“Ikrar Habib Bugak” dan Wakaf Aceh di Mekah
Tempat , TERBARU 19:32
0
Shares

Belakangan, pertengahan Maret 2018, lahan wakaf Aceh yang berada di Mekah sempat menjadi perbincangan publik. Karena, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mengutarakan keinginannya untuk berinvestasi dan mengelolanya.

Berbagai respon mencuat. Terutama dari warga Aceh. Wakaf tersebut akhirnya menjadi isu kontroversial yang viral.

Untuk menjernihkan persoalan, penting melihat kembali asal usulnya. Terutama melihat bagaimana perjanjian awal wakaf tersebut: oleh siapa dan untuk siapa sebenarnya ia dipersembahkan.

“Rumah tersebut (Baitul Asyi) dijadikan tempat tinggal jamaah haji asal Aceh yang datang ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan juga tempat tinggal orang asal Aceh yang menetap di Mekah. Sekiranya karena sesuatu sebab tidak ada lagi orang Aceh yang datang ke Mekah untuk haji, maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal para pelajar Jawi, (“Jawi” merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan para pejalar dari Asia Tenggara di Mekah).

“Sekiranya karena sesuatu sebab mahasiswa Asia Tenggara ‘pun tidak ada lagi yang belajar di Mekah maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal mahasiswa Mekah yang belajar di Masjidil Haram, sekiranya mereka ini ‘pun tidak ada juga, maka wakaf ini diserahkan kepada Imam Masjidil Haram untuk membiayai keperluan Masjidil Haram.”

Kutipan di atas merupakan bunyi ikrar terkait wakaf yang sedang kontroversial itu: “Ikrar Habib Bugak”. Disebut “Ikrar Habib Bugak” karena pernyataan mengikat tersebut disampaikan oleh seorang filantropis asal Aceh, Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi di depan Hakim Mahkamah Syari’ah Mekah, pada tahun 1800-an.

Dia merupakan keturunan Yaman yang masih merupakan “jamaah alawiyyin”. Yakni, sebagai salah satu keturunan Nabi Muhammad. Dia merupakan orang kaya raya yang terkenal sangat dermawan dan dijuluki sebagai “Habib Bugak”.

Dari saking murah hatinya, dia membeli lahan yang berada di di sekitar daerah Qusyasyiah (sekarang, termasuk wilayah Bab Al Fath—perbatasan antara Marwah dan Masjidil Haram). Lahan itu bukan untuk dirinya sendiri. Tapi dia peruntukkan sebagai wakaf.

Di atas lahan itu nantinya dibangun rumah yang kemudian disebut “Baitul Asyi”. Para jamaah haji dan pelajar dari Asia Tenggara kala itu—terutama Aceh—selama melaksakanan ibadah haji dan menempuh pendidikan di Mekah sempat memanfaatkan fasilitas tersebut.

Untuk mengelolanya, Habib Bugak menunjuk seorang nadzir (pengurus) asal Aceh yang sudah lama bermukim di Mekah. 1999, Mahkamah Syariah Mekah mengangkat nadzir baru. Namanya, Syaikh Abdul Ghani bin Mahmud bin Abdul Ghani. Dia merupakan generasi keempat dari para nadzir sebelumnya.

Sejak 2004, sebagai generasi kelima Syaikh Munir bin Abdul Ghani Al-Asyi yang melanjutkannya. Selain dia, yang juga dipercaya mengelola adalah Dr. Abdul Lathif Baltho.

Namun pada saat pemerintahan Arab Saudi berada di bawah kekuasaan Raja Malik Sa’ud bin Abdul Azis, “Wakaf Bugak” tersebut terkena proyek penggusuran. Karena pemerintah sedang melakukan perluasan Masjidil Haram.

Sebagai ganti rugi, pemerintah setempat membayar tanah tersebut. Uang itu oleh badan pengelola dimanfaatkan untuk membeli lahan baru. Lokasinya di sekitar Ajyad pada dua tempat, pertama dengan jarak tempuh 500 meter dari Masjidil Haram dan kedua, berjarak 700 meter.

Berdasarakan kesepakatan di antara para pengelola wakaf, pada kedua lokasi itu dibangun hotel bintang lima. Keuntungannya pertama dibelikan dua lahan lagi di daerah Aziziah seluas 1.600 dan 850 meter persegi dan kedua, disumbangkan kepada calon jamaah haji asal Aceh sejak 2006.

Kedua lahan baru itu kemudian dimanfaatkan kembali pada tahun 2009. Di atasnya, didirikan dua bangunan sebagai tempat bagi pada jamaah asal Embarkasi Aceh. (Acehtribunnews.com; validnews.co; dan, ihram.co.id)




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs