Habib Husain dan Sejarah “Keramat Luar Batang”
TERBARU , Tokoh 18:37
0
Shares

Luar Batang merupakan kampung tertua di Jakarta. Kampung ini sudah berkembang sejak tahun 1630-an. Pembangunan kampung ini tak lepas dari peran VOC waktu itu.

Sebelum dinamakan “Kampung Luar Batang”, kampung ini dulunya disebut sebagai Javassche Kwartier sesuai dengan peta yang dibuat CA von Luepken, 1780. Karena oleh VOC tempat tersebut dijadikan sebagai lokasi tinggal para buruh yang berasal dari Jawa, terutama Cirebon.

Pejabat tinggi VOC yang mengusulkan untuk membangun kampung itu adalah Frederik Julius Coyyet. Pria Belanda yang menjabat sebagai Kepala Saudara dan Syahbandar VOC itu mengusulkan idenya kepada Pemerintah Tinggi, dan kemudian disetujui pada 1729 (Popi Puspitasari, Achmad Djunaedi, dkk, Dinamika Pemanfaatan Lahan Kampung Bersejarah “Luar Batang” Jakarta Utara, Forum Teknik Vol.34 No. 1, Januari 2011).

Sejak itu, kampung ini bukan hanya sebagai hunian buruh-buruh Jawa. Tetapi juga sudah dijadikan sebagai tempat persinggahan para pasiar, awal kapal, dan berbagai imigran yang berlabuh di Bandar Pelabuhan Sunda Kelapa. Mereka yang mendarat di pelabuhan tersebut, biasanya singgah di kampung itu.

1736, di antara para pesiar yang singgah di kampung yang sudah tujuh tahun dibangun itu adalah seorang lelaki muda berperawakan Arab. Ia berasal dari Hadramaut, Yaman. Namanya Al-Habib Husein bin Abubakar bin Al-Aydrus (Madjid Hasan, Dari Nabi Nuh Sampai Orang Hadramaut di Indonesia: Menelusuri Asal Usul Hadharim, Bania, Jakarta, 2010).

Habib Husein ternyata tak hanya singgah di kampung itu. Tapi, di sana ia menoreh sejarah. Sejarah yang kelak dikenang oleh segenap bangsa Indonesia.

Di kampung Javassche Kwartier itu, dia membangun sebuah surau di atas lahan pemberian salah satu Gubernur Jenderal Belanda (Popi Puspitasari, Achmad Djunaedi, dkk, Dinamika Pemanfaatan Lahan Kampung Bersejarah “Luar Batang” Jakarta Utara, Forum Teknik Vol.34 No. 1, Januari 2011). Di surau yang kemudian menjadi Masjid Annur itu, dia mengajarkan Islam kepada masyarakat sekitar sana.

Dia habiskan hari demi harinya di sana untuk berdakwah. Walaupun usianya sangat muda waktu itu, dia merupakan orang yang sangat disegani dan dihormati oleh masyarakat. Karena seorang ulama muda yang masih memiliki garis keturunan bersambung ke Nabi Muhammad. Dia merupakan kalangan Alawiyyin.

Sebelum berlabuh di Sunda Kelapa, dia sebenarnya sudah melalukan banyak perjalanan. Yang tujuannya tak lain adalah untuk dakwah Islam. Pengembaraan terus dia lakukan. Tapi bagaimana pun, dia adalah anak yang sangat patuh kepada ibunya. Sebelum berangkat berdakwah, dia terlebih dahulu pamit kepada ibunya.

Suatu hari, ketika masih di Yaman, dia datang kepada ibunya, mengutarakan niatnya mengembara untuk dakwah Islam. Ibunya sangat khawatir dan sedih. Tapi, dia meyakinkan ibunya, “Janganlah takut dan berkecil hati, apapun akan ku hadapi, senantiasa bertakwa kepada Allah, sesungguhnya Dia bersama kita.”

Setelah mendapatkan restu dari ibunya, dia ‘pun berangkat. Awalnya, dia berangkat ke India bersama rombongan para saudagar. Setelah sampai di India, dia langsung menuju kota “Surati” atau yang dikenal sebagai “Gujarat.” Di sana dia berdakwah, tapi tak lama.

Dia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Asia Tenggara. Setelah berlabuh menyeberangi lautan bersama para pesiar dari Gujarat, akhirnya dia sampai di pantai utara kota Jakarta (waktu itu namanya masih Batavia). Di bandar pelabuhan Sunda Kelapa itulah dia pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Nusantara ini.

Selama di kampung Javassche Kwartier, selain sebagai guru agama, dia juga sebagai tokoh masyarakat yang perannya membuat pihak VOC Belanda tak senang. Karena sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan membela hak-hak hidup orang-orang kecil.

