Gus Dur dan Pancasila: Kisah Lucu Muktamar NU 1984
TERBARU , Tokoh 08:36
0
Shares

SejarahRI.com – Ketika Orde Baru (Orba) hendak meluncurkan kebijakan tentang Pancasila yang akan dijadikan sebagai azas tunggal, berbagai respon bermunculan. Terutama dari kalangan Islam.

Banyak individu (tokoh) maupun kelompok (organisasi) yang keberatan atas kebijakan itu. Mereka ada yang menuduh bahwa dengan dijadikannnya sebagai azas tunggal Pancasila akan menyebabkan Islam melemah.

Bahkan yang lebih parah ada yang secara diam-diam memang tak menginginkan Pancasila. Kelompok seperti ini ingin Islam yang dijadikan sebagai azas.

Di tengah hebohnya persoalan itu, NU hadir sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia justru mendukung rencana kebijakan Orba itu. NU tak ingin Pancasila diganti dengan azas apapun.

Karena bila hal tersebut terjadi, akibatnya Indonesia akan bubar. Dari itu, para kyai di dalamnya bersepakat untuk mendeklarasikan bahwa NU mendukung Pancasila sebagai azas tunggal bernegara.

Deklarasi tersebut disampaikan pada Muktamar 1984. Momen ini yang juga menjadi titik awal NU ke Khittah 1926, yakni sebagai organisasi sosial keagamaan (jami’yyah diniyyah ijtima’iyyah) bukan organisasi politik praktis lagi.

Dalam Muktamar tersebut terdapat tiga komisi yang dibentuk. Di antaranya, yakni komisi khittah yang salah satu pembahasan pentingnya adalah tentang hubungan Islam dan Pancasila.

Dalam kesempatan ini terdapat kisah lucu yang jarang diketahui. Yakni, kisah Gus Dur memimpin subkomisi yang tugasnya adalah merumuskan deklarasi hubungan Islam dan Pancasila.

Untuk merumuskan persoalan serumit ini secara hukum logika tentu membutuhkan waktu panjang dan rapat-rapat khusus yang melibatkan banyak ahli. Bagaimana tidak, yang akan dibahas adalah azas bernegara dan hubungannya dengan Islam.

Namun itu tak terjadi di Muktamar NU 1984. NU tak butuh bertele-tele seperti itu. Cukup memanggil Gus Dur, selesai semua perkara.

Setelah ditunjuk sebagai ketua subkomisi itu, cucu Kyai Hasyim Asy’ari ini membentuk tim anggota dari para kyai. Mereka yang dia pilih adalah KH Ahmad Mustofa Bisri dari Rembang, KH Zahrowi, KH Mukafi Makki, Dr KH Hasan dari Medan, dan dr Muhammad dari Surabaya.

Ketika para anggota tersebut sudah berkumpul, Gus Dur membuka rapat. Tanpa banyak bicara, dia langsung bertanya kepada mereka tentang hubungan Islam dan Pancasila.

Mereka menyampaikan pendapatnya masing-masing. Gus Dur dengan tenang hanya menyimak. Dia membiarkan kelima kyai itu mengutarakan pandangannya.

Dalam forum ini, para kyai itu sepakat menyatakan bahwa Islam dan Pancasila tak bertentangan sama sekali. Malah yang ada, keduanya bisa berjalan senapas.

Pandangan ini mereka sertakan argumen teologis. Sehingga, Gus Dur yang sedari tadi diam tak perlu banyak angkat bicara.

Setelah mereka selesai berbicara, Gus Dur bertanya untuk kedua kalinya. Dan ini adalah pertanyaannya yang terakhir. “Bagaimana jika ini saja yang nanti kita sampaikan, kita deklarasikan di hadapan sidang pleno Muktamar?” usul Gus Dur (K.H. Husein Muhammad, Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015).

Karena sudah panjang lebar menjawab dari tadi, mereka tentu tak bisa menolak permintaan itu. Akhirnya kesepakatan bulat ‘pun tercapai. Sebelum beranjak pergi, Gus Dur menutup rapat dengan Al-Fatihah?

Bagaimana peristiwa ini tak ‘kan dianggap lucu. “Rapat untuk sesuatu yang mendasar dan pondasi bagi penataan relasi kehidupan berbangsa dan bernegara hanya diputuskan dalam waktu 10 menit! Sementara komisi yang lain rapat sampai berjam-jam bahkan hingga subuh untuk memutuskan pembahasan sesuai bidangnya masing-masing,” tutur Gus Mus.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id