Gogon Srimulat, Pelawak “Berkumis Hitler”
TERBARU , Tokoh 02:18
0
Shares

SejarahRI.com – Kumis itu sangat khas. Bulu-bulunya hanya bertumpuk di tengah. Sebelah kiri dan kanannya tercukur rapi. Pada tahun 1930-an, kumis seperti ini sempat menjadi “simbol menakutkan” di Jerman.

Karena yang memakainya adalah seorang fasis bernama Adolf Hitler (1889-1945). Pemimpin tertinggi Partai Nazi itu dikenal garang dan tiap kali bicara di depan publik tak pernah senyum sedikitpun. Dialah provokator Perang Dunia II di Eropa.

Namun di Indonesia, kumis semacam itu malah menggambarkan citra sebaliknya. Jangankan dianggap sebagai simbol diktator, ia justru menampakkan sisi humoritas.

Orang-orang menganggapnya, kumis lucu. Karena yang memperkenalkannya adalah Gogon Srimulat. Dia bukan politisi “yang haus darah” seperti Hitler, tapi merupakan salah satu pelawak senior di Tanah Air.

Lelaki pemilik nama asli Margono ini lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 31 Desember 1959. Dia menceburkan diri ke dalam dunia hiburan, yakni pada sekitar tahun 1980-an.

Awalnya, dia tampil sebagai komedian lokal. Kerjaannya keliling desa dari satu panggung ke panggung yang lain.

Karirnya mulai menanjak ketika dia bergabung dengan sebuah komunitas lawak bernama Srimulat. Kelompok ini sendiri didirikan oleh Teguh Slamet Rahardjo pada 1950 di Solo.

Kemudian, Srimulat mendirikan cabang di berbagai daerah seperti Surabaya, Semarang, Jakarta, dan termasuk di tempat kelahiran Gogon, Surakarta. Sebagai komunitas yang memiliki anggota terbanyak kala itu, nama Srimulat kian hari semakin tenar.

Pada tahun 1980-an, banyak stasiun televisi swasta bermunculan. Fenomena ini sangat menguntungkan komunitas Srimulat.

Karena para anggotanya mendapat panggung baru. Mereka tak lagi hanya tampil di panggung keliling. Lebih dari itu, mereka mulai masuk sebagai komedian layar kaca. Termasuk salah satunya yang sangat terkenal adalah Gogon.

Di panggung barunya itu, dia bisa menyajikan performa unik sebagai komedian. Selain rambut jambul dan celana melorotnya, ya “kumis Hitlernya” itu.

Dia kerap mengisi acara lawak di TVRI. Namun dia sempat “tak kuat” menerima kenyataan baru sebagai selebritis, sebuah profesi yang kerap identik dengan dunia “bebas tanpa arah”. Pada tahun 2007, karirnya terhenti lantaran kasus narkoba yang menimpanya.

Setelah keluar dari penjara, dia kembali bangkit. Pada 2013, dia bermain film ‘Finding Srimulat‘ bersama anggota Srimulat lain, yaitu Mamik, Tessy, Kadir, dan Djujuk.

Film ini merupakan garapan Charles Gozali yang mengangkat kisah pasangan muda yang sama-sama punya mimpi di masa depan. Dalam film berdurasi 104 menit itu, Margono berperan sebagai Gogon Srimulat, nama julukan abadi untuknya.

Selain bermain film, dia juga sempat membuat lagu di Youtobe. Judulnya, Bona Boni. Sosoknya memang dikenal lincah dan kreatif.

Lantaran usaha yang serius dalam berkarya, dia dapat memiliki rumah besar dan mewah di Bukur Ireng RT10/ RW02 Desa Bendan Kecamatan Banyudono Pengging Kabupaten Boyolali. Rumah tersebut bercat putih, bagian pagarnya dihias dengan ornamen gaya dan terdapat 27 kamar.

Namun, sejak Selasa 15 Mei 2018, panggung hiburan Tanah Air tak dapat lagi mengundangnya. Karena pada pukul 05.00 WIB, dia meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Kota Bumi, Lampung.

Sebagaimana diwartakan oleh CNN di hari yang sama, sebelum menghembuskan napas terakhir dia sempat manggung dan berpesan, “Hidup tidak pernah bisa ditentukan.

Semua harus siap, dan kalau saya sewaktu-waktu setelah tampil meninggal, teman-teman media tolong dikabari, dan kalian semua yang rukun,” katanya dalam bahasa Jawa.

Perkataannya ini seperti menunjukkan bahwa dia akrab dengan ajal. Di Jawa, pengetahuan semacam ini cukup populer dan dikenal dengan istilah, Sangkan Paraning Dumadi.

Banyak yang yakin, orang yang punya pengetahuan itu akan bisa mengetahui kapan maut akan menghampirinya. Dan, nampaknya itu yang terjadi pada Gogon.

Barangkali memang begitu. Karena ternyata selain sebagai komedian, dia juga ahli sipirtual-mistisisme, terutama terkait pengobatan supranatural.

Dalam ekspresi sosial, Gogon juga punya kewajiban (drama) yang tak kalah seriusnya dengan pekerjaan dokter atau dukun; yaitu mengobati orang sakit karena kasus-kasus magik.” tulis Darminto M. Sudarmo dalam How To Be A Good Comedian: Mau Dong Jadi Pelawak (2006).

Dalam buku ini, selain menyinggung soal itu, Sudarmo juga menggambarkan sosok Gogon dari sudut pandang estetika. Namun dalam bahasan ini, dia sama sekali tak menyinggung bahwa kumis Gogon mirip dengan kumis Hitler.

Dia malah menyandingkan Gogon dengan Charlie Chaplin (1889-1977), pelawak asal Inggris yang sangat membenci Hitler dan sempat “mengejeknya” dalam film The Great Dictator.

Menurut dia, Gogon meniru Chaplin. Sementara, Chaplin sendiri menggunakan kumis seperti itu sebagai bahan ejekan atas Hitler.

Jadi, kalau disimpulkan “evolusinya” kenapa kumis Hitler yang awalnya terkesan garang menjadi lucu tak lepas dari peran Chaplin, yang memang secara politik negerinya (Inggris) kala itu sedang berseteru dengan Jerman di bawah kendali Nazi.

Gaya Chaplin ini kemudian diadopsi oleh Gogon. Dan gara-gara Gogon, citra kumis yang tersebar di Indonesia sejak 1980-an itu menjadi lucu.

Yang awalnya itu “kumis diktator” malah jadi “kumis pelawak”. Dia memang “bukan Gogon pertama, tetapi Chaplin kedua,” tulis Sudarmo.




:087784127323
:redaksi@sejarahri.com
:@SejarahRI
:Sejarah Indonesia
:sejarahri.com
Twitter
Fans Page
Copyright 2016 | SejarahRI.com | All Right Reserved
Powered By Apelijo.id