Hanya di Indonesia, Tradisi Paskah Unik Ini Dapat Ditemukan
Peristiwa , TERBARU 18:21
0
Shares

Paskah merupakan salah satu hari besar dalam agama Kristen. Hari itu merupakan peringatan atas peristiwa yang diyakini sakral, yakni kebangkitan Yesus dari kuburnya. Dalam upaya merayakannya, umat Kristen di Indonesia punya tradisi unik. Salah satu yang paling menarik adalah tradisi kure di NTT.

Pada setiap hari Paskah, warga Kristen Kampung Kote, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur selalu merayakan “kebangkitan Yesus”. Ada yang unik dalam cara mereka merayakannya. Mereka menamai prosesi itu dengan tradisi “Kure”.

Kure merupakan kata serapan dari bahasa Latin yang berarti “berdoa sembari mengunjungi keluarga-keluarga”. Dalam pelaksanaannya umat Katolik di daerah tersebut melakukan doa bergilir.

Mereka memulainya sejak hari Rabu—sehari sebelum tri hari suci—dan diawali dengan ritual pengosongan diri (Boe Nekaf). Semua warga yang terhimpun sebagai suku Ume Uis Neno berkumpul. Mereka melakukan doa dan renungan bersama.

Untuk siap-siap memasuki minggu sengsara, di mana menjelang penyaliban Yesus, mereka melakukan Toas Nek Amleut Polin yakni penyesalan dosa-dosa. Yang unik dari ritual ini adalah pengosongan diri dilakukan pada pukul 17.00 Wita secara bersama di gereja setempat.

Mereka menyalakan 13 lilin kerucut yang diletakkan mengelilingi altar. Lilin-lilin ini menggambarkan Yesus dan 12 rasulnya. Setiap akhir lagu, dua lilin dipadamkan. Dan itu terus dilakukan sampai lilin ke-12.

Lilin ke-13 yang masih menyala itu kemudian disimpan di bawah altar. Lampu gereja dipadamkan dan tiga kali lonceng gereja dibunyikan. Saat bunyi ketiga terdengar semuat jamaah dalam gereja bertepuk tangan. Di luar, pada saat bersamaan semua lampu berbagai rumah di kampung itu dipadamkan.

Setelah itu doa masih terus dilanjutkan pada hari-hari berikutnnya. “Berdoanya juga dilakukan secara singkat dan mereka hanya meminta kekuatan roh Allah dan nenek moyang mereka yang telah menerima datangnya agama Katolik.” kata Raja Alex Yosep Antonio Costa, ketua adat Suku Noemuti kepada Kompas, 27 Maret 2016.

Tradisi ini sudah berlangsung lama. “Sejak datangnya Portugis di Noemuti,” tutur lelaki yang merupakan keturunan kelima dari salah satu misionaris Katolik pertama di Pulau Timor itu. Berdasarakan catatan sejarah, wilayah tersebut pada era kolonialisme merupakan wilayah kekuasaan Belanda.

Namun, Belanda dan Portugis membuat kesepakatan pada tahun 1916. Kedua negara kolonial ini menukar wilayah jajahannya. Kote yang berada di bawah kekuasaan Belanda itu ditukar dengan Maukatar (salah salah satu daerah di Oekusi, Timor Leste) milik Portugis.

Sejak itu, kota tersebut berada dalam kendali Portugis. Pada saat bersamaan datanglah para imam Katolik Fransiskan. Mereka menyebarkan agama tersebut kepada penduduk setempat. Salah satu peninggalan mereka adalah patung-patung kudus dan benda-benda devosional yang terdapat dalam rumah-rumah adat (Ume Mnasi).

Penempatan benda-benda tersebut ternyata diikuti dengan tradisi penguatan iman dan doa bergilir dari satu rumah adat ke Rumah Adat Tuhan (Ume Uis Neno). Itu dilakukan pada tri pekan suci dalam rangkan menyambut Paskah. Berawal dari situlah tradisi Kure dikenal oleh warga.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id
nmd runnner nmd runnner black nmd runnner white nmd runnner grey nmd runnner gs ultra boost ultra boost black ultra boost white ultra boost grey ultra boost gs ultra boost uncaged ultra boost uncaged black ultra boost uncaged white ultra boost uncaged grey ultra boost uncaged gs yeezy boost 350 yeezy boost 350 black yeezy boost 350 white yeezy boost 350 grey yeezy boost 350 gs yeezy boost 350 v2 yeezy boost 350 v2 black yeezy boost 350 v2 white yeezy boost 350 v2 grey yeezy boost 350 v2 gs yeezy boost 750 yeezy boost 750 black yeezy boost 750 white yeezy boost 750 grey yeezy boost 750 gs