IMF Berulah, Soeharto Lengser
TERBARU , Tokoh 21:00
0
Shares

SejarahRI.com – Tepat pukul 09.05, 21 Mei 1998, Soeharto mengumunkan pengunduran dirinya setelah 32 tahun menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia di Istana Merdeka. Sejak itu dinyatakan bahwa rezim Orde Baru (Orba) tumbang dan reformasi bergulir.

Peristiwa ini terjadi lantaran beberapa faktor. Salah satunya adalah krisis ekonomi atau yang sering disebut, “Krisis Moneter” yang sudah berlangsung sejak 1997.

Namun, krisis ini bukan ada dengan sendirinya. Kondisi ini ada yang menciptakan. Dalangannya adalah IMF dan Amerika Serikat.

Sumber Informasi

Informasi ini sempat disampaikan oleh Prof. Steve Hanke dalam akun twitternya, 05 Maret 2018. Dia menulis, “”The IMF’s role in Asian Fin. Crisis at direction of U.S. Pres. Bill Clinton = give advise to destabilize Indonesia & topple Pres. Suharto.”

(Artinya, “Kebijakan IMF pada krisis finansial Asia dalam arahan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton = memberi saran untuk melakukan destabilisasi Indonesia dan menjatuhkan Presiden Soeharto”).

Bahkan, dalam cuitannya itu, dia menyertai link berita, Forbes.com yang memuat informasi lebih lengkap terkait pendapatnya. Dalam laman itu, ternyata benar, Direktur Pelaksana IMF Michael Camdessus mengaku.

Camdessus mengatakan, “We created the conditions that obliged President Suharto to leave his job.” Artinya, “Kami telah menciptakan kondisi-kondisi yang memaksa Presiden Suharto meninggalkan pekerjaannya.

Lantas siapakah Hanke? Dia adalah ekonom dari John Hopkins University, Amerika Serikat sekaligus pakar Dewan Mata Uang atau Currency Board System (CBS) yang sempat menjadi penasehat Soeharto dalam masalah ekonomi.

Dari itu, tak heran kalau pendapatnya dinilai akurat oleh sejumlah media di Tanah Air. Di dalam tulisannya itu, 20th Anniversary, Asian Financial Crisis: Clinton, The IMF and Wall Street Journal Toppled Suharto‘ (Forber, 6 Juli 2017), dia blak-blakan.

Kronologi

Krisis ekonomi yang terjadi sejak 1997 itu kemudian disusul oleh krisis politik. Sehingga Indonesia tak lagi stabil. Dampaknya, nilai rupiah anjlok, banyak roda bisnis terhenti, publik mulai gelisah.

Di tengah situasi runyam seperti ini, pada 15 Januari 1998, Seoharto tepaksa menandatangani letter of intent dengan IMF di kediamannya, Jalan Cendana. Memang awalnya, terkesan membantu. Namun ternyata, justru menjebak Pak Harto sendiri.

Dalam menghadapi kesulitan tersebut, Soeharto mencoba cari alternatif. Hanke, penasehatnya itu pada akhir Januari di tahun yang sama menawarkan proposal Currency Board System (CBS) atau Dewan Mata Uang.

Soeharto setuju karena dinilai akan dapat menyelamatkan Indonesia. “Dia sudah menyiapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang CBS,” tulis Merdeka.com.

Tapi gagasan tersebut membuat pihak IMF tak terima. Pada 11 Februari 1998, Michel Camdessus menyurati Soeharto. Isinya, IMF mengancam Soeharto. Berita ini disampaikan oleh The Washington Post.

Organisasi internasional yang bergerak di bidang perekonomian tersebut berjanji akan menangguhkan pinjaman bila Indonesia tak bersikap jelas mengenai perjanjian yang telah ditandangani Pak Harto pada tanggal 11 itu. Nilai pinjaman itu sebesar 43 militer dolar AS.

Selain itu, di kalangan masyarakat tersebar opini sebagai respon terhadap rencana CBS. Bahwa, CBS yang digagas oleh Hanke dianggap solusi menyesatkan. Sehingga tak sedikit dari masyarakat sendiri yang menentang.

Tekanan ini sangat berat. Krisis ekonomi, isu politik, dan ancaman IMF bercampur aduk. Kondisi itu benar-benar berhasil membuat Soeharto ciut. Sehingga, CBS akhirnya gagal diterapkan.

Dan, sejak itu Soeharto bernasip sama seperti Soekarno pada tahun 1965. Urat kekuasaanya dipotong pelan-pelan. Kalau Soekarno jatuh karena politik “adu domba” (antara AD dan PKI), Soeharto lengser karena “krisis moneter” ulah IMF.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id