Karena sikapnya yang sangat peduli kepada rakyat kecil, suraunya semakin hari semakin penuh. Banyak orang-orang baru yang percaya kepada dia dan ingin belajar Islam. Surau yang dia dirikan ‘pun menjadi pusat pendidikan yang ramai waktu itu.

Karena sering mengadakan kegiatan keagamaan dan banyak orang yang datang, Habib Husein ‘pun dicurigai oleh pihak VOC Belanda. Dia dianggap sebagai provokator politik yang dapat mengancam stabilitas dan kepentingan pemerintahan saat itu. Akhirnya, dia pun bersama para pengikutnya menjadi target operasi penangkapan oleh pihak VOC. Setelah berhasil ditangkap, dia dan pengikutnya dijebloskan ke penjara Glodok.

Di penjara, Habib Husein ditempatkan pada ruang sel yang sangat sempit, terpisah dari para pengikutnya. Tapi, selama di sana, ada kejadian menarik tentangnya. Saat tengah malam, sipir melihat Habib Husein mengimami salat bersama para jemaahnya. Mereka banyak sekali dan berada di ruangan yang luas. Tapi, ketika dilihat ke dalam sel, Habib Husein sedang tidur nyenyak. Seketika itu juga, polisi penjara tersentak. Cerita itu terus menyebar di kalangan pemerintahan VOC. Akhirnya, dengan segala pertimbangan, mereka meminta maaf kepada Habib Husein. Lalu, Habib muda itu dibebaskan.

Selain di penjara, kisah unik lain tentangnya juga pernah terjadi. Suatu malam, Habib Husein kedatangan orang yang berlari-lari seperti sedang ketakutan. Rupanya orang itu adalah tawanan tentara VOC yang hendak dihukum mati. Dia minta tolong kepada Habib Husein. Setelah tentara VOC datang keesokan harinya untuk menangkap orang itu, Habib Husein melindunginya. Dia tak mau orang yang berasal dari Tionghoa itu dihukum mati. Dia ‘pun berkata kepada VOC, “Aku akan melindungi tawanan ini dan aku adalah jaminannya”. Setelah mendengar perkataan Habib Husein yang sangat berkarisma itu, VOC ‘pun pergi. Bagaimana dengan orang Tionghoa itu? Dia akhirnya masuk Islam dan menjadi pengikut Habib Husein (Diktat Sejarah Kampung Luar Batang, oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta/Dinas Museum dan Sejarah, 1982/1983).

Selain kisah di atas, tentu masih banyak jasa-jasa perjuangan Habib Husein selama itu yang dirasakan oleh masyarakat sekitar pelabuhan Sunda Kelapa. Meskipun ruang lingkupnya hanya bagian utara Batavia, dia merupakan sosok ulama yang dikenang sampai sekarang. Makamnya tak pernah sepi dari peziarah.

Dia sendiri wafat pada 24 Juni 1756 di Batavia. Mendengar kabar kematiannya, masyarakat berduyun-duyun untuk menyolatkan jenazahnya. Rencananya, dia akan dikebumikan di Tanah Abang, pemakaman umum yang memang sudah disediakan. Namun, ketika keranda jenazah yang dibawa dari kampung Javassche Kwartier ke Tanah Abang itu sampai di kuburan yang sudah digali, jenazah di dalamnya tidak ada.

Ternyata, diketahui jenazahnya berada di rumahnya. Jenazah itu dibawa lagi ke Tanah Abang, tapi lagi-lagi hilang, lalu ketika dilihat ternyata ada di rumahnya. Itu terus terjadi berulang kali. Sehingga, jenazah itu akhirnya dikuburkan di rumahnya, di Javassche Kwartier itu.

Dari sejak itulah kemudian kampung Javassche Kwartier itu berganti nama menjadi “Kampung Luar Batang”. Di sebut “luar batang” karena merujuk pada kisah jenazah Habib Husein yang keluar keranda (baca: batang). Dan, pada akhirnya, peta geografi Jakarta yang digunakan pada tahun 1904 tak lagi menyebut kampung itu dengan Javassche Kwartier, tapi dengan sebutan baru, yakni Kampoeng Baroe Loear Batang. Lalu, pada peta 1918 menjadi Loear Batang (Popi Puspitasari, Achmad Djunaedi, dkk, Dinamika Pemanfaatan Lahan Kampung Bersejarah “Luar Batang” Jakarta Utara, Forum Teknik Vol.34 No. 1, Januari 2011).

Di tengah gempuran modernisme dan hiruk pikuk duniawi yang glamor di Jakarta, makam Habib Husein sampai sekarang masih bertahan menjadi pusat spiritual kalangan muslim Indonesia.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id