Historisitas “Ritual Apem”: dari Penyambutan Ramadhan hingga Perisai Api Neraka
Serba-Serbi , TERBARU 02:26
0
Shares

SejarahRI.com – Apem bukan kue biasa. Bagi masyarakat Surabaya, makanan ini punya makna religiusitas tersendiri. Tiap jelang Ramadhan, mereka biasanya melangsungkan “ritual” makan kue tersebut sebagai bentuk penyambutan bulan puasa.

Makan kue apem untuk menandai datangnya bulan puasa lazim dilakukan di Surabaya. Nama kue apem dipercaya berasal dari kata ‘afwan‘ dalam bahasa Arab yang artinya maaf,” demikian papar Shabri Shaleh Anwar dalam Ramadhan dan Pembangkit Esensi Insan : Pengajian 30 Malam Ramadhan (2014).

Di mata umat Muslim, Ramadhan adalah bulan suci. Di dalamnya, mereka dapat berinvestasi amal sebanyak-banyaknya. Karena mereka meyakini, pahala dilipatgandakan. Dari itu, untuk menyambutnya, mereka harus bersedia membersihkan diri dari dosa terlebih dahulu.

Salah satu tradisi unik pembersihan diri ini adalah apa yang dilakukan oleh masyarakat Surabaya. Mereka melakukannya dengan makan apem. Sekilas memang tak nyambung. Namun, “mengonsumsi kue apem bersama-sama, ini merupakan simbol meminta maaf kepada keluarga, teman, dan sanak saudara,” seperti yang dijelaskan Yusuf dan Toet dalam Indonesia Punya Cerita: Kebudayaan dan Kebiasaan Unik di Indonesia (2012).

Secara historis, diyakini bahwa apem sendiri baru diketahui oleh masyarakat Jawa pada abad ke-16. Orang yang kali pertama memperkenalkannya adalah Ki Ageng Gribig. Dia dipercaya sebagai keturunan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Sebab ayahnya, Raden Mas Guntur atau Prabu Wasi Jaladara adalah putra Jaka Dolog, yang tak lain anak dari Raja Brawijaya V.

Pada tanggal 15 Sapar 1511 H (maksudnya, Kalender Jawa, Red), K.A. Gribig baru saja kembali dari Tanah Suci (Mekkah) menunaikan rukun Islam yang kelima dan membawa oleh-oleh kue apem,” demikian kutipan dari Ensiklopedi Umum (1973). Kyai Gribig lalu membagi-bagikan kue itu kepada keluarga, tetangga dan santrinya.

Namun sempat tak cukup karena orang-orang yang memintanya membeludak. Lalu, dibuatlah apem tiruan sebagai tambahan. Ki Gribig menyuruh istrinya untuk memasaknya. Keesokan harinya, selepas Jumatan, Ki Gribig membagi-bagikan apem lagi kepada sejumlah besar santrinya dan warga sekitar.
Sebelum memulai, dia membaca “ya qowiyyu” terlebih dahulu sebanyak tiga kali.

Pembagian itu dilakukan dari menara Masjid Besar Jatinom, Klaten Jawa Tengah. Dari sejak itulah apem dikenal luas dan menjadi bukan sembarang kue. Karena sampai sekarang, setiap haul Ki Gribig, masyarakat Jatinom tetap melestarikan “ritual” Saparan Yaqowiyyu, yakni bagi-bagi apem itu.

Bahkan seiring perkembangan zaman, daya tarik masyarakat Nusantara terhadap apem meningkat. Kue ini tersebar bukan hanya di Kepulauan Jawa. Lebih dari itu, hingga masyarakat Sumatera Selatan ‘pun mengenalnya.

Sejak awal keberadaannya, apem memang kue yang sarat nilai-nilai mistik dan merupakan sajian ritual. Namun meski demikian, ternyata, beda daerah beda bentuk penggunannya.

Salah satunya seperti acara Sya’banan yang dilestarikan oleh orang Jawa.
Dalam ritual ini, mereka menyediakan makanan khusus (apem) sebagai persembahan bagi orang tua mereka yang telah meninggal di pemakaman atau bagi makam suci di sebuah kampung (ziarah),” tulis Jajat Burhanudin dalam Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Politik Muslim Dalam Sejarah Indonesia (2012).

Atau, seperti yang juga berkembang di Sumatera Selatan. Masyarakat di sana menjadikan apem sebagai perlengkapan utama pada upacara tahlil kematian di hari ketujuh ataupun ke empuluhnya. Biasanya, orang Palembang menyebutnya ampem bekuwa.

Seperti ulasan Harun Nur Rasyid dalam Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatera) yang terbit pada 2004, “Pembuatan apem bekuwa tidak dilakukan setiap hari karena fungsi dari makanan ini terbatas pada pelaksanaan upacara keagamaan,… Menurut kepercayaan mereka, apem bekuwa dapat dipakai sebagai tebeng api nerako atau ‘perisai api neraka’ bagi orang meninggal.” Lebih lanjut, dia menulis, “Menurut cerita, apem bekuwa ini ada sejarahnya.”

Konon, di Palembang ada seorang kaya raya. Dia dermawan, namun pamrih. Tiap kali membantu orang, dia ingin mendapat pujian. Suatu hari, seorang pengemis datang minta-minta ke rumahnya. Si kaya itu memberinya apem bekuwa. Malamnya si kaya itu bermimpi.

Dalam mimpi tersebut dia masuk neraka, tetapi dia ditutupi oleh apem yang telah diberikan pada pengemis yang datang siang harinya,” tulis Rasyid menuturkan kembali cerita rakyat yang populer di Palembang. Lantaran ketutup apem, si kaya selamat dari api neraka.

Cerita semacam ini memang terkesan unik dan susah untuk dibuktikan faktualitasnya. Pertama, keterbatasan sumber dan yang kedua, konten ceritanya adalah mimpi yang tentu tak mungkin dapat diverifikasi. Namun terlepas dari faktual atau tidaknya, yang jelas, cerita ini menyebar luas di masyarakat dan menjadi fondasi kebudayaan kita.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id