiplinan ini membuat mereka tak tercium Belanda.

Untuk kebutuhan konsumsi, warga yang tanggung. Warga benar-benar senang atas kedatangan mereka dan sama sekali tak merasa terbebani.

Meski hanya mengandalkan bantuan, makanan yang diolah tetap enak. Sebab, Jenderal Sudirman membawa pembantunya yang ahli masak, Jono.

Hiburan ‘pun terpenuhi. Kadang mereka mendengarkan gramofon, bercanda, dan ngobrol ringan. Meski tegang, mereka masih menyempatkan diri untuk bersenang-senang.

Setelah cukup lama tinggal, Jenderal Sudirman dipanggil untuk pergi ke kota bersama para tentaranya. Mereka harus meninggalkan dukuh Sobo. Ketika mereka hendak pergi, para warga merasa sedih dan kehilangan.

Dengan duduk di atas tandu dari kursi hasil pemberian warga, Jenderal Sudirman berangkat dikawal para tentaranya. “Den mbenjang nopo tindak mriki malih? Daweganipun ijem tasih katah,” kata seorang warga bernama Pak Takrama—yang rumahnya ditempati oleh Letnan Heru. Artinya, “Tuan kapan akan kemari lagi? Kelapa mudanya masih banyak.

Rupanya selama di dukuh, mereka suka meminum kelapa muda. Selain Pak Takrama masih banyak warga lain yang memberi bingkisan kepada mereka sebagai bekal di tengah jalan.

Sebelum benar-benar pergi, Sang Jenderal berpesan kepada Karsosemito, “berkenanaan kami akan segera kembali ke Yogya, hanya pesan kami, semoga pak Karso tidak mendapatkan halangan sesuatu apa. Hanya pesan kami, kalau nanti terjadi gempa-bumi tujuh kali, berpeganglah yang kokoh. Adapun pertanyaan pak Karso dahulu, dasarnya negara kita Pancasila dan Undang-undang.” (N.S.S. Tarjo, Dari Atas Tandu Pak Dirman Memimpin Perang Rakyat Semesta, 1948).




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs